TUGUMULYO, mediasumatera.id – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia memberikan dukungan nyata kepada Gereja Katolik melalui penyerahan bantuan alat-alat misa kepada delapan imam yang baru ditahbiskan. Penyerahan simbolis ini dilaksanakan bertepatan dengan Misa Tahbisan Imam dan Diakon di Gereja Santa Maria Bunda Allah, Tugumulyo, Musi Rawas, Rabu,( 27/8/2025).

Acara tahbisan imam ini dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, yang menahbiskan delapan imam dan dua diakon baru. Para imam baru tersebut adalah Pastor Isidorus Bryan Bowo Pangestu, SCJ; Pastor Gregorius Virdiawan Mubin, SCJ; Pastor Albertus Frans Yoseph Kriswantoko, SCJ; Pastor Cornelius Maruti Widyan Raswata, SCJ; Pastor Andreas Suko Ari Wasono, SCJ; Pastor Daniel Depan Pratama, Pr; Pastor Stanislaus Kostka Bima Dwi Atmaja, Pr; dan Pastor Agustinus Dwi Handono, SCJ. Sementara itu, dua diakon yang ditahbiskan adalah Diakon Fransiskus Dedy Saputra, SCJ dan Diakon Alexander Bayu Putra Pratama, SCJ.
Acara tahbisan ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Muspida Musi Rawas, Uskup Emiritus Mgr Aloysius Sudarso,SCJ, RD Yohanes Kristianto (Vikjen), Kuria, Pastor Superior Provinsialis SCJ Indonesia, Pastor Ketua Unio KAPal, serta para pastor, diakon, frater, bruder, suster, ketua DPP, dan umat Keuskupan Agung Palembang.

Penyerahan bantuan alat misa secara simbolis dilakukan oleh Aloysius Harmadi, Pembimas Katolik Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan. Dalam sambutannya, Harmadi menyampaikan permohonan maaf atas penundaan penyaluran bantuan pemerintah untuk masyarakat Katolik yang sebelumnya telah ditandatangani melalui MoU. Penundaan ini terjadi karena adanya penghematan anggaran secara nasional.
“Kami percaya bahwa rahmat tahbisan ini akan semakin mengobarkan semangat pelayanan Imam dan Diakon kepada Allah, Gereja, dan Masyarakat,” ujar Harmadi.
Beliau juga menekankan pentingnya layanan keagamaan yang berdampak positif, di mana semakin dekat umat beragama dengan agamanya, semakin damai, aman, dan sejahtera kehidupan mereka.

Harmadi juga menyoroti lima nilai utama dalam Kurikulum Cinta, yaitu cinta kepada Tuhan, diri dan sesama, ilmu pengetahuan, lingkungan, serta bangsa dan negara. Selain itu, Harmadi turut memperkenalkan konsep Ekoteologi, sebuah pendekatan teologis yang mengkaji hubungan antara agama dan lingkungan. Ia menjelaskan bahwa Ekoteologi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan mengakui bahwa kerusakan lingkungan berdampak negatif pada seluruh ciptaan.
“Bimas Katolik Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan siap bekerja sama dengan para imam dan diakon, baik yang baru maupun yang lama, untuk secara sinodal melayani umat dari sisi Gereja Katolik dan melayani masyarakat dari sisi Negara Republik Indonesia,” tutup Harmadi.(daris)







