SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan.Apa kabar Anda di hari ini? Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Tuhan Sang sumber hidup, apapun keadaan Anda. Itulah salah satu ciri orang yang beriman.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 16: 13 – 23, yakni pengakuan Petrus dan pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus serta syarat-syarat mengikut Dia.Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat kontras yang sangat tajam. Petrus, yang baru saja mengakui Yesus sebagai Mesias, tiba-tiba ditegur dengan keras oleh Yesus: “Enyahlah Iblis!”. Teguran itu bukan karena Petrus menjadi iblis secara harfiah, melainkan karena ia membiarkan hati & pikirannya dipenuhi oleh hal duniawi dan bukan kehendak Allah.
Pesan untuk kita
Pertama : Dalam kehidupan ini, tanpa kita sadari, kita pun bisa memelihara iblis dalam diri kita, yang ditandai dengan: kita mudah marah dan emosi, yang berarti kita membuka ruang atau celah bagi iblis untuk menguasai hati & pikiran kita. Kedua : Ketika kita malas dan enggan mau berubah, yang berarti kita menolak panggilan Tuhan untuk kita hidup lebih baik Ketiga Ketika cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata dan cara bertindak kita tidak mencerminkan kasih Kristus, dan itu berarti kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain, baik di rumah, di komunitas, di sekolah, di asrama, maupun di tempat kerja.
Maka, mari kita memohon kepada Yesus, sebagaimana Ia menegur Petrus, agar Dia juga melenyapkan iblis dari dalam diri kita. Kita tidak ingin menjadi penghalang bagi orang lain untuk melihat Kristus. Kita ingin hidup yang memancarkan KASIH, DAMAI, dan KEBENARAN.Mari juga kita minta Roh Kudus Allah agar merajai hati dan pikiran kita, supaya iblis atau roh jahat tidak menguasai kita, sehingga kita tidak lagi menjadi batu sandungan bagi orang lain, melainkan kita menjadi saluran BERKAT di mana pun kita berada.
Pertanyaan Refleksi:
1. Dalam situasi apa saya cenderung marah, emosi, atau bersikap tidak mencerminkan KASIH Kristus? Bagaimana saya dapat lebih menyadari dan mengubah respons saya agar menjadi BERKAT bagi orang lain?
2. Adakah hidup, sikap, perilaku, kata-kata, dan tindakan saya akhir-akhir ini yang mungkin menjadi batu sandungan bagi keluarga, komunitas, teman, atau rekan kerja? Apa langkah konkret yang bisa saya ambil untuk menjadi saksi Kristus di tengah mereka?
3. Sudahkah saya secara aktif membuka hati dan pikiran, agar Roh Kudus merajai hidup, hati & pikiran saya setiap hari? Apa yang bisa saya lakukan agar lebih peka terhadap kehendak Allah dan tidak terjebak dalam cara pandang duniawi?
Selamat berefleksi🙏🙏



