Berita  

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

BOGOR, mediasumatera.id – Satu decade ensiklik Laudato Si’ merupakan perjalanan yang sangat berarti untuk menatap masa depan Indonesia dan dunia. Gerakan Laudato Si’ Indonesia menuntut perubahan sikap dan perilaku sebagai ‘anggur baru’ melalui pendekatan pastoral kolaboratif, sejalan dengan gagasan ekologi integral yang menjadi spirit utama ensiklik Laudato Si’ (LS).

Demikian salah satupoin yang dibahas dalam panel diskusi Jumat malam (5/9) yang menghadirkan nara sumber Romo Marthen Jenarut, Pr (Sekretaris Komisi Keadilan dan Perdamaian-Pastoral Migran dan Perantau, KWI), Romo Ignatius Ismartono SJ, pakar etika lingkungan Sonny Keraf, dan Romo Ferry Sutrisna Wijaya. Diskusi ini dipandu oleh Koordinator Tim Kerja Nasional Gerakan Laudato Si’ Indonesia (TKN GLSI) Cyprianus Lilik K.P.

Panel diskusi ini merupakan rangkaian dari kegiatan Perayaan Nasional 10 Tahun Laudato Si’ yang diselenggarakan di Padepokan Voli dan Graha Bina Humaniora, Sentul City, Kabupaten Bogor, tanggal 5-7 September.

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta dari 11 Keuskupan, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Manado dan Balikpapan. Sebanyak 35 suster biarawati dari 22 lintas tarekat religious ikut serta dalam gelaran ini; termasuk sejumlah imam diosesan lintas keuskupan juga mengikuti kegiatan ini.

Menciptakan ruang-ruang perjumpaan

Tahun 2024 lalu, gelaran tahunan terjadi di Lampung dan Keuskupan Tanjungkarang menjadi tuan rumahnya. Tahun 2025, gelaran tahunan sekaligus Perayaan Nasional 10 Tahun Ensiklik Laudato Si menjadi tanggung jawab Keuskupan Bogor sebagai tuan rumah dan penyelanggara acara dan kegiatannya. Oleh Keuskupan Bogor, Agustinus Harsono, diserahi tanggungjawab menjadi Ketua Pelaksana.

Menurut Harsono, Penanggung jawab Eco Spirit Center “Puspanita” Ciawi, setiap aksi konservasi lingkungan dan melestarikan alam semesta itu bukan hanya kegiatan memproduksi ecoenzym atau memilah-milah sampah. Lebih dari itu, kata mantan frater Jesuit ini, setiap kegiatan konservasi lingkungan itu selalu menciptakan “ruang-ruang perjumpaan” antar pribadi yang karena semua “sayang” alam semesta, maka menjadi saling kenal dan saling membantu segala upaya untuk merawat bumi – tempat kita berpijak bersama dan dari mana sumber kehidupan kita berasal.

Baca Juga :  Pekanbaru Bersinar! GMDM dan Komunitas Driver Ojek Online Gelar Penyuluhan Bahaya Narkoba

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

Selain pertemuan nasional para animator Laudato Si, kegiatan selama 3 hari itu juga diisi dengan workshop, pameran berbagai produk ramah lingkungan serta bazaar UMKM.

Gerakan Laudato Si’ Indonesia (GLSI) sendiri merupakan gerakan dan jaringan global yang terinspirasi oleh ensiklik Laudato Si’ yang dikeluarkan oleh mendiang Paus Fransiskus tahun 2025, sebuah dokumen yang menyerukan kepedulian terhadap lingkungan dan keadilan iklim. Gerakan Laudato Si’ Indonesia mendorong adanya pertobatan ekologis dan perubahan gaya hidup, menginspirasi dan mengaktifkan komunitas-komunitas untuk merawat bumi, rumah kita bersama, untuk mencapai ‘keadilan iklim dan ekologis’ (climate and ecological justice).

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

Romo Ismartono dalam kotbah Misa Pembukaan mengatakan Gerakan Laudato Si’ Indonesia merupakan ‘anggur baru’ di tengah krisis iklim yang terjadi saat ini, yang menuntut perubahan sikap dan prilaku. Pola-pola dan kebiasaaan lama yang eksploitatif sudah tidak relevan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup dan kehidupan itu sendiri.

“Gerakan Laudato Si’ Indonesia itu adalah anggur baru yang akan hilang bila dimasukkan dalam kantong lama, kebiasaan lama, atau program lingkungan hidup yang lama, kegiatan ekonomi eksploitatif,” ujarnya.

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

Ditegaskan, perlunya menyiapkan struktur sosial dan budaya sehingga menjadi pola perilaku yang berpihak pada bumi dan kehidupan. Untuk itu, perlu diikuti dengan pertobatan yang melibatkan tanggung jawab pada generasi mendatang.

“Pertobatan harus menjadi budaya baru agar terjadi keadilan antar generasi dan tidak mewarisi bumi yang rusak,” ujarnya.

