Anggir/Jeruk Purut/Unte Mungkur dalam Adat & Budaya Batak di Samosir

Anggir/Jeruk Purut/Unte Mungkur dalam Adat & Budaya Batak di Samosir

Samosir, mediasumatera.id – Tradisi sebagian masyarakat Batak di Samosir yang rmenggunakan Jeruk Purut/Unte Mungkur/Anggir dalam Adat & Budaya, masih tetap terpelihara sampai sekarang. Sekali dalam seminggu yaitu setiap hari Rabu, para pedagang dari berbagai desa datang membawa dagangannya untuk dipasarkan di Onan Baru Pangururan. Masyarakat yang memerlukan sesuatu pun, akan menyediakan waktunya membeli keperluannya pas hari onan itu. Termasuk untuk membeli anggir. Pada hari Rabu umumnya barang barang dagangan dalam kondisi segar termasuk Jeruk purut/ Unte Mungkur/ Anggir (dalam bahasa Batak). Sasnaek Naibaho Siagian, pria kelahiran Pangururan ini merupakan pegiat rempah yang digunakan sebagai obat tradisional Batak. Setiap hari ia berjualan berbagai rempah tradisional di Pasar Percontohan Pangururan, termasuk anggir. Melalui TaromboTVMedia.co ini, untuk pertama kalinya Sasnaek Naibaho menulis tentang anggir ini
I. Sejarah & Asal-usul Pemakaian
Nggak ada catatan tahun pasti, tapi unte mungkur(anggir/Jeruk purut) sudah dipakai sejak zaman orang tua / leluhur / opung kami dulu. Anggir terasuk kategori “raja ni unte”= rajanya jeruk, karena dianggap paling “bertuah”.
Dulu dibawa dari Barus, kota pelabuhan rempah tua. Karena wanginya kuat dan tahan lama, dipakai buat ritual pengusir roh jahat dan pembersih. Masuk ke budaya Batak lewat penganut kepercayaan “PARBARINGIN” dan tetua adat/dukun.
2. Makna Simbolis Anggir/Jeruk Purut
dalam Adat Batak adalah
wangi nya yang tajam, Diyakini mampu menolak bala, pengusir roh jahat/saem, pembersih aura negatif
Kulit nya berkerut : Simbol kehidupan yang penuh liku-liku tapi tetap bertahan (komitmen kuat)
Warna hijau : Lambang kesuburan, kesejahteraan, harapan hidup
Rasa pahit/asam : Simbol bahwa hidup tidak selalu manis, harus kuat menghadapi pahitnya perjalanan hidup menuju sukses.
Falsafah : “Tabo do na paet, hipas do na denggan”” (Pahit itu enak/obat, sehat itu yang baik. Pahitnya jeruk purut = obat.

Baca Juga :  Polda Sumsel Pimpin Program BELIDA di Ogan Ilir, Integrasikan Lingkungan Bersih dan Pengamanan Lebaran

3. Tujuan & Fungsi dalam Ritual Adat
Dipakai di banyak upacara. Fungsinya ada tiga yaitu : Pembersih, Penyembuh dan Penangkal. Selain itu, anggir berfungsi sebagai :
A. Manguras / Pembersihan
1. Mandera/Upa-upa Tondi. Air berisi irisan unte mungkur + bunga bungaan dipakai percikin ke orang yang sakit, habis kemalangan, atau anak baru lahir. Tujuan : mangalap tondi = panggil semangat biar kuat lagi.
2. Memasuk rumah baru → Air jeruk purut dipercikkan ke seluruh sudut rumah. Usir sahe/energi negatif
3. Pulang dari kuburan→ Cuci tangan/muka pakai air Anggir biar “sawan” atau roh halus tidak ikut pulang.
B. Mangaluarhon Sahit / Tolak Bala
1. Sapu sawan → Daun + buah diikat, dipakai menyapu badan orang kesurupan atau sakit aneh.
2. Pagaran tano → Tanam unte mungkur di 4 sudut pekarangan. Dipercaya jadi pagar gaib dari niat jahat orang.
3. Waktu Marsanggul / wabah → Air jeruk purut taruh depan pintu biar penyakit tidak masuk.
C. Pelean / Sesajen
1. Di atas pinggan panuturan – saat mangongkal holi = bongkar tulang leluhur. Unte mungkur wajib ada sebagai persembahan ke penghuni alam gaib.
2. Acara Mangido Udan → Ritual minta hujan, unte mungkur jadi bagian persembahan ke Mulajadi Nabolon.
3. Dalam Pemakaian ritual, dominan ganjil jumlahnya kalau buat pelean: 1, 3, 5, 7 buah. Genap dianggap untuk orang mati (red)