Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja: Sosok Dermawan yang Selalu Disambut Ratusan Warga di Tano Ponggol Di Masanya

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja: Sosok Dermawan yang Selalu Disambut Ratusan Warga di Tano Ponggol Di Masanya

Pangururan, mediasumatera.id – Nama Somuntul Bunga Jalan Pasaribu, atau yang lebih dikenal dengan gelar Tuan Sariburaja, tak pernah lekang oleh waktu di ingatan masyarakat Pangururan, (sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Samosir)

Lahir sekitar awal tahun 1900-an, tokoh ini bukan sekadar pengusaha sukses, melainkan Perintis Kemerdekaan yang dicintai rakyatnya, beristrikan Tamelan boru Sitangkaraen

Perjalanan Pulang yang Selalu Dirindukan
Pada masa itu, akses ke Pangururan sebagian besar dilakukan melalui jalur air. Setiap kali Sariburaja pulang kampung, kapal yang ditumpangi pasti merapat di dermaga Tano Ponggol. Dari dermaga hingga menuju kediamannya di Jalan Tanah Lapang Pangururan, jalan saat itu masih berupa hamparan tanah lapang yang luas.
berdasarkan cerita turun-temurun warga menyebutkan: sepanjang jalan tersebut sudah berjejer warga dari berbagai dusun untuk menyambut kedatangannya.

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja: Sosok Dermawan yang Selalu Disambut Ratusan Warga di Tano Ponggol Di Masanya Suasana begitu hangat dan meriah. Tak sekadar bersalaman, beliau dikenal sangat dermawan—satu per satu warga yang menyapa diserahkan uang, tanda kasih sayang dan perhatiannya terhadap sesama.

Perkiraan Jumlah Warga Penyambut
Karena peristiwa ini berlangsung puluhan tahun lalu dan hanya terekam dalam ingatan warga, tidak ada catatan resmi angka pastinya. Namun berdasarkan luas jalur dari Tano Ponggol hingga pusat pemukiman serta partisipasi warga saat itu:
• Diperkirakan berkisar antara 100 hingga lebih dari 500 orang yang hadir berjejer di sepanjang jalan.
• Jumlah ini bisa bertambah besar saat momen hari raya atau acara adat, bahkan mencapai ribuan orang dari berbagai pelosok Pangururan yang datang untuk menyambutnya.

Jejak dan Jasa yang Tak Terlupakan
Tuan Sariburaja adalah pelopor transportasi darat di Samosir—beliau orang pertama yang mendirikan perusahaan angkutan bus jarak jauh, sekaligus memiliki kilang padi. Beliau juga aktif dalam pergerakan nasional sebagai pengurus Partai Nasional Indonesia (PNI), dan pernah menyambut langsung Presiden Soekarno saat berkunjung ke Tapanuli Utara pada tahun 1950-an.
Sosoknya yang rendah hati, sukses namun tak lupa asal-usul, serta gemar berbagi membuat namanya hidup abadi. Istrinya adalah Tamelan boru Naibaho Sitangkaraen, dimakamkan di areal pemakaman umum belakang HKBP Pangururan Gereja Bolon, Pangururan.
Hingga kini, cerita tentang dermawannya Tuan Sariburaja dan keramaian penyambutan di Tano Ponggol tetap diwariskan sebagai teladan tentang arti kesuksesan yang dibarengi dengan kasih kepada sesama.
Biografi Singkat
Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja (1916–1986)

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja: Sosok Dermawan yang Selalu Disambut Ratusan Warga di Tano Ponggol Di Masanya

Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia Asal Samosir

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu, yang dikenal masyarakat dengan gelar adat Tuan Sariburaja, lahir di Pangururan, Pulau Samosir, pada 4 Mei 1916. Beliau hidup pada masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan pengakuan pemerintah, beliau dianugerahi status sebagai Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, dan makamnya ditetapkan sebagai Makam Perintis Kemerdekaan RI di belakang HKBP Bolon Pangururan, Kabupaten Samosir.

Masa Muda

Sejak muda, Somuntul Bunga Jalan Pasaribu dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras, berjiwa kepemimpinan, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat. Pada masa penjajahan Jepang, menurut kesaksian keluarga, beliau beberapa kali mengalami penahanan karena keberaniannya membela kepentingan bangsa Indonesia. Kesaksian ini menggambarkan bahwa semangat nasionalisme telah tumbuh dalam dirinya jauh sebelum Indonesia merdeka.

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja: Sosok Dermawan yang Selalu Disambut Ratusan Warga di Tano Ponggol Di Masanya

Pengusaha dan Tokoh Masyarakat

Sesudah kemerdekaan, beliau menjadi salah seorang pelopor dunia usaha di Pangururan. Beliau dikenal sebagai:

perintis usaha angkutan bus di kawasan Samosir,
pemilik kilang padi yang membantu perekonomian masyarakat,
tokoh masyarakat yang dihormati karena kepemimpinan dan pengabdiannya.

Keberhasilan beliau sebagai pengusaha tidak hanya memberikan manfaat bagi keluarganya, tetapi juga membuka akses transportasi dan memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat Pangururan.

Kiprah Politik

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu aktif sebagai pengurus Partai Nasional Indonesia (PNI). Ketika Presiden Ir. Soekarno melakukan kunjungan ke wilayah Tapanuli pada sekitar dekade 1950-an, beliau termasuk tokoh yang ikut menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia tersebut. Hal ini menunjukkan keterlibatannya dalam kehidupan politik dan kebangsaan setelah Indonesia merdeka.

Kehidupan Keluarga

Beliau menikah dengan Tamelan boru Naibaho (Sitakkaraen). Dari keluarga ini lahir putri-putri yang kemudian menjadi bagian dari keluarga-keluarga besar Batak, putri bungsunya Maria Magdalena boru Pasaribu, yang menikah dengan Raja Patuan Sori Sinambela, keturunan Raja Sisingamangaraja XII.

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja: Sosok Dermawan yang Selalu Disambut Ratusan Warga di Tano Ponggol Di Masanya

Wafat dan Warisan

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu wafat pada 11 Mei 1986 dalam usia 70 tahun. Beliau dimakamkan berdampingan dengan istrinya di kompleks pemakaman belakang HKBP Pangururan Gereja Bolon.

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, kompleks makam tersebut kemudian dibangun dan diberi penanda sebagai Makam Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Departemen Sosial pada sekitar tahun 1996–1997.

Warisan Keteladanan

Nama Somuntul Bunga Jalan Pasaribu dikenang sebagai tokoh yang memadukan semangat perjuangan, jiwa kewirausahaan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat. Sosoknya menjadi teladan bahwa perjuangan bagi bangsa tidak hanya dilakukan di medan perang, tetapi juga melalui pembangunan ekonomi, pelayanan kepada masyarakat, dan pembinaan kehidupan berbangsa (red)