PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Dalam keheningan yang penuh makna, suasana ibadah Minggu Quasimodogeneti di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar pada Minggu, 12 April 2026, terasa begitu hidup, bukan hanya oleh suara pujian, tetapi oleh hati-hati yang datang dengan kerinduan yang tulus kepada Tuhan.
Di tengah proses renovasi rumah ibadah yang hampir sempurna, jemaat tetap setia hadir. Dinding mungkin belum sepenuhnya rampung, tetapi iman yang terbangun di dalam hati jemaat terasa semakin kokoh. Ada harapan yang bertumbuh, ada sukacita yang tidak dapat disembunyikan, dan ada kerinduan yang dalam untuk bersekutu bersama Tuhan.
Ibadah pun dimulai. Alunan Kidung Jemaat yang lembut mengisi ruangan, diiringi oleh Inang A. br. Sihombing bersama song leader Inang E.E. br. Sitorus dan Inang V. br. Silalahi. Setiap nada yang mengalun seakan menyentuh relung hati terdalam. Beberapa jemaat menutup mata, sebagian menunduk dalam doa dan di saat itu, pujian tidak lagi sekadar lagu, melainkan menjadi persembahan jiwa yang naik ke hadirat Tuhan.
Dengan penuh ketenangan, amang Pnt. P.H. Turnip memimpin liturgi, membawa jemaat berjalan dalam alur ibadah yang khidmat. Pembacaan epistel dari Imamat 20:1–7 mengingatkan bahwa sejak dahulu, Tuhan telah memanggil umat-Nya untuk hidup berbeda, hidup yang berkenan di hadapan-Nya.
Puncak ibadah terjadi ketika Firman Tuhan disampaikan oleh amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th dengan tema yang sederhana namun penuh makna: “Hidup Dalam Kekudusan”, berdasarkan I Petrus 1:13–16.
Dalam khotbahnya, beliau membuka dengan sapaan yang hangat:
“Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan…”
Firman Tuhan hari ini mengajak jemaat untuk merenungkan tentang kekudusan hidup. Rasul Petrus berkata:
“Hendaklah kamu menjadi kudus dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.”
Ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi sebuah panggilan hidup yang mendalam.
Beliau menegaskan bahwa kekudusan berasal dari pemilihan Allah. Kita menjadi kudus bukan karena kita baik, bukan karena prestasi iman kita, melainkan karena kita dipilih oleh Tuhan, menjadi umat kepunyaan-Nya, dan dibedakan dari dunia. Kekudusan adalah respons atas kasih karunia Tuhan. Kita kudus karena Tuhan terlebih dahulu memilih kita.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa kekudusan bukan sekadar moralitas. Banyak orang merasa sudah cukup karena tidak melakukan kejahatan. Namun Tuhan melihat lebih dalam—kepada hati dan motivasi. Seseorang bisa tampak baik di luar, tetapi jika hatinya tidak benar, maka itu tidak berkenan di hadapan Tuhan.
Firman Tuhan mengingatkan: “Siapkanlah akal budimu…”
Dari sinilah jemaat diajak memahami bahwa akar kekudusan adalah pikiran dan hati. Kekudusan dimulai dari cara berpikir, lalu membentuk hati, dan akhirnya terlihat dalam tindakan. Jika pikiran tidak benar, maka perbuatan baik pun bisa menjadi sia-sia.
Contohnya, berbuat baik agar dipuji atau melayani agar dilihat orang, semuanya bukanlah kekudusan sejati.
Kemudian dijelaskan makna pertobatan sejati (metanoia), yaitu perubahan cara berpikir. Bukan sekadar menyesal atau berhenti dari dosa, tetapi pembaharuan pikiran yang membawa perubahan hidup secara menyeluruh. Ketika pikiran dan hati berubah, maka hidup pun pasti berubah.
Kekudusan juga berarti hidup seperti Kristus, memiliki pikiran seperti Kristus, hidup untuk kebaikan orang lain, dan tidak hidup dalam kemunafikan. Yesus sendiri mengecam orang yang tampak suci di luar, tetapi hatinya kotor. Karena itu, kekudusan sejati adalah kesatuan antara hati, pikiran, dan tindakan.
Firman ini menuntun jemaat pada aplikasi yang sederhana namun dalam:
mulailah dari pikiran yang benar, hati yang bersih, dan niat yang tulus. Karena hidup yang benar di hadapan Tuhan selalu dimulai dari dalam, bukan dari luar.
