Media Sumatera, Online – Umat Kristiani saat ini menyongsong Hari Raya Natal dengan empat minggu menjalankan masa Adven, masa menantikan kelahiran Tuhan. Kita melakukan koreksi diri dan membulatkan tekat membaharui kehidupan kerohanian kita agar layak menyambut kedatangan Putera Allah yang lahir sebagai manusia. Kehidupan sosial kita selama pandemi Covid-19 terasa agak kaku dan dingin. Kita sering merasa serba salah, ragu-ragu, kesal, jengkel, takut dan bahkan putus asa. Sementara kita ingin berlaku jujur, namun kita bisa mencurigai orang lain jangan-jangan tidak jujur kepada kita. Kita takut menerima akibat dari ketidakjujuran mereka. Diam-diam kita menghindari dan menjauhi sahabat-sahabat dekat kita. Dari segi ekonomi pengeluaran kita tinggi dan pemasukannya tidak sebanding. Sumber pemasukan menjadi jauh lebih kecil dari biasanya, dan ada juga yang menjadi mampet. Dari segi spiritual dan rohani, sementara kita dicemaskan setiap saat akan kemungkinan tertular dan sakit atau bahkan meninggal, tempat-tempat ibadah dan gladi rohani di mana kita bisa bersujud atau dalam hening berdialog dengan Sang Pencipta, malah ditutup. Penghiburan rohani dari para pemimpin umat juga sangat terbatas. Kita juga merasa sedih bahwa para saudara atau saudari kita yang meninggal mendapatkan perawatan yang tidak sepantasnya. Kita sangat merindukan kehidupan yang normal seperti sebelum adanya pandemi. Tidak dapat disangkal bahwa tingginya tingkat penyebaran Covid-19 dan beratnya penderitaan rakyat selama masa pandemi ini antara lain disebabkan oleh banyaknya orang yang hidup tidak jujur.
Kejujuran Demi Keselamatan Umat Manusia
Ada orang yang sudah merasa terjangkit atau malah sakit, namun karena takut disingkirkan atau dijauhi sesamanya, tetap tidak mengaku kalau dirinya sakit, dan tetap melakukan aktivitas atau berkerumun dengan sesamanya seperti orang sehat. Akibatnya banyak orang lain terkontaminasi karena ketidakjujurannya. Kebohongan, penyelewengan, penipuan dan penggelapan itu mendegradasikan citra pribadi manusia, melukai dan menyengsarakan orang lain. Menipu dan berbohong itu tidak sesuai dengan kodrat Allah yang jujur dan penuh kasih. Orang yang berbohong, hidup menipu dan tidak jujur sesungguhnya Bukan orang beriman melainkan pengikut si jahat. Yesus sangat menekankan agar kita hidup jujur, “Katakan ya jika ya dan tidak jika tidak. Selebihnya berasal dari si jahat” (Mat 5: 37). Ketika kita berhadapan dengan orang yang jujur, kita akan menaruh hormat. Ketika kita melakukan kejujuran, kita juga akan dihormati oleh orang lain. Bahkan jika kejujuran itu tidak dihargai atau mendatangkan permusuhan, kita akan tetap merasa terhormat dan bermartabat Jika berani berpegang teguh pada kejujuran. Kejujuran itu memanusiawikan kemanusiaan, membangun kehidupan bersama yang sehat dan harmonis, membangkitkan keberanian untuk berjuang, menumbuhkan kesetiaan, menyembuhkan luka dan menghidupkan pengharapan. Setiap manusia yang manusiawi merindukan kejujuran. Hidup jujur yang berarti berjalan di jalan yang benar akan mendatangkan keselamatan.
Partisipasi atau keterlibatan.
Bagaimana kita membangun dan menghidupi keluarga kita. Bagaimana keluarga kita dlm berelasi dan bergaul dengan tetangga, dengan orang lain yang beda keyakinan dan budaya. Apakah kita seiring sejalan, berbela rasa, rukun membangun persaudaraan yang sejati, senasib sepenanggungan dengan yang menderita. Atau kita berjalan sendiri-sendiri, mementingkan diri sendiri, tidak peduli dan tidak mau tahu, atau bahkan menindas sesama kita? Sebagai anggota masyarakat dan anggota Gereja apakah kita berpartisipasi aktif dalam tanggung jawab masyarakat atau Gereja? Atau apakah kita senang sekedar menjadi penonton dalam kehidupan. Pengalaman hidup selama pandemi dengan pergulatan menghadapi krisis multidimensional mengajarkan kita untuk harus berubah total. Perubahan yang harus juga multidimensional, yang kita sebut gaya hidup new normal. Perubahan gaya hidup tersebut, antara lain : Pemanfaatan Teknologi digital yang masif; kepedulian terhadap kebersihan diri dan lingkungan meningkat, kebiasaan mencuci tangan, mencuci bahan / peralatan makanan, perhatian pada kebersihan lingkungan; kepedulian pada kesehatan; preventif menjaga kesehatan diri dan keluarga menjadi hal-hal yang terlihat baru dan diberi prioritas. Perubahan sistem kerja dan manajemen dalam perusahaan- perusahaan; sktifitas virtual Work From Home (WFH), meeting on-line dan sebagainya menjadi alternatif baru untuk efisiensi operasional perusahaa Di dunia pendidikan terjadi adaptasi Sistem Pembelajaran Baru; E-learning & kelas online menjadi alternatif sistem pembelajaran baru di era new normal. Sistem transaksi digital (non tunai/ payment gateway) dan sistem pelayanan pelanggan (baik produk maupun jasa) secara online adalah perilaku baru generasi new normal.

