PALEMBANG, mediasumatera.id – Pemandangan berbeda terlihat di Gereja Katolik Santo Petrus Kenten, Palembang, pada Minggu (3/5/2026) pagi. Ribuan warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdomisili di Palembang “memutihkan” kawasan gereja dengan balutan kain tenun ikat khas daerah yang mencolok dan megah.
Kehadiran seribuan umat ini dalam rangka mengikuti Misa Inkulturasi Budaya Flores dan Timor. Acara yang bertepatan dengan momen Bulan Maria ini menjadi ajang unjuk kekayaan budaya sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga perantauan di Bumi Sriwijaya.

Doa dalam Lima Bahasa Daerah
Kekhasan acara sudah terasa sejak pagi di pendopo gereja. Umat mendaraskan doa Rosario secara bergantian menggunakan lima bahasa daerah sekaligus, yakni Bahasa Dawan, Lamaholot, Bajawa, Sikka, dan Manggarai. Meski menggunakan bahasa yang berbeda-beda, suasana tetap berlangsung khidmat.
Ketua Pelaksana melalui Komunio Komsos KAPal menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menegaskan bahwa ibadah tidak membatasi identitas budaya seseorang. “Kita ingin menunjukkan bahwa di Palembang, keberagaman itu indah. Umat bisa beribadah dengan tetap menjunjung tinggi akar budaya asal mereka,” ujarnya.

Arak-arakan dan Tarian Khas Timur
Daya tarik utama warga yang melintas di area Kenten adalah saat patung Bunda Maria diarak menuju dalam gereja. Uniknya, patung tersebut dibalut kain adat khas Flores dan Timor. Langkah para imam menuju altar pun diringi hentakan kaki para penari tradisional Lamaholot.
Ibadah dipimpin oleh Rm. Gregorius Wahyu Wurdiyanto, SCJ, bersama sejumlah imam putra daerah asal NTT Rm. Florentinus, SCJ, Rm. Titus Jatra Kelana, Rm. Ongko, Rm. Damian, dan Rm. Lucio, O.Carm.
. Dalam pesan rohaninya, Rm. Wahyu mengapresiasi semangat komunitas Flores dan Timor yang tetap menjaga tradisi meski jauh dari kampung halaman.
“Ini adalah peristiwa iman yang luar biasa. Komunitas NTT hadir memberikan warna bagi Gereja dan masyarakat Palembang,” ungkapnya.

Semarak Tarian Caci
Usai ibadah formal, suasana berubah menjadi pesta rakyat di halaman gereja. Suara musik khas Timur mulai terdengar mengiringi Tarian Hegong dari Maumere dan Tarian Ja’i asal Bajawa. Tidak ketinggalan, atraksi Tarian Caci khas Manggarai menjadi magnet perhatian umat dan masyarakat sekitar.
Acara ditutup dengan tradisi makan bersama sebagai simbol persaudaraan. Misa Inkulturasi ini menjadi bukti nyata bahwa Palembang adalah kota yang inklusif, di mana berbagai etnis dapat mengekspresikan budayanya dengan aman dan penuh sukacita.(daris)







