Berita  

Komisi KP, JPIC, dan JPR Dehonian Keuskupan Agung Palembang Bentengi Orang Muda dari Ancaman Perbudakan Modern

Komisi KP, JPIC, dan JPR Dehonian Keuskupan Agung Palembang Bentengi Orang Muda dari Ancaman Perbudakan Modern

PALEMBANG, mediasumatera.id – Ratusan generasi muda dan umat Katolik di Kota Palembang berkumpul untuk memperkuat benteng pertahanan diri dari bahaya perbudakan modern. Ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) serta tindak penipuan kerja berbasis digital (online scamming) yang kian marak menjadi latar belakang diselenggarakannya Sarasehan Migran Aman di Gedung Serbaguna Paroki St. Yoseph Palembang, Minggu (11/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung intensif sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB ini mengusung tema ” Berani Bermimpi, Bijak Melangkah, Aman Bermigrasi bagi Orang Muda” . Tak kurang dari 200 peserta hadir dengan antusiasme tinggi untuk menyerap edukasi taktis serta terlibat dalam diskusi interaktif mengenai keselamatan kerja dan migrasi.

Komisi KP, JPIC, dan JPR Dehonian Keuskupan Agung Palembang Bentengi Orang Muda dari Ancaman Perbudakan Modern

Sarasehan ini terwujud berkat kolaborasi lintas komisi dan tarekat. Sinergi ini melibatkan Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Palembang, Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh), Commission of Justice, Peace and Reconciliation (JPR) Kongregasi Hati Kudus Yesus (Dehonian Indonesia), yang memfokuskan perhatian pada perlindungan kaum muda dari sindikat TPPO.

Transformasi Modus TPPO di Era Digital
Di tengah tingginya arus mobilitas anak muda untuk merantau baik demi melanjutkan pendidikan, mencari pekerjaan di luar daerah, maupun menjajali karier di luar negeri risiko menjadi korban eksploitasi dan rekrutmen nonprosedural turut meningkat pesat.

Komisi KP, JPIC, dan JPR Dehonian Keuskupan Agung Palembang Bentengi Orang Muda dari Ancaman Perbudakan Modern

Hadir sebagai narasumber, Justinus Joni, SH dari Divisi Pastoral Perburuhan, Migran, dan Perantau Komisi Keadilan & Perdamaian Keuskupan Agung Palembang, memaparkan Blueprint Perlindungan Pekerja Migran Indonesia serta “Peta Navigasi Migrasi Aman”. Ia menyoroti bagaimana sindikat perbudakan modern kini beroperasi menggunakan strategi online scamming. Mereka memikat korban dengan penawaran posisi customer service, staf administrasi, hingga tenaga IT bergaji menggiurkan di kawasan Asia Tenggara tanpa persyaratannya yang rumit.

“Memiliki mimpi besar itu luar biasa, tetapi melangkah dengan penuh pertimbangan jauh lebih penting. Keselamatan seorang pekerja migran tidak pernah ditentukan oleh keberuntungan semata, melainkan oleh kepatuhan pada aturan dan verifikasi ketat di setiap tahapan mulai dari mendaftar melalui dinas resmi, meneliti kontrak kerja, hingga menjaga kerahasiaan dokumen pribadi,” tegas Justinus Joni.

Komisi KP, JPIC, dan JPR Dehonian Keuskupan Agung Palembang Bentengi Orang Muda dari Ancaman Perbudakan Modern

Edukasi Taktis dari BP3MI Sumatera Selatan
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pelindungan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan, Sinta Uli Simatupang, S.Kom., M.M ., membedah fakta dan realita kasus TPPO yang menimpa warga di wilayah Sumatera Selatan. Dalam paparannya, Sinta menggarisbawahi tipisnya batasan antara tawaran kerja menggiurkan dengan ancaman perbudakan jika masyarakat tidak memahami jalur penempatan yang sah.

Ia mengungkapkan bahwa penempatan ilegal kerap berujung pada tindakan keji, seperti penyekapan, penyitaan dokumen identitas, perampasan hak-hak pekerja, hingga kekerasan fisik dan mental.

Komisi KP, JPIC, dan JPR Dehonian Keuskupan Agung Palembang Bentengi Orang Muda dari Ancaman Perbudakan Modern

Sebagai langkah antisipasi, BP3MI Sumsel mengimbau kaum muda untuk selalu menerapkan formula “5 Jangan & 5 Pastikan”. Formula ini menekankan agar masyarakat tidak mudah terpedaya iming-iming gaji tak rasional, tidak menyerahkan dokumen asli kepada pihak berwenang yang tidak resmi, serta selalu memastikan legalitas P3MI melalui kanal resmi seperti aplikasi SISKOP2MI milik Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI/BP2MI).

Gerakan Bersama untuk Masa Depan Orang Muda
Acara yang juga dihadiri oleh Romo Blasius Sukoto, SCJ ini menegaskan komitmen bersama bahwa pencegahan TPPO bukan sebatas kewajiban pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan panggilan moral seluruh elemen masyarakat dan Gereja.

Sebagai penutup, sarasehan ini menelurkan panduan praktis berupa Gerakan 5B:

Berani Bermimpi – Memiliki cita-cita tinggi untuk meraih masa depan.

Bijak Memilih – Bersikap kritis terhadap setiap peluang kerja yang datang.

Benar Dalam Prosedur – Selalu menempuh jalur migrasi legal dan terverifikasi.

Berani Bertanya – Mencari informasi valid sebelum mengambil keputusan.

Berani Melapor – Segera adukan ke pihak berwenang jika menemukan kejanggalan atau indikasi TPPO.

Melalui edukasi dan sinergi berkesinambungan ini, diharapkan informasi yang akurat dapat menjangkau masyarakat tepat pada waktunya, sekaligus memutus rantai perdagangan orang dan melindungi masa depan generasi muda Indonesia.(daris)