MENDENGAR FIRMAN DAN MELAKUKAN FIRMAN

MENDENGAR FIRMAN DAN MELAKUKAN FIRMAN

“RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP”

Sabtu, 07 Maret 2026

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya damai, sukacita, dan pengharapan dari-Nya menyertai langkah hidup kita hari ini. Kita percaya: kita tidak pernah berjalan sendiri. Tuhan menyertai, menuntun, dan bekerja dalam setiap musim kehidupan kita. Bahkan ketika jalan terasa gelap, Tuhan sedang menyiapkan terang. Ketika kita lemah, Tuhan sedang menguatkan. Kita adalah orang-orang yang sangat dikasihi dan diingat oleh Tuhan.

Bagaimana kabar Saudara/i hari ini? Kiranya Saudara/i berada dalam kesehatan jasmani dan rohani, hati yang damai, serta sukacita yang melimpah. Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th., sebagai penguatan iman bagi kita semua.

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22)

Sebuah video tentang orang Yahudi mengatakan bahwa orang Yahudi tidak pernah tersenyum ketika difoto, melainkan tampil dengan wajah serius. Bukan karena mereka menjalani hidup yang penuh kepahitan, melainkan, demikian dikatakan di video itu, bahwa sebuah foto dimaksudkan merekam seseorang sebagaimana adanya, bukan penampilan yang tidak riil, melainkan harus yang apa adanya; bukan hendak memberi kesan seolah-olah tidak ada yang dipikirkan atau tidak ada problem.

Hal di atas mungkin dapat kita perdebatkan tetapi memang pentinglah tampil secara otentik, asli dan tidak dibuat-buat.

Surat Yakobus tidak sabar terhadap mereka yang mendengar firman tetapi tidak melakukannya (Yak. 1:22-25), dan terhadap mereka yang mengaku memiliki iman tetapi tidak menghidupinya (Yak. 2:14-26). Orang percaya yang sehat menunjukkan perilaku yang sejalan dengan kebenaran Injil (bdk. Gal. 2:14).

Baca Juga :  Ketika Kita Manusia Tersesat Jalan

Supaya iman menjadi nyata maka iman itu harus diterjemahkan kepada perbuatan-perbuatan. Tidak mencukupi hanya menjadi “pendengar Firman” (a hearer of the word) saja, melainkan harus menjadi pelaku Firman (a “doer” of the word) juga. Jikalau tidak, iman itu hanya tipuan saja (ay. 22). Yakobus setuju kepada pandangan moral kuno bahwa kebenaran teoretis tidak mempunyai banyak arti jikalau hidup seseorang tidak bersesuaian dengan pandangan atau gagasan dalam teori itu (1 Kor. 13:12).

Yakobus menganjurkan iman yang hidup dan kasih yang praktis. Perhatiannya adalah pada perilaku, tindakan sehari-hari. Rasul Yakobus tidak sabar dengan kata-kata halus atau iman yang hanya bersifat pengakuan (statement of faith) yang tidak ke mana-mana (Yak. 1:22-25). Di atas segalanya, keyakinan yang tidak diungkapkan dalam cinta adalah sandiwara, kepura-puraan saja.

Selamat berakhir pekan. Tuhan memberkati.

Renungan:
Tentu adalah berharga dan merupakan langkah yang mendasar dan tepat jikalau kita mendengar Firman dan merenungkannya senantiasa. Tetapi sungguh jelas dalam pemahaman Kristen bahwa mendengar saja, atau ibadah dan ritual saja tidak memadai. Tidak mencukupi hanya menjadi “pendengar Firman,” melainkan harus menjadi pelaku Firman juga. Tekanan dalam iman kita adalah Mendengar Firman dan Melakukan Firman.

Lagu:
PKJ No. 264:1,2
“Apalah Arti Ibadahmu”

Doa:
Bimbing kami ya Tuhan dengan Firman-Mu senantiasa agar kami merenungkannya dengan kuat dan mengerjakannya sebagai iman kami. Amin.

Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.

Amin.

(VIP)