KASIH YANG MENDAHULUI KELAYAKAN

KASIH YANG MENDAHULUI KELAYAKAN

RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP”

Jumat, 10 April 2026

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id
Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita, Yesus Kristus.
Kiranya damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan dari Tuhan perlahan mengalir dan memenuhi setiap ruang hati kita, bahkan di saat kita merasa lelah, kosong, atau seolah tidak baik-baik saja.
Di masa Paskah yang baru saja kita rayakan, Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak… menarik napas… dan dengan jujur melihat ke dalam hati kita sendiri.
Biarlah hari ini menjadi langkah baru…
langkah kecil untuk kembali berjalan bersama Tuhan.
Renungan ini disampaikan oleh amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th sebagai penguatan iman bagi kita semua.

_”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”_ (Roma 5:8)

Ada satu kecenderungan dalam hidup manusia: kita ingin merasa layak terlebih dahulu sebelum menerima kasih. Kita berpikir bahwa kita harus berubah dulu, menjadi lebih baik dulu, baru kemudian pantas dikasihi. Logika ini begitu manusiawi, bahkan begitu religius, namun justru bertentangan dengan inti Injil.

Rasul Paulus dalam ayat ini mengguncang cara berpikir tersebut. Ia tidak berkata bahwa Kristus mati untuk orang-orang yang sudah bertobat, atau yang sudah hidup benar. Sebaliknya, ia menegaskan sesuatu yang radikal: Kristus mati ketika kita masih berdosa. Artinya, kasih Allah tidak menunggu perubahan kita; kasih itu justru menjadi awal dari perubahan itu sendiri.

Di sini kita melihat bahwa kasih Allah bersifat mendahului. Hal ini adalah bentuk inisiatif Allah, sebuah tindakan yang tidak bergantung pada respons manusia. Kasih Allah bukan reaksi, melainkan tindakan bebas yang keluar dari diri-Nya sendiri. Ia tidak mencintai karena kita layak; Ia mencintai karena Ia adalah kasih.

Baca Juga :  Menjadi Rekan Kerja Allah

Jika kita melihat kasih Allah dari perspektif salib, kita menemukan paradoks yang mendalam. Salib adalah simbol kematian, kehinaan, dan kegagalan. Walau demikian, justru di sanalah kasih Allah dinyatakan secara paling nyata. Dalam terang ini, kita dapat memahami, kasih sejati tidak selalu hadir dalam bentuk yang nyaman. Ia sering hadir dalam penderitaan, dalam pengorbanan, bahkan dalam “kebodohan” menurut ukuran dunia.

Di sinilah kita dapat mengaitkannya dengan refleksi teologis tentang “kebodohan Allah”, sebuah gagasan yang juga diangkat oleh Paulus dalam bagian lain tulisannya. Salib tampak bodoh bagi dunia, tetapi justru di situlah hikmat dan kasih Allah bekerja. Allah memilih jalan yang tidak masuk akal bagi manusia untuk menyatakan kedalaman kasih-Nya. Bukan dari kemuliaan-Nya kasih itu dinyatakan bagi dunia, justruk dari sensara dan hina yang dialami-Nya.

Kasih Allah tidak hanya berhenti pada diri-Nya, melainkan mengalir pada diri kita yang melahirkan panggilan etis. Jika Allah mengasihi kita tanpa syarat, maka kita pun dipanggil untuk mengasihi sesama dengan cara yang serupa. Mengasihi bukan hanya ketika orang lain pantas, tetapi justru ketika mereka tidak pantas. Di sinilah kasih menjadi tindakan yang melampaui keadilan menuju anugerah. Mengasihi bukanlah bentuk penghargaan atas prestasi atau kebaikan seseorang, melainkan seperti air yang terus mengalir; kasih menjadi identitas diri yang menghadirkan kesejukan bagi setiap hidup yang disentuhnya.

Akhirnya, renungan ini membawa kita pada satu kesadaran mendalam: hidup kita tidak dimulai dari usaha kita untuk mencapai Allah, tetapi dari kasih Allah yang telah lebih dahulu menjangkau kita. Dari sanalah seluruh perubahan, pertobatan, dan kehidupan baru bertumbuh. Hari ini, jangan tunggu menjadi sempurna untuk merasa dikasihi. Sebaliknya, hiduplah dari kesadaran bahwa Anda sudah dikasihi dan dari sanalah Anda dimampukan untuk berubah, menjadi aliran kasih yang menyejukkan bagi dunia.

Baca Juga :  Memanjat Pohon Ara

*Pokok Renungan:*
Kasih Allah tidak menunggu kita menjadi layak, melainkan justru menjangkau dan mengubahkan kita ketika kita masih berdosa.

*Lagu:*
KJ No. 434:1 “Allah adalah Kasih”

*Doa:*
Tuhan yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau mengasihi kami bukan karena kelayakan kami, tetapi karena anugerah-Mu yang besar. Ajarlah kami untuk hidup dalam kasih itu, mengalirkannya kepada sesama tanpa syarat, seperti Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami. Bentuklah hati kami agar semakin serupa dengan kasih-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa, Amin.

Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.

Amin

(VIP)