Hal senada juga ditekankan oleh Dr. Sonny Keraf (mantan menteri Lingkungan Hidup) dan Romo Marthen Jenarut (Sekretaris Eksekutif KKP PMP KWI). Gerakan Laudato Si’ Indonesia berupaya menyadarkan kita bahwa lingkungan hidup terkoneksi dengan aspek kehidupan manusia. Untuk itu, gerakan komunitas ini (GLSI) tidak hanya terbatas pada aksi lingkungan tetapi juga pada aksi kemanusiaan seperti memperhatikan kalangan miskin, kelompok rentan, kaum perempuan yang paling potensial atau rentan akibat krisis lingkungan.

Baca Juga :  SETIA MENGIKUTI DAN MELAYANI TUHAN, IBADAH MINGGU 2 SET TRINITATIS GKPI JK IMMANUEL BERLANGSUNG PENUH HIKMAT DI TENGAH RENOVASI GEREJA

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

Sonny mempertegas bahwa krisis dan bencana ekologis adalah ancaman nyata pada kelangsungan bumi dan kehidupannya. Solusi yang paling mendasar harus dimulai dari perubahan perilaku dan pola hidup yang didasari sebuah etika baru yang lebih memuliakan bumi dan kehidupannya.

“Karena itu Gereja dan semua agama harus bicara tentang krisis ekologis sebagai krisis bumi. Menyelamatkan kehidupan artinya menyelamatkan bumi dengan segala isinya,” ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup ini.

Pastoral Kolaboratif
Marthen Jenarut yang mewakili Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) memberi apresiasi atas GLSI yang berupaya mewujudkan gagasan ekologi integral, yang menjadi dasar spirit Laudato Si’. Dalam momentum perayaan 10 Tahun GLSI ini diperlukan upaya memperluas aktivitas nyata sebagai gerakan bersama seluruh umat manusia melalui pendekatan Pastoral Kolaboratif.

“Sebagai lembaga koordinatif, KWI punya tugas memfasilitasi dan mengarahkan keuskupan-keuskupan agar semangat Laudato Si’ itu mewarnai sekaligus menjadi identitas dari manajemen pastoral di tingkat keuskupan,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa Gereja Katolik sangat berharap agar komunitas GLSI terus bergerak menuju sebuah aksi perubahan ekologi. GLSI yang diinspirasi dari nilai-nilai etis moral lingkungan hidup harus menjadi gerakan semua orang lintas suku, agama, dan golongan.

10 Tahun Laudato Si : Pastoral Kolaboratif yang Berpihak pada Bumi dan Kehidupan Manusia

Dalam kesempatan tersebut juga dibahas bahwa selain membangun kesadaran dan aksi-aksi ekologis, upaya mempengaruhi kebijakan publik juga sangat diperlukan. Demikian juga tetap melakukan aksi dan advokasi yang membangun kesadaran kritis masyarakat.

Sementara itu, Romo Ferry, yang berkarya di Keuskupan Bandung dan juga seorang penggerak GLSI melalui pendirian Eco Camp di Bandung, meminta agar jumlah animator LS perlu terus ditingkatkan agar gerakan ini memiliki dampak yang nyata dalam mendorong perubahan sikap umat. Idealnya, kata Romo Ferry, jumlah animator LS mencapai 3 persen dari jumlah umat Katolik di Indonesia yang kini mencapai sekitar 12,5 juta penduduk. Saat ini, jumlah animator mencapai sekitar 300 orang dari berbagai wilayah Indonesia. Jumlah ini tentu masih jauh dari angka ideal.

Baca Juga :  PMPHI Sumut: Prabowo Harus Menunjukkan Jati Diri Sebagai Perekat Bangsa

C. Lilik K.P. menyampaikan bahwa pihaknya melakukan kursus animator setiap tahun selama tiga bulan. Jumlah peserta yang mengikuti kursus ini terus bertambah. Kursus animator LS adalah pelatihan online yang dirancang untuk melatih dan menginspirasi umat di berbagai belahan dunia tentang aspek ekologi integral. Program ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang krisis ekologi dan peran gereja dalam merawat ciptaan Tuhan; mengembangan kesadaran ekologis dan mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan; dan melatih peserta untuk menjadi penggerakan peduli lingkungan di dalam komunitas mereka sesuai spirit Laudato si’.

Di hari ketiga saat digelar lokakarya, ikut tampil sejumlah nara sumber pelaku kreatif yang menciptakan aneka produk ramah lingkungan.

Buka almari

Ikut tampil di forum ini adalah model dan peragawati Olga Lydia yang mensyeringkan pengalaman pribadinya yang selalu tertantang untuk mengambil sikap “uga hari” dalam menyimpan aneka baju dan bawahan. ‘

“Manakala merasa sudah cukup banyak, maka semua barang yang masih dalam kategori bagus itu saya keluarkan untuk kemudian membuka forum ‘garage sale’ agar semua orang bias membelinya dengan harga sangat murah; kurang lebih hanya Rp 5.000,00 saja. Hasil dari kegiatan ‘Buka Almari” ini lalu kemudian bias diberikan kepada asisten rumah tangga di rumah atau tukang sampah yang biasa berkeliling di sekitaran rumah,” papar Olga Lydia.(*)