DARI AKSI PROTES AGUSTUS 2025 MENUJU TEORI KERUSUHAN SOSIAL BARU ERA KAPITALISME ALGORITMA – Sebuah Review Buku

DARI AKSI PROTES AGUSTUS 2025 MENUJU TEORI KERUSUHAN SOSIAL BARU ERA KAPITALISME ALGORITMA - Sebuah Review Buku

mediasumatera.id – Pada malam 28 Agustus 2025, seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Affan Kurniawan tidak pulang seperti biasanya. Ia seorang pengemudi ojek online.

Di tengah kericuhan Jakarta, tubuhnya terlindas kendaraan taktis Brimob Polda Metro Jaya di kawasan Pejompongan. Rekaman tragedi itu segera menyebar luas.

Tetapi yang disaksikan masyarakat ternyata bukan hanya Affan. Banyak orang melihat kerentanan sendiri, kemarahan sendiri, dan ketidakpastian hidup mereka sendiri.

Lalu sebuah pertanyaan lama kembali mengetuk pintu sejarah: mengapa kematian satu manusia, pada waktu tertentu, dapat ikut mengguncang sebuah negara?

—o0o—

Saya menulis buku Kerusuhan Agustus 2025 dan Lahirnya Teori Kerusuhan Era Digital bukan sebagai kata akhir, melainkan sebagai awal agenda riset panjang.

Saya melihatnya sebagai eksperimen intelektual: sebuah peristiwa Indonesia menjadi laboratorium awal untuk memahami masyarakat ketika kapitalisme semakin diperantarai algoritma.

Judulnya berbicara mengenai kerusuhan. Namun pusat gravitasinya lebih luas: hubungan baru antara manusia, pekerjaan, teknologi, kemarahan, kekuasaan, dan negara.

Pertanyaan besarnya sederhana tetapi mengusik: apakah teori kerusuhan abad sebelumnya masih cukup dan memadai ketika struktur masyarakat telah berubah begitu mendasar?

—o0o—

TIGA TEORI BESAR SEBELUM ERA ALGORITMA

Sebelum memberi nama kepada sesuatu yang baru, kita perlu menghormati bahasa lama yang selama puluhan tahun membantu ilmu sosial memahami pergolakan manusia.

Teori tidak otomatis menjadi salah ketika dunia berubah. Ia menyerupai peta lama yang tetap berguna, selama jalan utama kota belum bergeser.

Studi pemberontakan dan gerakan sosial sangat dipengaruhi tiga keluarga teori: Relative Deprivation, Resource Mobilization, dan kemudian Networked Protest.

Yang pertama menjelaskan mengapa manusia marah. Yang kedua bagaimana kemarahan diorganisasi. Yang ketiga bagaimana kemarahan menyebar melalui jaringan.

1. Relative Deprivation: Ketika Harapan Dikhianati Kenyataan

Ted Robert Gurr melalui Why Men Rebel pada 1970 mengubah cara satu generasi memahami hubungan antara frustrasi sosial dan pemberontakan politik.

Manusia tidak memberontak hanya karena miskin. Kemarahan tumbuh ketika terdapat jurang menyakitkan antara kehidupan yang diharapkan dan kenyataan yang diperoleh.

Harapan dapat meningkat bersama pendidikan, konsumsi, dan informasi. Ketika peluang tertinggal, jarak antara aspirasi dan realitas dapat melahirkan frustrasi kolektif.

Pemberontakan sering bermula bukan dari perut kosong, melainkan dari harapan yang merasa dikhianati kenyataan.

Namun teori itu lahir sebelum internet dan manajemen algoritmik. Ia menjelaskan luka, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan kecepatannya berubah menjadi mobilisasi nasional.

2. Resource Mobilization: Ketika Kemarahan Membutuhkan Organisasi

John McCarthy, Mayer Zald, dan Charles Tilly memperkenalkan koreksi penting: kemarahan luas tidak dengan sendirinya melahirkan sebuah gerakan politik.

Gerakan membutuhkan organisasi, pemimpin, jaringan, komunikasi, strategi, legitimasi, serta kemampuan mengubah ketidakpuasan menjadi tindakan kolektif yang bertahan.

Kerangka ini kuat menjelaskan gerakan buruh, hak sipil, anti-apartheid, dan berbagai mobilisasi politik sepanjang sebagian besar abad kedua puluh.

