Opini  

Damai Sejahtera Paskah di Tengah Keluarga, Hidup Lama Menjadi Baru

Damai Sejahtera Paskah di Tengah Keluarga, Hidup Lama Menjadi Baru

Oleh : Andreas Daris Awalistyo, S.Pd,. M.I.Kom., C.PS.,C.TMP

Penulis : – Sekretaris DPP St Yoseph

Keuskupan Agung Palembang, Pengurus ISKA Sumsel, Pengurus Kerawam KaPal, Pendidik, Jurnalis

mediasumatera.id – Setelah menjalani masa Prapaskah pantang dan puasa 40 hari dan selanjutnya bermuara pada Pekan Suci dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah, kita diajak untuk mengikuti Yesus memasuki hari-hari terakhir hidup-Nya di dunia ini, menjalani sengsara, wafat demi kasih-Nya yang begitu besar kepada dunia dan akhirnya bangkit dari antara orang mati. Paskah adalah perayaan yang penuh makna tidak hanya untuk orang Kristiani, tetapi juga bagi mereka yang menginginkan kedamaian dan harmoni dalam hi dup. Di tengah -tengah kehidupan keluarga, paskah harus menjadi momen penting untuk memperkuat ikatan, menghadirkan kedamaian dengan segala rasa hormat di antara keluarga, dan untuk memikirkan kebangkitan Kristus dan pentingnya korban bagi kemanusiaan. Paskah bukan hanya perayaan iman, tetapi juga mengingatkan kita pada seruan moral yang lebih luas untuk mempertahankan dan menyelamatkan ciptaan Tuhan, termasuk bumi yang semakin rentan.

Sesuai dengan tahun komunitas basis keluarga (KBG) di Keuskupan Agung Palembang yaitu : “Keluargaku Bangkit Bersama dengan Kristus”. Semua anggota keluarga kita diajak untuk hidup secara baru dengan sungguh-sungguh menyadari bahwa keluarga adalah Ekklesia domestika gereja kecil dan sekolah kemanusiaan yang dikehendaki didirikan dan diberkati oleh Allah sendiri. (Kej 1 : 28). Damai Sejahtera Paskah di Tengah Keluarga, Hidup Lama Menjadi Baru. Kedamaian dan harmoni dalam hidup damai sejahtera yang dimaksud di sini bukan hanya sekadar ketenangan batin atau rasa nyaman yang hadir dalam keluarga, tetapi juga sebuah komitmen untuk saling mendukung, mengasihi, dan memaafkan. Keluarga adalah tempat pertama di mana seseorang belajar tentang kasih sayang, pengampunan, dan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, Paskah memberikan kesempatan bagi setiap anggota keluarga untuk saling merefleksikan ajaran Kristus, yang menekankan pentingnya cinta kasih tanpa syarat dan pemberian pengampunan. Juga mengingatkan kita untuk kembali pada ajaran kasih Kristus yang mengajarkan pentingnya saling memaafkan. saling mengampuni, damai sejahtera pun akan mengalir dengan sendirinya. Dia kemudian mewartakan fajar cerah kehidupan baru untuk Paskah. Kristus yang Bangkit kini bertahta di surga dan terus terlibat dalam peperangan hidup kita di dunia ini melalui kehadiran Roh Kudus: “Sesungguhnya Aku menjadikan segala sesuatu baru”. (Why 21:5).

Damai Sejahtera Paskah di Tengah Keluarga, Hidup Lama Menjadi Baru

Rasul Paulus dengan keras mewartakan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus adalah inti dari iman Kristiani dan dasar dari harapan kita (1 Korintus 15:3-5). Dalam peristiwa besar Kristus adalah apa yang kita rayakan dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi adalah perayaan syukur atas kasih Allah bagi kita melalui kematian dan kebangkitan putra-Nya. Paus Benediktus XVI mengundang kita karena Ekaristi adalah perayaan utama iman dan sumber kehidupan pengikut kita. Kita harus merayakan Ekaristi dengan sukacita yang ketat, partisipatif, dan penuh, karena kita dapat mengecapi keindahan Kristus dan dipimpin oleh panggilan sejati, yaitu cintakasih (Sacramentum caritatis,).

Selain itu, Paskah juga mengajak keluarga untuk memperdalam rasa syukur. Menghargai setiap momen kebersamaan, berterima kasih atas anugerah yang telah diberikan, dan mensyukuri segala yang ada adalah bagian penting dari damai sejahtera. Dalam kebersamaan keluarga yang penuh rasa syukur, setiap anggota merasa dihargai dan dicintai, yang memperkuat ikatan emosional antar mereka. Kebersamaan dalam merayakan Paskah membawa pesan penting bahwa keluarga adalah tempat pertama yang harus dipenuhi dengan damai dan kasih sayang, memberi kita kesempatan untuk membangun kembali hubungan yang lebih baik, memupuk kedamaian dalam hati, dan merayakan kehidupan dengan penuh sukacita.

