KUDUS DALAM SELURUH KEHIDUPAN

KUDUS DALAM SELURUH KEHIDUPAN

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id

Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita, Yesus Kristus.
Kiranya damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan dari Tuhan perlahan mengalir dan memenuhi setiap ruang hati kita, bahkan di saat kita merasa lelah, kosong, atau seolah tidak baik-baik saja.
Di masa Paskah yang baru saja kita rayakan, Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak… menarik napas… dan dengan jujur melihat ke dalam hati kita sendiri.
Biarlah hari ini menjadi langkah baru…
langkah kecil untuk kembali berjalan bersama Tuhan.
Renungan ini disampaikan oleh amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th sebagai penguatan iman bagi kita semua.

_”Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.”_ (Imamat 11:45)

Ayat ini muncul di tengah-tengah berbagai aturan mengenai makanan yang halal dan haram. Sekilas, bagian ini tampak sangat ritualistik dan jauh dari kehidupan kita sekarang. Meski demikian, jika kita masuk lebih dalam, kita akan menemukan bahwa inti dari semua aturan itu bukan sekadar soal makanan, melainkan tentang identitas.

Allah mengingatkan umat Israel bahwa mereka adalah umat yang telah dibebaskan dari Mesir. Pembebasan itu bukan hanya peristiwa historis, tetapi juga fondasi eksistensial: mereka tidak lagi hidup sebagai budak, melainkan sebagai umat milik Allah. Karena itu, cara hidup mereka harus mencerminkan siapa Allah mereka.

“Jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.” Kalimat ini bukan sekadar perintah moral, melainkan undangan untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah sendiri. Dalam pengertian Alkitab, kudus tidak hanya berarti “bersih” atau “tanpa dosa,” tetapi terutama berarti “dipisahkan” atau “dikhususkan.” Dengan kata lain, hidup kudus adalah hidup yang diarahkan sepenuhnya kepada Allah.

Baca Juga :  Urgensi Perubahan Pola Pikir Untuk Wujudkan Transformasi Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia

Menariknya, kekudusan dalam konteks ini tidak dibatasi pada ruang ibadah. Ia justru menyentuh hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sampai pada apa yang dimakan. Ini menunjukkan, bagi Allah, tidak ada bagian hidup yang terlalu kecil atau terlalu biasa untuk disentuh oleh kekudusan. Seluruh hidup adalah ruang perjumpaan dengan Allah.

Dalam perspektif fenomenologis, ini mengubah cara kita memandang realitas. Kehidupan sehari-hari bukan lagi sekadar rutinitas biasa, tetapi menjadi kesempatan untuk mewujudkan identitas diri kita sebagai umat Allah. Makan, bekerja, berbicara, bahkan memilih, semuanya menjadi tindakan yang memiliki dimensi spiritual.

Namun, kekudusan bukanlah proyek kesempurnaan diri. Ayat ini dimulai dengan pengingat tentang tindakan Allah: “Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir.” Artinya, kekudusan adalah respons terhadap anugerah, bukan syarat untuk menerimanya. Kita tidak menjadi kudus supaya dikasihi Allah; kita hidup kudus karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi dan dibebaskan.

Di sinilah kita melihat hubungan yang erat antara identitas dan etika. Cara hidup kita mengalir dari siapa kita. Jika kita adalah umat yang telah ditebus, maka hidup kita pun dipanggil untuk mencerminkan karya penebusan itu. Kekudusan bukan beban, melainkan ekspresi dari kehidupan baru.

Bagi kita hari ini, mungkin tidak lagi soal makanan halal dan haram, tetapi prinsipnya tetap sama: hidup yang mencerminkan siapa Allah dalam kita, agar rutinitas hidup sehari-hari menunjukkan bahwa kita adalah milik-Nya. Kekudusan bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan hidup berbeda di dalam dunia. Seperti air yang jernih di tengah aliran yang keruh, hidup kudus menghadirkan kesegaran dan kesaksian. Ia tidak selalu mencolok, tetapi nyata dan terasa.

Baca Juga :  KAPOLDA SUMSEL MENGHIMBAU SEMUA MASYARAKAT SUMSEL PATUHI PROKES DIMASA PANDEMI COVID-19 YANG BELUM JUGA BERAKHIR

Hari ini, kita diundang untuk melihat kembali hidup kita, bukan hanya dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam detail-detail kecil. Di sanalah kekudusan diuji dan diwujudkan. Karena pada akhirnya, kekudusan bukan tentang aturan, melainkan tentang relasi: hidup yang terus-menerus diarahkan kepada Allah yang kudus dan hidup sebagai perjumpaan nyata dengan Allah.

*Pokok Renungan:*
Kekudusan adalah respons atas kasih Allah yang membebaskan kita, sehingga seluruh hidup kita menjadi cerminan siapa Dia.

*Lagu:*
KJ No. 364:1 “Berserah kepada Yesus”

*Doa:*
Tuhan yang kudus, terima kasih karena Engkau telah membebaskan dan menjadikan kami milik-Mu. Ajarlah kami hidup kudus dalam setiap bagian kehidupan kami, bukan sebagai beban, tetapi sebagai wujud kasih dan syukur kami kepada-Mu. Bentuklah hati dan langkah kami agar selalu mencerminkan kekudusan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.

Amin.

(VIP)