Tetapi arsitektur mobilisasi berubah. Kini massa dapat bergerak tanpa kantor pusat, bendahara, keanggotaan formal, bahkan tanpa satu pemimpin yang sepenuhnya jelas.

Video dapat menjadi sumber daya. Tagar menjadi koordinasi. Platform menjadi ruang pertemuan. Algoritma mendistribusikan perhatian tanpa pernah menghadiri rapat organisasi.

3. Networked Protest: Ketika Jaringan Menggantikan Komando

Manuel Castells dan Zeynep Tufekci membawa studi gerakan sosial memasuki dunia internet, jejaring digital, dan mobilisasi tanpa hierarki tradisional.

Mereka menunjukkan bagaimana individu yang tercerai dapat membangun solidaritas, identitas, dan koordinasi tanpa organisasi formal yang sebelumnya dianggap mutlak.

Arab Spring, Occupy Wall Street, Hong Kong, dan Black Lives Matter sulit dipahami tanpa melihat kekuatan jaringan digital yang menghubungkan emosi serta tindakan.

Tetapi pertanyaan tetap mengganggu: mengapa dari jutaan video viral, hanya sedikit yang sanggup berubah menjadi peristiwa politik bersejarah?

Networked Protest menjelaskan bagaimana kemarahan menyebar. Tetapi kita masih membutuhkan penjelasan mengenai siapa yang terluka, mengapa mereka terluka, dan mengapa sekarang.

—o0o—

KETIKA DUNIA SOSIAL BERUBAH

Persoalannya bukan teori lama keliru. Justru keberhasilan teori lama membantu kita melihat dengan lebih tajam bagian dunia yang telah berubah.

Dulu pabrik menjadi pusat kehidupan ekonomi, organisasi pusat mobilisasi, dan media perantara utama antara peristiwa dan kesadaran masyarakat.

Kini telepon genggam sekaligus menjadi kantor, pasar, sumber penghasilan, ruang politik, pembentuk identitas, alat mobilisasi, dan distributor emosi kolektif.

Pekerjaan, komunikasi, konsumsi, solidaritas, kemarahan, bahkan reputasi kini berlangsung di dalam ekosistem digital yang sama dan terus menyala.

Di sinilah saya memakai istilah kapitalisme algoritma: fase ketika algoritma semakin menentukan kesempatan ekonomi, visibilitas, akses, harga, rating, dan prioritas.

Hubungan kerja semakin dimediasi platform. Pekerja tidak selalu berhadapan langsung dengan majikan manusia yang dapat dinegosiasikan secara konvensional.

Manusia dinilai melalui skor, ranking, rating, dan data. Penilaian itu kemudian ikut menentukan peluang ekonomi berikutnya.

Aturan permainan dapat berubah melalui keputusan platform, sementara mereka yang kehidupannya bergantung kepada sistem tersebut sering memiliki posisi tawar terbatas.

Kapitalisme algoritma bukan sinonim ekonomi digital atau surveillance capitalism. Ia menunjuk semakin besarnya otoritas algoritma dalam mengatur kesempatan hidup manusia.

Karena itu teori baru diperlukan bukan untuk membuang peta lama, melainkan memperbaruinya setelah sebagian jalan, jembatan, dan pusat kota berubah.

—o0o—

TEORI KERUSUHAN BARU ERA KAPITALISME ALGORITMA

Saya merumuskan kerangka ini dari satu perubahan mendasar: kerusuhan abad ke-21 tidak cukup dipahami hanya melalui kemiskinan, organisasi, atau komunikasi digital.

Ia dapat menjadi reaksi berantai ketika keresahan ekonomi, kelas rentan digital, algoritma, simbol emosional, provokasi, dan keretakan legitimasi bertemu dalam momentum sama.

Lima variabelnya ialah Economic Grievance, Digitally Vulnerable Class, Social Media Amplification, Trigger and Provocation, serta Broken Social Contract.

Dalam penyederhanaan komunikasi, rumusnya dapat ditulis: DR = EG + DVC + SMA + TP + BSC.

Artinya, Digital Riot (DR) dipengaruhi oleh Economic Grievance (EG), Digitally Vulnerable Class (DVC), Social Media Amplification (SMA), Trigger and Provocation (TP), serta Broken Social Contract (BSC).

