PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Kiranya damai, sukacita, dan pengharapan dari-Nya senantiasa menyertai setiap langkah hidup kita, menuntun hati untuk setia berjalan di jalan kebenaran, dan menguatkan kita dalam menghadapi setiap salib kehidupan. Tetaplah teguh dalam iman, karena kasih-Nya tak pernah berkesudahan.
Bagaimana kabar Saudara/i di hari ini? Saya berharap dapat menjumpai Saudara/i dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, hati yang damai, serta sukacita yang melimpah. Kiranya setiap langkah Saudara/i hari ini dipenuhi berkat dan penyertaan Tuhan, sehingga apa pun yang Saudara/i kerjakan menjadi saluran kasih bagi sesama.
Tema renungan hari ini: Mata Tuhan Tertuju kepada Mereka yang Takut akan Dia.
Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th., yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal GKPI. Beliau membuka renungan dengan pertanyaan reflektif yang menggugah: Apakah semua kemenangan atau keberhasilan itu berasal dari Tuhan? Apakah keberhasilan dunia selalu berarti berkat? Jawabannya jelas: tidak semua yang tampak menang, diberkati oleh Tuhan. Ada kemenangan yang justru mengantar kita semakin jauh dari hadirat-Nya.
Dasar Firman Tuhan terambil dari Ulangan 30:19:”Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: Kepadamu Kupertunjukkan hidup dan maut, berkat dan kutuk. Pilihlah hidup, supaya engkau hidup, engkau dan keturunanmu.”
Ada Cerita Kisah Nyata: Kemenangan Curang yang Berujung Kehancuran.
Dalam renungan ini mengisahkan tragedi kekuasaan Ferdinand Marcos Sr., Presiden Filipina yang memenangkan pemilu dengan kecurangan besar-besaran pada tahun 1986. Walau mengklaim diri sebagai pemenang, rakyat tahu kebenarannya. Didukung oleh para rohaniwan, gereja, dan jutaan warga Filipina dalam Revolusi Damai EDSA, Marcos akhirnya jatuh, melarikan diri, dan mati di pengasingan.
“Kemenangan yang diperoleh tanpa keadilan, bukan dari Tuhan. Itu adalah jerat bagi diri sendiri dan keturunannya kelak.”
Mari Saudara/i Refleksi: Jangan Banggakan Kemenangan Tanpa Pertobatan
“Banyak orang Kristen hari ini lebih suka menang di mata dunia, meski harus mengorbankan ibadah, kejujuran, dan integritas. Tapi ingatlah : Kemenangan tanpa kebenaran dan campur tangan Tuhan maka hanya membawa kehancuran.”
Dalam renungan ini Saya mengajak jemaat GKPI dimanapun berada untuk mengevaluasi diri sendiri:
- Apakah saya sedang menikmati “kemenangan” tapi jauh dari firman Tuhan?
- Apakah keluarga saya makin dekat dengan Tuhan, atau makin sibuk dengan pencitraan?
- Apakah saya mewariskan iman… atau sekadar harta yang tak membawa keselamatan?
Seruan Pertobatan: Pilihlah Jalan Hidup yang Diberkati
“Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk kembali ke jalan-Nya. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi demi anak cucu kita. Jangan biarkan mereka mewarisi nama yang dipenuhi luka rohani dan kehancuran moral.”
Buah-buah Pertobatan yang Sejati, sebelum saya menutup renungan ini dengan mengajak Saudara/i pembaca untuk menghasilkan buah pertobatan yang nyata:
- Mengembalikan kejujuran dalam pekerjaan dan usaha.
- Memperbaiki hubungan dengan Tuhan melalui doa dan ibadah yang setia.
- Meminta maaf dan memulihkan hubungan dengan sesama.
- Mengajarkan anak cucu untuk mengasihi Tuhan dan sesama di atas segalanya.
- Mengutamakan kebenaran meskipun harus berkorban secara duniawi.
Penutup renungannya: Warisan Sejati Adalah Iman
Amang Pendeta S.P Hutagalung, S.Th. mengakhiri dengan kalimat yang menggugah hati:
“Lebih baik kalah di mata dunia, tapi menang di hadapan Allah. Lebih baik miskin harta, tapi kaya iman. Itulah warisan terbaik bagi anak cucumu.”
Renungan Firman Tuhan mengajak membuka banyak hati jemaat GKPI untuk menangis dalam pertobatan. Jika Saudara/i membaca renungan hari ini, maka jangan tunda lagi. Tuhan Yesus tidak mencari pemenang dunia, tetapi pencari kebenaran.
(VIP)



