mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Kecenderungan manusia pada umumnya adalah suka pamer: status, jabatan, gelar, atau suka sosialita, narsis. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santa Maria Perawan, Ratu.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 23: 1 – 12, yakni Yesus mengecam ahli – ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Para saudaraku, dunia modern menjadikan pamer sebagai gaya hidup. Status, jabatan, gelar, foto liburan, bahkan “kesederhanaan” pun dipamerkan demi pengakuan. Media sosial mengajarkan bahwa citra lebih penting daripada isi HATI. Inilah wajah baru para Farisi: tampak rohani di luar, tetapi kosong di dalam.Yesus menegur keras sikap itu. Mereka mengajar tetapi tidak melakukannya, membebani orang lain tanpa mau menolong, mencari kehormatan dan gelar. Firman-Nya jelas: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”Kita pun sering terjebak dalam narsisme ataupun sosialita: pamer ibadah, pamer prestasi, pamer harta. Padahal semua itu hanya menghasilkan tepuk tangan dunia, upah yang cepat berlalu. Tuhan tidak mencari citra, melainkan HATI yang rendah. Kebesaran sejati bukan pada panggung, melainkan pada pelayanan. Yesus sendiri menunjukkan itu dengan membasuh kaki murid-murid-Nya.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, hidup bukan tentang seberapa banyak orang mengenal kita, melainkan seberapa nyata KASIH kita. Kelak, Tuhan tidak akan menanyakan jumlah pengikut di media sosial atau gelar yang kita sandang. Ia hanya akan bertanya: “Apakah engkau mengasihi-Ku?” Dan KASIH itu terbukti bukan dalam pameran, melainkan dalam pelayanan kepada yang kecil, tersembunyi, dan tak bisa membalas. Jangan suka pamer. Layanilah dengan tulus. Sebab satu-satunya “pameran” yang Tuhan kehendaki adalah salib, di mana Sang Anak Allah merendahkan diri, mati bagi kita, dan menunjukkan kebesaran sejati.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya melakukan kebaikan dan pelayanan sungguh-sungguh untuk Tuhan, ataukah diam-diam berharap dilihat dan dipuji orang?
2. Dalam dunia yang penuh citra dan narsisme, bagaimana saya bisa tetap hidup sederhana, tulus, dan tidak terjebak dalam budaya pamer?
3. Apakah KASIH saya lebih banyak ditunjukkan lewat citra dan kata-kata, atau sungguh nyata dalam pelayanan kepada mereka yang kecil, tersembunyi, dan tak bisa membalas?
Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus,
ajarilah kami untuk tidak mencari pujian dunia, tetapi hidup dalam kerendahan HATI. Jauhkan kami dari sikap suka pamer,
dan tuntunlah kami agar setiap kebaikan
lahir dari kasih yang tulus. Biarlah HIDUP kami menjadi pelayanan,
bukan pencitraan;
menjadi BERKAT bagi sesama, bukan sekadar tontonan. Karena Engkaulah yang melihat HATI,
dan hanya kepada-Mu kami ingin setia. Amin.