Rumus ini bersifat ilustratif, bukan persamaan matematis. Secara teoritis, hubungannya lebih tepat dipahami sebagai fungsi interaksi antarfaktor, bukan sebagai hubungan linear yang selalu bekerja dengan kekuatan sama.

Kebaruan teori ini bukan karena kelima fenomenanya sama sekali belum pernah dibahas dalam literatur ilmu sosial sebelumnya.

Kebaruannya terletak pada hipotesis bahwa kapitalisme algoritma menghubungkannya dalam mekanisme kausal dengan kecepatan, intensitas, dan resonansi sosial yang berbeda.

1. Economic Grievance: Bahan Bakar Struktural

Kerusuhan sering dimulai jauh sebelum demonstran pertama turun ke jalan. Ia tumbuh bersama tekanan hidup, ketidakpastian pekerjaan, ketimpangan, dan pesimisme masa depan.

Economic Grievance bukan sinonim kemiskinan. Seseorang dapat tetap bekerja, tetapi kehilangan keyakinan bahwa kerja keras akan membuat hidupnya semakin aman.

Kesulitan ekonomi berubah menjadi persoalan politik ketika seseorang merasa penderitaannya bukan sekadar nasib pribadi, melainkan bagian dari ketidakadilan sistemik.

Karena itu variabel ini harus diuji melalui pendapatan, pekerjaan, biaya hidup, ketimpangan, optimisme ekonomi, serta persepsi ketidakadilan sebelum kerusuhan.

2. Digitally Vulnerable Class (DVC): Tubuh Sosial Baru

Keresahan membutuhkan tubuh sosial. Saya menyebut sebagai Digitally Vulnerable Class (DVC), kelompok yang hidup dekat jantung ekonomi algoritmik.

Mereka bekerja, tetapi tidak sepenuhnya mengendalikan pekerjaan. Order, rating, visibilitas, harga, insentif, bahkan peluang pendapatan dapat berubah mengikuti keputusan platform.

Yang membedakan DVC bukan penggunaan teknologi digital, melainkan ketergantungan ekonomi tinggi kepada keputusan algoritmik yang tidak sepenuhnya dapat mereka negosiasikan.

Mereka tidak selalu miskin. Justru paradoksnya, mereka sepenuhnya modern dan terkoneksi, tetapi ketidakpastian ekonomi dapat tiba melalui sebuah layar kecil.

Fairwork Indonesia Ratings 2023 memperkirakan sekitar 2,5 juta pekerja platform, setara kira-kira 1,8 persen angkatan kerja Indonesia periode tersebut.

Buku ini juga mengutip estimasi pekerja gig yang meningkat dari sekitar 2,2 juta pada 2019 menjadi sekitar 4,3 juta pada 2024.

DVC bukan sekadar precariat, buruh rentan, dengan telepon pintar. Ia menunjuk kerentanan ketika algoritma ikut menjadi perantara penting antara manusia dan nafkahnya.

3. Social Media Amplification: Mesin Akselerasi

Media sosial bukan pencipta utama luka sosial. Namun ia memungkinkan satu luka dengan cepat menemukan ribuan atau bahkan jutaan luka serupa.

Algoritma mengulangi konten yang menarik perhatian, mempertemukan emosi, lalu melahirkan kesadaran psikologis penting: ternyata penderitaan saya bukan milik saya sendiri.

Di sini emosi individual dapat berubah menjadi kesadaran kolektif. Teknologi bukan hanya saluran komunikasi, tetapi bagian dari arsitektur penyebaran kemarahan.

Variabel ini dapat diuji melalui kecepatan viralitas, volume percakapan, pola penyebaran, engagement, jaringan akun, serta perubahan sentimen selama eskalasi.

4. Trigger and Provocation: Percikan dan Eskalasi

Bara tidak otomatis menjadi kebakaran. Ia membutuhkan peristiwa yang memadatkan berbagai keresahan abstrak menjadi simbol moral yang mudah dipahami publik.

Trigger dapat berupa kematian, kekerasan, penghinaan, kebijakan kontroversial, atau kejadian lain yang membuat ketidakadilan memperoleh wajah konkret.

Saya memakai kata provocation secara terbatas: tindakan, rumor, manipulasi, narasi, atau respons yang terbukti memperbesar eskalasi sesudah trigger terjadi.

