SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Sudahkah Anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan Sang sumber hidup? Saya berharap demikian! Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Pius X, Paus.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 22: 1 – 14, yakni perumpamaan tentang perjamuan nikah. Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menggambarkan Kerajaan Surga seperti pesta perjamuan yang megah. Undangan telah dikirim, namun banyak yang menolak. Ada yang sibuk di ladang, ada yang ke urusan dagang, bahkan ada yang memperlakukan undangan itu dengan kasar. Ironisnya, undangan itu bukan dari manusia biasa, melainkan dari Sang Raja. Dewasa ini, undangan itu masih relevan & berlaku. Ia datang dalam bentuk doa, Ibadat, terlebih melalui perayaan atau perjamuan ekaristi, baik harian maupun mingguan. Namun, betapa sering kita bersikap masa bodoh. Kita menolak dengan alasan klasik: capek, sibuk, malas, takut terlambat kerja. Bahkan ketika kita hadir, kita sering lupa mempersiapkan hati. Kita hadir tanpa “pakaian pesta”, tanpa sikap hormat, tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan. Pakaian pesta bukan soal jas, berdasi atau gaun, melainkan kesiapan batin & hati kita. Sebab, terkadang kita hadir secara fisik tetapi pikiran kita melayang ke tempat kerja, sibuk main HP, atau ngobrol tanpa arah. Semua itu adalah bentuk ketidaksiapan rohani atau spiritual atau “tidak berpakaian pesta”. Kita lupa bahwa Ekaristi bukan rutinitas, melainkan perjamuan KASIH Tuhan. Undangan Tuhan bukan sekadar ajakan, tetapi kesempatan untuk mengalami kehadiran-Nya secara nyata.
Beberapa poin (puncta) untuk direnungkan:
Pertama Apakah aku sungguh menyadari bahwa Ekaristi adalah undangan pribadi dari Tuhan?
Kedua *Bagaimana sikapku saat hadir dalam perayaan Ekaristi, apakah aku ‘berpakaian pesta” secara rohani atau spiritual?
Ketiga Apa yang bisa aku ubah agar kehadiranku dalam Ekaristi menjadi lebih bermakna dan penuh syukur?
Maka, mari kita tidak lagi bersikap masa bodoh. Tuhan telah mengundang kita. Jangan sampai kita hadir, tetapi ditolak karena tidak “berpakaian pesta”. Hadirlah dengan HATI yang siap, jiwa yang bersyukur, dan sikap yang penuh hormat. Karena di meja-Nya, kita bukan tamu biasa, kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya.
Pertanyaan Refleksi:
1. Sejauh mana aku menghargai undangan Tuhan dalam Ekaristi? Apakah aku hadir karena kewajiban, kebiasaan, atau karena kerinduan akan perjumpaan dengan-Nya?
2. Sudahkah aku “berpakaian pesta” secara rohani atau spiritual saat mengikuti Ekaristi? Apakah hatiku sungguh siap, atau justru sibuk dengan hal lain seperti pekerjaan, HP, atau pikiran yang melayang?
3. Apa yang bisa aku ubah agar kehadiranku dalam Ekaristi menjadi lebih bermakna dan penuh syukur? Langkah konkret apa yang bisa aku ambil agar tidak lagi bersikap masa bodoh terhadap undangan Tuhan?
Selamat berefleksi:🙏🙏