Suasana pun menjadi hening. Bukan karena tidak ada suara, tetapi karena setiap hati sedang berbicara dengan Tuhan.
Menutup kotbahnya, amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th menyampaikan bahwa kita adalah bangsa yang terpilih, umat yang dikasihi Tuhan. Maka marilah kita hidup bukan sekadar terlihat baik, tetapi sungguh-sungguh hidup dalam kekudusan.
Mulai hari ini:
– periksa pikiran kita
– periksa hati kita
– periksa motivasi kita
Dan biarlah hidup kita menjadi:
– terang
– berkenan
– dan memuliakan Tuhan
Dalam rangkaian ibadah tersebut, jemaat juga mengikuti momen yang penuh haru. Sesuai keputusan Sidang Umum Jemaat, dilaksanakan penyerahan cenderamata kepada keluarga almarhum amang Pnt. B. Pasaribu, yang telah setia melayani hingga akhir hidupnya.
Cenderamata diterima oleh Inang C. Pnt. D. br. Sidabutar sebagai perwakilan keluarga. Jemaat juga mengumpulkan persembahan kasih sebagai bentuk dukungan dan kepedulian. Suasana haru menyelimuti ibadah, mengingatkan bahwa pelayanan yang setia tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.

Dalam pelayanan ibadah, turut melayani:
– Warta Jemaat & Doa Syafaat: Inang C. Pnt. D. br. Sidabutar
– Song Leader/Pujian: Inang E.E. br. Sitorus & Inang V. br. Silalahi
– Organis: Inang A. br. Sihombing
– Persembahan: Amang C. Pnt. P. Purba & Amang C. Pnt. H. Pasaribu
– Penerimaan Tamu: Amang C. Pnt. Victor Asido Elyakim P & Inang C. Pnt. P.C. br. Simbolon
Ibadah ini menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Ibadah menjadi panggilan yang hidup.
Di akhir ibadah, suasana hangat terasa saat jemaat saling bersalaman satu dengan yang lain. Senyum, sapaan, dan pelukan sederhana menjadi tanda kasih persaudaraan yang hidup di tengah persekutuan.
Dalam momen kebersamaan itu, jemaat juga saling mengingatkan akan sukacita yang akan segera datang. Melalui Warta Jemaat yang telah disampaikan, diumumkan bahwa Pesta Syukuran Memasuki Gedung Gereja Baru akan dilaksanakan pada Minggu, 19 April 2026 pukul 09.00 WIB.

Kabar ini disambut dengan penuh antusias dan harapan. Setelah melalui proses panjang renovasi, jemaat rindu untuk kembali berkumpul dalam sebuah perayaan syukur, bukan hanya atas berdirinya gedung yang baru, tetapi atas penyertaan Tuhan yang nyata dalam setiap perjalanan iman mereka.
Ada sukacita yang mulai terasa bahkan sebelum hari itu tiba. Sebuah kerinduan untuk kembali berkumpul, memuji Tuhan bersama, dan merayakan kasih-Nya yang tidak pernah berhenti.
Dan ketika ibadah usai, jemaat tidak sekadar pulang. Mereka melangkah dengan hati yang diperbaharui, iman yang diteguhkan, dan kesadaran bahwa Tuhan sedang terus bekerja, membangun hati setiap umat-Nya untuk hidup kudus.
Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Bagi jemaat dan donatur yang tergerak untuk memberikan bantuan bagi renovasi GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar, dapat menyalurkan donasi melalui:
Rekening Donasi:
🏦 Bank: Bank SUMUT
💳 Nomor Rekening: 22002040465521
📌 Atas Nama: PANPEM GKPI JK Immanuel
Setiap dukungan yang diberikan, baik besar maupun kecil, akan sangat berarti bagi pembangunan rumah Tuhan. Tuhan memberkati setiap tangan yang memberi dengan sukacita.
“Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kita lebih besar dari segala allah. Tetapi siapakah yang mampu mendirikan rumah bagi-Nya, karena langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku mampu mendirikan rumah bagi-Nya, kecuali hanya untuk membakar korban di hadapan-Nya?”
(2 Tawarikh 2:5-6)
Soli Deo Gloria.
(VIP)