Pembedaan ini penting. Trigger adalah pemantik, sedangkan provokasi merupakan mekanisme eskalasi yang harus dibuktikan empiris, bukan diasumsikan sejak awal.

5. Broken Social Contract: Hilangnya Daya Redam

Variabel terakhir bekerja pada lapisan terdalam: legitimasi. Ia menentukan apakah masyarakat masih bersedia memberi waktu kepada institusi untuk menyelesaikan krisis.

Ketika kepercayaan tinggi, masyarakat cenderung menunggu penyelidikan. Ketika rendah, penjelasan resmi mudah dicurigai dan keterlambatan dianggap sebagai ketidakpedulian.

Negara mungkin tetap mempunyai aparat, hukum, anggaran, dan kewenangan. Tetapi ia mulai kehilangan sesuatu yang lebih halus: kredibilitas moral.

Variabel ini perlu diuji melalui kepercayaan institusional, persepsi keadilan, kepuasan publik, legitimasi pemerintah, serta respons masyarakat terhadap penjelasan resmi.

—o0o—

KETIKA LIMA VARIABEL BERTEMU

Di sinilah pusat teori ini. Lima variabel bukan kotak terpisah, tetapi mata rantai yang dapat saling mengaktifkan, mempercepat, dan memperbesar.

Economic Grievance menyediakan bahan bakar. DVC menyediakan tubuh sosial. Media sosial memberi kecepatan. Trigger memberi percikan. Ketidakpercayaan melemahkan pemadaman.

Secara teoritis, yang penting adalah interaction effect dan kemungkinan threshold effect, titik ketika tekanan yang tersebar berubah menjadi eskalasi kolektif.

Keresahan membuat simbol lebih mudah beresonansi. Algoritma memperbesar perhatian. Ketidakpercayaan melemahkan klarifikasi. Energi digital kemudian kembali menuju ruang fisik.

-000-

Namun teori serius harus menjawab pertanyaan tandingan: kapan grievance tinggi tidak menghasilkan kerusuhan, dan kapan video viral berhenti sebagai perhatian sementara?

Pertanyaan itulah yang membuat teori dapat diuji. Ilmu tidak cukup menjelaskan mengapa sesuatu terjadi setelah semua peristiwa selesai berlangsung.

Sanggahan paling serius mungkin sederhana: bukankah grievance sudah dijelaskan Gurr, mobilisasi oleh Tilly, jaringan digital oleh Castells dan Tufekci, serta ketidakpastian kelas oleh Standing?

Apakah lima variabel ini hanya memberi nama baru kepada pengetahuan lama? Keberatan itu sah.

Jawaban saya: kebaruan tidak harus berarti setiap komponennya belum pernah dikenal. Kebaruan dapat lahir dari mekanisme hubungan baru antarkomponen.

Hipotesis teori ini justru berada di sana: kapitalisme algoritma mempertemukan kerentanan ekonomi, ketergantungan digital, amplifikasi emosi, trigger, dan krisis legitimasi dalam satu sistem umpan balik yang lebih cepat.

Jika mekanisme itu tidak terbukti, teori ini memang harus ditinggalkan.

—o0o—

AGUSTUS 2025 SEBAGAI LABORATORIUM AWAL

Kerusuhan Agustus 2025 dapat dibaca sebagai reaksi berantai, bukan ledakan yang tiba-tiba muncul dari kehampaan pada sebuah malam.

Kelima variabel memainkan fungsi berbeda: grievance menjadi kondisi struktural, DVC kelompok resonan, media sosial mempercepat, trigger memantik, legitimasi menentukan daya redam.

Namun validasi empiris tetap penting. Peneliti harus memisahkan luapan emosi media sosial dari bukti kausalitas tindakan kolektif di lapangan.

Tekanan biaya hidup, ketidakpastian kerja, persepsi ketimpangan, dan kegelisahan mengenai masa depan telah menjadi latar sosial sebelum kerusuhan mencapai puncaknya.

Sebelum api terlihat di jalan, sering kali telah ada sesuatu yang lebih sunyi: kecemasan meja makan dan ketidakpastian mengenai kehidupan hari esok.

Seberapa kuat grievance itu menjelaskan Agustus 2025 tetap harus diuji melalui data ekonomi dan survei yang mendahului peristiwa.

Dalam kerangka DVC, Affan memiliki kekuatan simbolik khusus karena ia berasal dari dunia pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan ekonomi platform.