"Dengan Niat Baik, Kami berbuat baik, Untuk Kebaikan"
Berjalan Bersama Sehati Seperasaan
Semua orang beriman berkat rahmat pembaptisan Dianugerahi martabat yg luhur sebagai putera atau puteri Allah. Martabat luhur tersebut mengandung tugas panggilan utk ambil bagian dalam tugas Yesus sebagai imam, nabi dan raja. Dengan kata lain semua orang beriman, segera setelah dia dipermandikan, dirinya adalah rasul Tuhan. Konsekwensinya, semua orang beriman, melalui cara hidup dan keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan Gereja dan kegiatan-kegiatan bermasyarakat sehari-hari, seharusnya memancarkan kasih Allah guna ‘memanggil’ semua orang untuk menjalani hidup dan karyanya dengan baik sesuai dengan kehendak Allah. Kejadian pandemik saat ini menyadarkan kita semua akan kondisi di mana kita manusia yang jumawa dengan segala prestasi teknologi yang memudahkan jalan hidup kita meraih segala apa yang kita mau, berhadapan dengan kenyataan bahwa ada hak privat Allah, pemilik kehidupan kita, yang sedang tidak kita beri tempat dalam hidup kita. Inti dari segala prestasi yang seharusnya menjadi prioritas untuk diperjuangkan semua manusia, adalah agar dunia menjadi damai dan sejahtera, bumi menjadi semakin alami. Kita dibantu untuk menyadari bahwa kita dipanggil untuk kembali kepada kehidupan yang otentik dan orisinil : pada komunitas manusia yang sesungguhnya, pada alam yang asli dan pada persaudaraan yang real, pada perjumpaan-perjumpaan yang melibatkan hati dan kasih sayang secara langsung. Melalui wabah covid ini kita dipanggil kembali kepada spiritualitas yang sejati yang selalu mengajak untuk ke arah kebaikan, pada solidaritas yang bisa merasakan sakit dan derita sesama; melalui empati dan aura ilahi, yang dialami oleh para korban arus jaman, mereka yang terpinggirkan. Dan panggilan Tuhan melalui Gereja katolik entah menjadi imam dan karya hidup bakti yang dihayati oleh para religius, dan pada awam sendiri melalui baptisan, menjadi kebutuhan lagi dan lagi, yang pasti akan mengundang anak-anak muda untuk tertantang menjadi saksi-saksi Kristus yang berani demi terwujudnya keselamatan bagi umat manusia. Merayakan Natal dalam situasi saat ini kita diajak untuk melihat dan merasakan kehadiran Yesus sebagai Sang Terang dalam kegelapan. Dalam diri Yesus, Sang Imanuel,Allah nyata hadir di antara kita sebagai penegasan bahwa kita yang rapuh sungguh bernilai bagi-Nya. Nama Imanuel dan ungkapan “Allah beserta kita” menandakan bahwa Allah hadir di antara kita dan bekerja untuk pemulihan diri kita. Tetapi Tuhan menguatkan hatinya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Kel 3:10-14). Sama halnya dengan Nabi Yeremia. Dia enggan menerima perutusan Tuhan karena ia masih muda dan tidak pandai berbicara. Tuhan meneguhkan hatinya: “… kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau….” (Yer 1:7-8). Kekuatan cinta , kejujuran dan penyertaan Allah harusnya menjadi sumber kekuatan yang memampukan orang percaya untuk menumbuhkan rasa setia kawan di tengah masyarakat dan mau rela saling melayani orang-orang yang terpinggirkan dan menderita. Berita sukacita dan perwartaan cinta karena Juru selamat, Sang Raja Damai, Allah beserta kita, lahir di dunia membawa kepada Keselamatan kita.







