Berita  

Carlo Acutis Dan Pier Giorgio Frassati Menjadi Santo Gereja Katolik di Era Generasi Milenial

Carlo Acutis Dan Pier Giorgio Frassati Menjadi Santo Gereja Katolik di Era Generasi Milenial

VATIKAN, mediasumatera.id  –  Pada 6 September 2025, Gereja Katolik secara resmi mengkanonisasi Carlo Acutis dan Pier Giorgio sebagai orang kudus atau santo. Upacara yang dipimpin oleh Paus Leo XIV di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, dihadiri oleh sekitar 70.000 umat Katolik dari berbagai negara. Peristiwa ini menjadi momen bersejarah karena keduanya merupakan santo pertama dari generasi milenial.

Carlo Acutis Dan Pier Giorgio Frassati Menjadi Santo Gereja Katolik di Era Generasi Milenial

Carlo Acutis, yang lahir di London pada 1991 dan meninggal karena leukemia pada 2006, dikenal sebagai remaja yang punya bakat besar di bidang komputer. Ia mendedikasikan kemampuannya untuk menyebarkan ajaran Katolik dengan membuat situs web yang berisi katalog mukjizat Ekaristi. Atas dedikasinya, Carlo mendapat julukan “Influencer Tuhan”.

Kanonisasi ini adalah yang pertama kali dilakukan selama masa kepemimpinan Paus Leo XIV. Hal ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Paus ingin menjadikan para tokoh muda sebagai teladan iman. Informasi ini didapatkan dari sumber seperti Catholic News Agency (CNA) dan katolikterkini.com.

Paus Fransiskus sangat mendukung kanonisasi Carlo Acutis karena ia melihatnya sebagai inspirasi penting bagi kaum muda Katolik di era digital. Suasana perayaan sangat sukacita, terutama saat Paus membacakan ritus kanonisasi. Tepuk tangan riuh terdengar, dan umat terlihat melambaikan bendera serta bernyanyi dengan penuh semangat.

Carlo Acutis Dan Pier Giorgio Frassati Menjadi Santo Gereja Katolik di Era Generasi Milenial

Momen tersebut terasa lebih istimewa karena keluarga Carlo Acutis turut hadir. Kedua orang tuanya, Andrea dan Antonia, serta adik kembarnya, Francesca dan Michele, duduk di barisan paling depan. Michele bahkan mendapat kehormatan untuk membacakan Kitab Kebijaksanaan saat Misa Kudus. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa teladan iman dari seorang remaja sederhana bisa menginspirasi banyak orang.

Dalam khotbahnya, Paus Leo XIV mengutip doa Raja Salomo dari Kitab Kebijaksanaan, yang berisi permohonan akan hikmat. Paus mengaitkan kutipan “Siapakah yang dapat memahami kehendak-Mu, ya Tuhan, bila Engkau tidak memberikan kebijaksanaan dan mengutus Roh Kudus-Mu dari tempat tinggi?” dengan kehidupan Carlo Acutis dan Pier Giorgio Frassati, yang baru saja dikanonisasi.

Baca Juga :  Oknum PNS Terlibat Sindikat Penggelapan Mobil Rental

 

Pesan Paus Leo XIV untuk Kaum Muda

Paus Leo XIV menegaskan bahwa seperti Raja Salomo yang menyadari keterbatasannya, Pier Giorgio Frassati dan Carlo Acutis juga memahami bahwa kebijaksanaan sejati hanya berasal dari Tuhan. Keduanya lebih mengutamakan persahabatan dengan Kristus daripada ambisi duniawi.

Paus menyebut Frassati dan Acutis sebagai sahabat bagi kaum muda di seluruh dunia. Meskipun berasal dari era yang berbeda—Frassati dari awal abad ke-20 dan Carlo dari era digital—keduanya memiliki kesamaan, yaitu kecintaan yang besar pada Yesus.

Dalam pesannya yang disambut tepuk tangan meriah, Paus berpesan, “Jangan sia-siakan hidup. Arahkan ke atas, dan jadikan sebuah mahakarya.”

Paus menjelaskan bahwa jalan menuju kekudusan tidak harus melalui peristiwa luar biasa, melainkan bisa ditempuh dalam keseharian. Pier Giorgio Frassati menemukan Tuhan melalui kegiatan sehari-hari seperti sekolah, kelompok doa, dan pengabdian kepada sesama. Sementara itu, Carlo Acutis membangun imannya dalam lingkup keluarga, sekolah, dan terutama melalui Misa harian serta Adorasi Ekaristi. Bahkan, ia menggunakan kemampuannya di dunia digital untuk menyebarkan devosi Ekaristi. Menurut Paus, hal-hal sederhana inilah yang menjadi “rumus kemenangan” menuju kekudusan.

Seruan untuk Perdamaian dan Penutup Perayaan

Selain berbicara tentang kedua santo muda, Paus Leo XIV juga menyoroti isu global. Ia secara khusus menyerukan perdamaian di Tanah Suci, Ukraina, dan wilayah konflik lainnya.

Paus menegaskan bahwa senjata hanya membawa kehancuran dan tidak akan pernah menciptakan perdamaian. Ia menambahkan, Allah menghendaki perdamaian dan akan menopang mereka yang berjuang melalui dialog. Pesan ini menjadi salah satu sorotan penting dalam upacara kanonisasi.

Carlo Acutis Dan Pier Giorgio Frassati Menjadi Santo Gereja Katolik di Era Generasi Milenial

Setelah Misa, Paus Leo XIV memimpin doa Angelus dan menyapa umat yang hadir dengan berkeliling menggunakan mobil kepausan. Ia melambaikan tangan dan memberkati anak-anak. Momen hangat ini menutup perayaan dengan penuh sukacita dan haru, meninggalkan kesan mendalam bagi para peziarah. Salah satu peziarah asal Australia, Caroline Khouri, mengaku akan selalu mengenang perayaan yang penuh sukacita itu.

Baca Juga :  Perkemahan Pramuka SMA Xaverius 2 Palembang: Membangun Karakter dan Kemandirian Sejak Dini

Makna Kanonisasi

Kanonisasi Pier Giorgio Frassati dan Carlo Acutis memiliki makna penting bagi Gereja Katolik. Keduanya membuktikan bahwa kekudusan dapat dicapai oleh siapa pun, bahkan oleh seorang mahasiswa atau remaja biasa. Bagi kaum muda, peristiwa ini adalah ajakan untuk menjadikan hidup sebagai mahakarya dengan mengarahkannya kepada Tuhan dan sesama. Melalui teladan kedua santo ini, Paus Leo XIV mengajak dunia untuk tidak hanya menjadikan hidup sebagai mahakarya iman, tetapi juga berkomitmen membangun perdamaian. (*)