Ia bekerja melalui aplikasi, bergerak di jalan, bergantung pada order, dan menjalani kehidupan ekonomi di antara ruang fisik dengan layar digital.

Kematiannya memperoleh dimensi baru karena media sosial memungkinkan jutaan orang mengetahui dan menyaksikan peristiwa itu hampir secara serentak.

Video bukan hanya membawa informasi. Ia membawa tubuh, gerakan, suara, kekerasan, dan emosi, seluruhnya lebih kuat daripada laporan tertulis biasa.

Dalam hitungan jam, seorang pengemudi yang sebelumnya tidak dikenal luas berubah menjadi simbol yang dapat dirasakan masyarakat dari berbagai wilayah.

Repetisi algoritmik membuat satu tragedi hadir berkali-kali pada layar berbeda, menciptakan pengalaman bahwa masyarakat sedang menyaksikan peristiwa yang sama bersama-sama.

Namun penelitian mengenai volume unggahan, kecepatan penyebaran, perubahan sentimen, dan struktur jaringan tetap diperlukan sebelum klaim kausal dianggap selesai.

Pada 28 Agustus 2025, Affan Kurniawan meninggal setelah terlindas kendaraan taktis Brimob Polda Metro Jaya di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Peristiwa itu mempunyai daya simbolik besar: korbannya jelas, berasal dari rakyat biasa, dan meninggal ketika ketegangan sosial sedang meningkat.

Komnas HAM kemudian menyebut kematiannya sebagai extrajudicial killing, sementara Divpropam Polri memproses tujuh anggota Brimob karena pelanggaran kode etik.

Affan menjadi trigger ketika kematiannya memberi wajah konkret kepada sesuatu yang sebelumnya abstrak: ketidakberdayaan, ketidakamanan, ketidakadilan, dan jarak dengan kekuasaan.

Sesudah itu, eskalasi dapat berkembang melalui rumor, potongan video, narasi manipulatif, respons aparat, atau pernyataan publik yang dinilai tidak sensitif.

Pada 29 Agustus 2025, protes meluas. Pembakaran gedung DPRD Kota Makassar menewaskan sejumlah staf yang terjebak di dalam gedung.

Amnesty International mencatat ribuan demonstran ditangkap antara 25 Agustus hingga 1 September 2025, dan sebagian kemudian menghadapi proses hukum formal.

Tetapi setiap klaim mengenai provokator, aktor tertentu, motif, atau manipulasi harus dibuktikan sendiri-sendiri. Teori tidak boleh menggantikan bukti.

-000-

Di sinilah Broken Social Contract menjadi penting. Pertanyaannya bukan hanya apakah negara bertindak, tetapi apakah masyarakat masih mempercayai tindakan tersebut.

Ketika kepercayaan melemah, prosedur resmi dapat dipersepsikan sebagai penghindaran, keterlambatan menjadi ketidakpedulian, dan klarifikasi justru mengundang kecurigaan lebih besar.

Negara mungkin menguasai jalan secara fisik, tetapi kehilangan kemampuan menguasai makna peristiwa di mata sebagian masyarakat yang sedang marah.

Survei kepercayaan institusional sebelum dan sesudah kerusuhan karena itu penting untuk mengukur kekuatan variabel legitimasi dalam kasus tersebut.

Kerusuhan Agustus 2025 tidak dapat dijelaskan oleh satu korban, satu video, satu kelompok, ataupun sebuah keputusan pemerintah yang berdiri sendirian.

Grievance menyediakan tanah kering. DVC menjadi kelompok resonan. Media sosial mempercepat transmisi. Affan menjadi percikan. Ketidakpercayaan memperlemah daya redam.

Affan tidak menciptakan seluruh kemarahan. Ia menjadi wajah tempat keresahan yang tercerai memperoleh simbol bersama dan menemukan bahasa politiknya.

Kematian manusia menjadi peristiwa politik ketika masyarakat melihat sesuatu yang lebih besar daripada korban: pengalaman, ketakutan, ketidakadilan, dan nasib mereka sendiri.

—o0o—

Ada satu pengalaman yang terus mengikuti saya selama puluhan tahun membaca survei dan opini publik. Di balik setiap angka, selalu ada manusia yang tak pernah masuk ke dalam tabel.