Dengan demikian, Paskah bukan hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga momen untuk membangun keluarga yang penuh kasih dan damai sejahtera. Semoga setiap keluarga merasakan sukacita dan kedamaian yang sejati dalam perayaan Paskah ini, dan menjadi inspirasi untuk selalu menjaga keharmonisan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Damai sejahtera bukan hanya tentang harmoni antar anggota keluarga, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa hidup dengan lebih sadar terhadap lingkungan. Keluarga adalah tempat pertama di mana nilai-nilai seperti kasih, tanggung jawab, dan kepedulian diajarkan. Melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana namun penuh makna, kita bisa menanamkan rasa cinta terhadap alam dan rasa tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup bumi.

Damai Sejahtera Paskah di Tengah Keluarga, Hidup Lama Menjadi Baru

Contoh spesifik dalam rasa cinta terhadap alam adalah mengajar anak -anak untuk mengurutkan dengan bijak menggunakan sumber daya alam seperti air dan listrik dan untuk memilah limbah dengan benar. Mengundang keluarga untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke produk yang lebih ramah lingkungan juga merupakan langkah kecil yang dapat memiliki banyak manfaat. Ini tidak hanya mengurangi dampak negatif di bumi, tetapi juga mempromosikan rasa terima kasih dan terima kasih atas ciptaan Tuhan. Paskah mengajarkan kita untuk menyelesaikan kita dari keserakahan dan keserakahan, dan hidup dengan kasih sayang kepada orang lain, termasuk rumah bersama kita, Ketika keluarga di seluruh dunia menyadari bahwa planet ini membutuhkan perlindungan dan perhatian kita, ada kemungkinan bahwa perubahan besar akan dipicu oleh semua rumah tangga. Dengan mencapai kedamaian keluarga dan memperhatikan keberlanjutan ekologis, tidak hanya berkontribusi untuk menyelamatkan planet ini, tetapi juga menciptakan warisan positif untuk generasi mendatang. Seperti Kristus, kebangkitan, memberikan kehidupan baru, ditunjuk untuk berkontribusi pada penyajian kehidupan yang lebih baik di planet kita. Keluarga juga dapat berpartisipasi dalam program komunitas yang mendukung manajemen lingkungan yang lebih baik dengan melakukan pembersihan sungai, limbah plastik atau penghijauan.

Melalui tindakan kolektif seperti ini, damai sejahtera yang kita wujudkan dalam keluarga juga akan menciptakan dampak positif bagi masyarakat luas. Sebuah keluarga yang hidup dengan penuh kasih dan tanggung jawab terhadap lingkungan akan menginspirasi tetangga, teman, dan komunitas untuk melakukan hal yang sama. Ketika ini tersebar di seluruh dunia, maka kita akan menciptakan gelombang perubahan yang akan membawa kita pada dunia yang lebih damai dan lebih lestari. Selain itu, hidup yang selaras dengan alam dan penuh kasih ini juga akan membentuk karakter anak-anak kita, sebagai generasi penerus yang tidak hanya mewarisi bumi, tetapi juga nilai-nilai kebaikan. Paskah mengajarkan kita bahwa kasih yang tulus dan pengorbanan dapat membawa kebangkitan baru. Dalam konteks ini, kasih yang kita tunjukkan kepada sesama dan kepada bumi akan menjadi tonggak kebangkitan bagi dunia yang lebih seimbang dan harmonis. Dengan membangun damai sejahtera dalam keluarga dan melibatkan diri dalam penyelamatan bumi, kita turut berpartisipasi dalam kebangkitan bumi yang memerlukan pemulihan dan perhatian kita. Ketika keluarga-keluarga di dunia saling mendukung untuk menjaga kelestarian alam, kita tidak hanya menyelamatkan bumi, tetapi juga menjaga kehidupan yang damai bagi generasi mendatang.

Laudato Si mengajak kita untuk memperhatikan “kesatuan segala ciptaan

Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si memberikan panduan yang sangat relevan untuk memerangi krisis lingkungan global. Paus mengundang umat manusia untuk menyikapi bahwa bumi adalah rumah bersama di mana harus dipertahankan dan dirawat. Hal ini sejalan dengan upaya untuk menyelamatkan kedamaian keluarga dan planet bumi. Paus mengingatkan kita bahwa krisis lingkungan tidak hanya masalah kerusakan alami, tetapi juga masalah sosial yang mempengaruhi sumur manusia, terutama orang miskin dan rentan. Paus Fransiskus menekankan bahwa masing -masing tindakan kecil dan indah, memengaruhi kehidupan kita bersama. Dalam Laudato,Si mengundang kita untuk memperhatikan “kesatuan semua ciptaan” dan untuk mengakui bahwa orang bertanggung jawab atas keamanan keberlanjutan planet bumi, bukan pemilik atau penguasa bumi. Ini mengikuti ajaran Paskah yang mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai orang Kristiani.

