Samosir, mediasumatera.id – Kegiatan utama Ir. Kadiman Pakpahan, M.M. (yang dikenal dengan julukan Mr. Dreamer) dalam pemberdayaan masyarakat untuk membangun sadar gizi adalah mempelopori Gerakan Sadar Gizi (GAZI) serta mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan stunting berbasis budaya lokal. (Suatu liputan dari aktivitas di lapangan)

Visi besar ini dituangkan secara mendalam dalam bukunya yang berjudul “MEMBANGUN MIMPI: Menuju Indonesia Unggul”. Buku tersebut membahas solusi strategis dalam mengatasi masalah gizi ganda di Indonesia, termasuk stunting, wasting, dan kekurangan zat gizi mikro.
Berikut adalah rincian bentuk kegiatan nyata yang dilakukan oleh Mr. Dreamer untuk membangun kesadaran gizi masyarakat:
1.Penyuluhan Gerakan Sadar Gizi (GAZI):
Sejak tahun 2021, ia secara konsisten turun langsung ke masyarakat, salah satunya di wilayah Samosir dan srkitarnya, untuk mengadakan penyuluhan gizi secara mandiri maupun berkolaborasi dengan posyandu, sekolah, gereja dan lembaga keagamaan seperti MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia). Edukasi ini menyasar para orang tua agar lebih memperhatikan pola makan dan tumbuh kembang anak.
2.Edukasi Gizi Berbasis Patologi Sosial dan Budaya Lokal:
Sebagai Wakil Ketua Departemen Patologi Sosial di Batak Center, ia mengintegrasikan pendekatan budaya lokal dalam menyelesaikan masalah kesehatan. Ia menekankan bahwa intervensi gizi tidak boleh hanya bersifat klinis, tetapi harus menyentuh kebiasaan sosial dan pola asuh kultural masyarakat setempat.
3.Ketahanan Pangan Melalui Pembagian Bibit Tanaman:
Untuk memastikan masyarakat tidak hanya paham teori tetapi mampu mempraktikkannya, kegiatan penyuluhannya selalu disertai dengan aksi nyata. Ia membagikan bibit sayur gratis berupa kelor, kale, kacang panjang, pepaya, dan tanaman toga kepada kaum ibu dan jemaat lokal agar masyarakat bisa mandiri dalam menyediakan bahan makanan bergizi langsung dari pekarangan rumah.
4.Pendampingan Ibu Hamil dan Balita di Posyandu:
Ia aktif mengawal pelaksanaan pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Ibu Hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis) serta balita berisiko stunting di tingkat posyandu desa. Langkah preventif ini bertujuan memutus rantai masalah gizi sejak anak masih dalam kandungan.

Tidak berhenti memberdayakan masyarakat sebatas turun ke lapangan tetapi aktif juga memberikan motivasi melalui media sosial agar dapat menjangkau wilayah dan audience yang lebih luas dan menginspirasi para pemangku kepentingan. Pada prinsipnya, beliau berharap agar generasi ke depan lahir menjadi penguasa Iptek atas dasar fondasi yang kokoh dengan asupan bergizi sejak dini (1000 hari usia emas sejak adanya kehidupan (red)