Saya pernah berbicara dengan orang-orang yang sebenarnya masih bekerja, masih tersenyum, bahkan masih mengatakan hidup mereka baik-baik saja.

Tetapi ketika percakapan menjadi lebih dalam, muncul kalimat yang berbeda: “Saya takut, Pak. Saya tidak tahu hidup saya tahun depan akan bagaimana.”

Kalimat sederhana itu lama tinggal dalam ingatan saya.
Sejak itu saya semakin sadar bahwa kecemasan sosial sering datang lebih dahulu daripada kemarahan politik.

Ia hidup diam-diam di meja makan, di cicilan yang jatuh tempo, di layar telepon yang menunggu order berikutnya.

Ketika saya melihat kisah Affan, saya teringat kembali wajah-wajah itu.

Barangkali ilmu sosial dimulai dari angka. Tetapi ia kehilangan jiwanya apabila lupa bahwa di belakang setiap persentase ada manusia yang sedang berharap, takut, mencintai keluarganya, dan mencoba bertahan.

-000-

DARI PRECARIAT MENUJU KELAS RENTAN DIGITAL

Dua pemikir membantu menempatkan teori ini dalam percakapan lebih luas mengenai perubahan kelas sosial, ketidakpastian ekonomi, algoritma, data, dan kekuasaan.

Guy Standing melalui The Precariat: The New Dangerous Class menggambarkan kelas yang hidup dengan pekerjaan rapuh, masa depan tidak pasti, dan perlindungan terbatas.

Wawasan penting Standing sederhana: manusia tidak hanya membutuhkan penghasilan, tetapi juga kepastian, martabat, identitas, dan kemampuan merencanakan kehidupan.

Dari sini terlihat garis menuju DVC. Precariat menyoroti ketidakpastian pekerjaan, sedangkan DVC menambahkan ketergantungan kepada infrastruktur dan keputusan algoritmik.

Shoshana Zuboff melalui The Age of Surveillance Capitalism memperlihatkan sisi lain: sistem digital tidak hanya mengamati perilaku, tetapi memperoleh kekuasaan melaluinya.

Data perilaku dapat digunakan untuk memprediksi, mengarahkan, dan membentuk tindakan manusia dalam skala yang tidak tersedia bagi bentuk kapitalisme sebelumnya.

Jika Standing memotret manusia yang kehilangan kepastian dan Zuboff sistem yang memperoleh kekuasaan, DVC bertanya: apa yang terjadi ketika keduanya bertemu?

—o0o—

MENGAPA BUKU INI PENTING?

Puluhan tahun hidup bersama survei, opini publik, perilaku politik, angka, dan grafik membuat saya mengenal satu godaan besar bernama kepastian.

Angka memberikan rasa aman. Ketika persentase tersedia, kita mudah merasa memahami masyarakat, padahal sejarah kadang memasuki ruangan melalui pengalaman satu manusia.

Sebuah kalimat terkadang membuka kenyataan yang tidak terlihat dalam tabel: “Saya tidak miskin, Pak. Tapi saya takut.” Kalimat itu menyimpan sebuah zaman.

Ia tidak mengatakan dirinya lapar atau menganggur. Tetapi ia kehilangan sesuatu yang dahulu dianggap dapat direncanakan: kepastian mengenai masa depan ekonominya sendiri.

Pengalaman membaca opini publik juga mengajarkan bahwa masyarakat hampir tidak pernah meledak hanya karena satu kejadian tanpa lapisan emosi sebelumnya.

Sebuah peristiwa menjadi sejarah ketika ia bertemu masyarakat yang telah siap memberikan makna lebih besar daripada peristiwa itu sendiri.

Affan adalah tragedi sekaligus simbol. Karena itu kekuatan buku ini bukan klaim bahwa ia telah menemukan hukum universal kerusuhan segala zaman.

Klaim semacam itu terlalu dini. Kekuatan buku ini justru berada pada keberanian mengubah tragedi menjadi pertanyaan teoritis yang dapat diuji.

Kebaruan teori ini harus dipertaruhkan pada mekanisme interaksi lima variabel, bukan sekadar pada pemberian nama baru kepada fenomena lama.

Karena itu pekerjaan berikutnya lebih keras: mengoperasionalkan variabel, mengumpulkan data, membandingkan kasus, dan mencari kemungkinan teori ini terbukti salah.