Dalam konteks keluarga, ajakan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ sangat relevan. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran penting dalam mengedukasi anggota-anggotanya, terutama generasi muda, untuk lebih menghargai ciptaan Tuhan. Melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang ramah lingkungan, seperti mengurangi sampah plastik, memilih produk yang ramah lingkungan, atau mendukung gerakan penghijauan, keluarga dapat menjadi teladan dalam memperlihatkan kasih terhadap alam. Paus juga menekankan pentingnya gaya hidup sederhana dan tidak berlebihan. Dia mengajak kita untuk berpikir dua kali sebelum mengonsumsi sesuatu, terutama jika itu dapat merusak lingkungan. Dalam konteks keluarga, ini berarti mendidik anak-anak untuk hidup dengan lebih sadar dan tidak tergoda oleh pola konsumtif yang dapat merusak bumi. Jika keluarga-keluarga dapat mengadopsi pola hidup yang lebih sederhana dan ramah lingkungan, ini akan memberikan kontribusi besar terhadap penyelamatan bumi.

Selain itu, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa krisis ekologis yang kita hadapi sangat erat terkait dengan ketidakadilan sosial. Orang -orang yang paling terpengaruh oleh kerusakan lingkungan adalah yang miskin dan paling rentan. Dalam konteks keluarga, ini berarti mempromosikan empati dan solidaritas dan merawat mereka yang kurang mampu dengan anak -anak. Keluarga yang harmonis dan damai tidak hanya menciptakan suasana yang nyaman di rumah, tetapi juga membentuk generasi masa depan untuk merawat orang lain dan planet bumi ini. Dengan mendukung ajaran Laudato Si ‘dan menggabungkannya dengan semangat Paskah, kita dapat berkontribusi bersama untuk mewujudkan kedamaian keluarga dan menyelamatkan planet ini. Jika semua keluarga memahami peran mereka dalam mempertahankan ciptaan Tuhan dan mengintegrasikan nilai -nilai ini ke dalam kehidupan sehari -hari, kita akan melihat perubahan besar. Perubahan -perubahan ini tidak hanya mempengaruhi lingkungan, mereka juga memengaruhi hubungan sosial yang lebih harmonis, dan didasarkan pada kasih

Menjadi Agen Perubahan

Dalam perayaan Paskah ini, kita diajak untuk merefleksikan bagaimana kebangkitan Kristus membawa kita pada kebangkitan bukan hanya secara rohani, tetapi juga pada kebangkitan bumi yang lebih sehat dan lestari. Laudato Si’ mengingatkan kita bahwa tanggung jawab kita terhadap bumi adalah bagian dari panggilan iman kita sebagai umat Kristiani. Dalam hidup damai sejahtera di dalam keluarga dan dalam masyarakat, kita dapat menjadi agen perubahan yang membawa kasih Tuhan kepada dunia yang penuh tantangan ini. bencana alam yang terjadi belakangan ini, seperti banjir besar, longsor, atau kebakaran hutan, mengingatkan kita akan krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Bencana-bencana ini bukan hanya merupakan akibat dari perubahan iklim yang semakin ekstrim, tetapi juga memperlihatkan dampak langsung dari kelalaian manusia dalam menjaga bumi.

Sebagaimana Kristus bangkit untuk membawa harapan baru bagi umat manusia, kita pun diajak untuk “bangkit” dan mengambil langkah konkret untuk memperbaiki hubungan kita dengan alam. Tanggung jawab kita terhadap bumi dan sesama bukan hanya sebatas kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menjaga alam, mengurangi konsumsi berlebihan, Paskah mengingatkan akan kebangkitan dan harapan, dan kita diajak untuk “bangkit” dalam merespons krisis lingkungan ini dengan lebih banyak kasih, solidaritas, dan tindakan nyata. Hanya dengan bekerjasama, kita bisa menghindari lebih banyak bencana di masa depan dan membangun dunia yang lebih damai, adil, dan lestari. Terlebih pada tahun Yubileum  2025 yang merupakan perayaan istimewa dalam tradisi Gereja Katolik yang diadakan setiap 25 tahun. Tahun ini bertujuan untuk mendorong umat meningkatkan kehidupan spiritual melalui ziarah, doa, pertobatan, dan tindakan kasih. Menurut situs Roman Catholic Diocese of Peterborough, umat Katolik diajak untuk: Memperbarui hubungan dengan Tuhan. Mengampuni dosa orang lain. Bertobat atas dosa pribadi.

Pertobatan inilah yang merupakan buah-buah keselamatan kita dalam peristiwa Paskah. Tuhan mengubah kematian menjadi hidup, dosa menjadi belas kasihan, keputusasaan menjadi harapan, kegelapan menjadi lebih cerah, dan umur panjang menjadi baru. Sukacita Paskah inilah yang terus saja diperayaan dalam Ekaristi. Paskah ini adalah sumber harapan kita. Siapa pun yang bermain dengan kesetiaan mereka tidak akan kecewa. Dengan semangat harapan dan sukacita untuk kebangkitan Tuhan,

Selamat merayakan pesta Paskah 20 April tahun 2025.

Damai Sejahtera Paskah di Tengah Keluarga, Hidup Lama Menjadi Baru