MENGATASI ANAK YANG SERING MENGELUH

MENGATASI ANAK YANG SERING MENGELUH

PALEMBANG, MEDIA SUMATERA –  Bila anak sering mengeluh atau banyak mengeluh, tentu perlu kita atasi sejak usia dini. Bila tidak, itu akan menjadi kebiasaan buruk. Itu bisa membentuk mentalitas korban pada diri anak yang sulit membuatnya berkembang. Kebiasaan sering mengeluh juga bisa mengganggu hubungan sosial. Umumnya orang tidak suka bergaul dengan si tukang mengeluh.

Bagaimana cara kita mengatasinya?

Mari kita bahas.

Sebelumnya, pastikan Kawan sudah men-subscribe kanal ini ya. Saban minggu ada topik baru tentang parenting di sini.

  1. AJAK ANAK MENERIMA KENYATAAN & BERSYUKUR

Ajarlah anak untuk dapat menerima kenyataan yang tak dapat diubah. Ajarkan juga anak untuk bersyukur. Orang akan sering mengeluh bila tidak dapat menerima kenyataan yang tak terelakkan dan bila tidak bisa bersyukur.

Contohnya bila anak mengeluh seperti ini: “Kok ini lagi sih makanannya, Ma?”

Tidak bijak kalau kita memancing anak berdebat dengan mengatakan: “Ini kan makanan enak. Apanya sih yang gak enak?” Itu akan membuat anak mengungkapkan berbagai alasan untuk menguatkan keluhannya. Dia akan menjadi lebih tidak nyaman dan semakin menolak makanan itu.

Kita bisa menjawab begini: “Maaf, Nak, kamu kurang tertarik sama makanan ini. Tapi malam ini kita tidak punya persediaan makanan yang lain. Makan deh supaya kamu tidak sakit.”

Bisa juga kita ingatkan anak, ada anak di daerah yang lagi banjir besar yang lapar dan sedang tidak punya persediaan makanan apapun.

Contoh lain: Anak sedang berlari-lari bergembira di taman. Tiba-tiba turun hujan. Kita terpaksa segera mengajak anak pulang. Lalu anak dengan wajah cemberut mengeluh beberapa kali yang intinya menyatakan dia kesal. Ia belum puas bermain.

Baca Juga :  Polresta Deli Serdang Gelar Rapat koordinasi Percepatan Vaksinasi

Kita bisa menanggapinya begini: “Iya, Mama juga kepingin lebih lama lagi jalan-jalan di taman. Tapi untung ya, sebelum tadi hujan turun, kita sudah sempat main kejar-kejaran.”

  1. AJAR ANAK MEMECAHKAN MASALAH

Latihlah anak untuk mencari penyelesaian atas masalah yang dihadapinya. Sering mengeluh dapat juga diakibatkan oleh kurangnya keterampilan dalam mencari jalan keluar. Anak yang menghadapi masalah dan mampu memecahkannya tentu tak perlu mengeluh.

Bila anak mengeluh bosan berada di rumah sebab sudah lama tidak bisa keluar rumah, coba katakan begini padanya: “Iya, memang asyik kalau kita bisa jalan-jalan, Nak. Tapi di luar rumah lagi banyak virus Covid. Lebih aman kita ada di rumah. Menurutmu, supaya kita bisa asyik di rumah, apa yang baiknya kita lakukan?”

Contoh lain, jika anak mengeluh karya gambarnya kurang bagus, tanyakanlah, “Menurutmu, Nak, apa yang harus kamu buat supaya gambarmu jadi lebih bagus?” Jika anak membutuhkan saran, coba diskusikan dengannya beberapa kemungkinan perbaikan untuk dipilih dan ditetapkannya sendiri. Serahkan pada anak untuk melakukan tindakan.

Pesan yang ingin kita sampaikan kepada anak adalah bahwa tanpa dia melakukan tindakan maka situasi yang dikeluhkannya tidak akan menjadi lebih baik.

  1. TIDAK SEMUA PERLU DITANGGAPI DENGAN SERIUS

Tidak semua keluhan anak membutuhkan tanggapan yang serius dari kita. Tak jarang anak mengeluh hanya sekedar menginginkan kita mengetahui ketidaknyamanan yang dirasakannya. Contohnya anak mengeluh hanya karena gagal menyusun balok-balok mainannya: “Iiih… kok begini sih, Ma….” Keluhan seperti ini cukup kita dengarkan saja. Biarkan anak menghadapi sendiri apa yang dikeluhkannya.

Ada juga keluhan yang cukup kita atasi dengan mengalihkan perhatian anak. Contohnya: Pada suatu sore listrik padam. Sampai malam listrik belum menyala. Anak kesal. Beberapa kali ia mengeluh, “Uuuh…. Lama banget sih listrik padam, Ma.” Kita bisa mencoba mengalihkan perhatiannya misalnya dengan mengajaknya bermain tebak-tebakan atau bernyanyi-nyanyi bersama.

  1. PENGECUALIAN
Baca Juga :  Finda Turun Lagi Sidak, Hasilnya Masih di Temukan Produk Tanpa Izin

Selain dari semua yang tadi sudah disampaikan, ada keluhan anak yang kunci penyelesaian masalahnya di tangan kita, bukan di tangan anak. Contohnya anak mengeluh “Aduh, Ma, perutku sakit banget,” kita perlu segera mencari informasi lebih rinci, menanyakan anak di bagian perut mana persisnya yang dirasanya sakit, sejak kapan terasa sakit, dan lainnya, supaya kita dapat memutuskan penangananannya.

Contoh lain: Anak mengeluh, “Ma, sekolahku gak enak.” Cobalah teliti lebih jauh, apa ada masalah serius yang dihadapi anak di sekolahnya. Ucapkan terima kasih kepada anak yang sudah menyampaikan hal itu. Dan segeralah ambil tindakan, Arta Pena Sinamo.

Itu dulu, Kawan. Bagaimana pengalaman atau pikiran kawan-kawan? Silakan tulis di kolom komentar ya.

Terima kasih.