Positive cases diperlukan, tetapi negative cases lebih menentukan: kapan kondisi tertentu hadir, namun kerusuhan tidak terjadi atau berhenti dengan cepat?

Process tracing juga diperlukan. Apakah grievance mendahului trigger? Apakah amplifikasi memperbesar mobilisasi? Apakah rendahnya kepercayaan memperpanjang eskalasi?

Teori pesaing harus diberi kesempatan menjelaskan kasus sama. Jika teori lama bekerja lebih baik, teori baru harus bersedia mempersempit klaimnya.

Sebab teori yang mampu menjelaskan semuanya setelah peristiwa terjadi sebenarnya menjelaskan sedikit. Kekuatan ilmu lahir dari kemungkinan sebuah teori terbukti salah.

Teori serius harus mengatakan apa yang seharusnya ditemukan, bagaimana mengukurnya, serta bukti apa yang dapat memaksanya berubah atau ditinggalkan.

Di situlah sebuah gagasan berhenti menjadi metafora indah. Ia memasuki wilayah ilmu, tempat setiap klaim bersedia menghadapi risiko dibantah kenyataan.

—o0o—

Pada akhirnya saya kembali kepada Affan. Ia mungkin tidak pernah membayangkan hidupnya memasuki percakapan mengenai kelas, algoritma, kekuasaan, dan legitimasi.

Tetapi sejarah memiliki cara ganjil memilih pintunya. Sebuah zaman terkadang memperkenalkan dirinya bukan melalui pidato besar, melainkan melalui nasib manusia biasa.

Affan telah pergi. Namun pertanyaan yang dibangunkan kematiannya baru memulai perjalanan, dan perjalanan intelektual itu seharusnya tidak berhenti pada buku ini.

Kita harus mengujinya dengan data, membandingkannya dengan kasus lain, mencari kegagalannya, lalu membiarkan kenyataan menentukan apakah teori ini mampu bertahan.

Sebab terkadang satu tubuh yang jatuh di jalan membuat sebuah zaman berdiri di hadapan kita, meminta bukan hanya belas kasih, tetapi penjelasan teoritik. *

Jakarta, 2 September 2026

REFERENSI

Buku dan literatur akademik

1. Castells, Manuel. Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Cambridge: Polity Press, 2012.
2. Gurr, Ted Robert. Why Men Rebel. Princeton, NJ: Princeton University Press, 1970.
3. McCarthy, John D. & Zald, Mayer N. The Trend of Social Movements in America: Professionalization and Resource Mobilization. Morristown, NJ: General Learning Press, 1973.
4. Standing, Guy. The Precariat: The New Dangerous Class. London: Bloomsbury Academic, 2011.
5. Tilly, Charles. From Mobilization to Revolution. Reading, MA: Addison-Wesley, 1978.
6. Tufekci, Zeynep. Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest. New Haven: Yale University Press, 2017.
7. Zuboff, Shoshana. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. New York: PublicAffairs, 2019.

Data pekerja platform

1. Fairwork Indonesia. Fairwork Indonesia Ratings 2023: Labour Standards in the Platform Economy. Oxford Internet Institute, 2023.

Sumber peristiwa Agustus 2025

1. “Fakta-Fakta Demonstrasi yang Menewaskan Pengemudi Ojol”, Tempo, 29 Agustus 2025.
2. “Komnas HAM Nyatakan Tewasnya Pengemudi Ojol Affan Kurniawan sebagai Extrajudicial Killing”, Tempo, 29 Agustus 2025.
3. “Update Demo Ricuh Makassar: 4 Korban Tewas, Total Kerugian Materiil Rp 253 Miliar”, Kompas Makassar, 30 Agustus 2025.
4. “Police killing sparks Indonesia unrest in first major test for Prabowo presidency”, Reuters, 29 Agustus 2025.
5. Amnesty International. “Indonesia: Police beat protesters and unlawfully used tear gas to crush protests”, 9 Desember 2025.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0kcGC6o9y9gKkBTvihQx5e3sJSZqNRKNErVns5yD1fAE5MMDBs3RLSQGYFkR1Dckkl&id=100044483107470&mibextid=wwXIfr

-000-

Buku “Kerusuhan Agustus 2025 dan Lahirnya Teori Kerusuhan Era Digital” dapat diakses di:

https://drive.google.com/file/d/1tiP9CsmA1letpFl1-JIroBLyDqgU1G2n/view?usp=sharing