mediasumatera.id – Model PERSIMBELIMEN (Penguatan Pemahaman Guru, Supervisi dan Pendampingan Akademik, Penguatan Komunitas Belajar, serta Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial) dikembangkan sebagai strategi pendampingan sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan kapasitas guru, kolaborasi, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan.
Pendekatan inkuiri kolaboratif dipilih dalam pengembangan Komunitas Belajar pada model PERSIMBELIMEN karena perubahan praktik pembelajaran tidak cukup dilakukan melalui pemberian pelatihan atau penyampaian informasi secara satu arah, tetapi membutuhkan proses guru untuk memahami kondisi nyata, menemukan permasalahan berdasarkan data, menganalisis akar masalah, merancang solusi, menerapkan strategi, serta melakukan refleksi secara bersama.
Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi menjadi pembelajar profesional yang aktif membangun solusi sesuai dengan konteks sekolahnya. Pemilihan pendekatan ini juga selaras dengan konsep Komunitas Belajar yang menempatkan guru sebagai kelompok pembelajar yang secara rutin berkolaborasi untuk membahas permasalahan pembelajaran, berbagi praktik baik, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Komunitas Belajar bukan sekadar forum pertemuan, tetapi menjadi ruang pengembangan profesional yang mendorong budaya belajar bersama dan perbaikan praktik secara berkelanjutan. Selain itu, pendekatan inkuiri kolaboratif relevan dengan implementasi Pembelajaran Mendalam yang menekankan pentingnya kolaborasi, refleksi, pemecahan masalah, dan keterlibatan aktif pendidik dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Dalam penguatan Pembelajaran Mendalam, guru juga diarahkan untuk melakukan kolaborasi inkuiri dalam kelompok belajar sebagai bagian dari pengembangan profesionalnya.
Penerapan inkuiri kolaboratif dalam Komunitas Belajar melalui model PERSIMBELIMEN dilakukan melalui empat tahap utama:
- Assess (Asesmen) Tahap Assess dilakukan untuk memetakan kondisi nyata sekolah melalui wawancara, observasi, dan pengumpulan data terkait kompetensi guru, praktik pembelajaran, kebutuhan pengembangan profesional, serta kesiapan implementasi Pembelajaran Mendalam dan KKA. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menemukan akar masalah dan merumuskan permasalahan prioritas yang menjadi dasar dalam menentukan strategi pendampingan.
- Design (Perancangan) Tahap Design merupakan proses penyusunan strategi berdasarkan hasil analisis kebutuhan dengan menggunakan prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, and Time-bound). Pada tahap ini sekolah bersama pengawas dan guru menyusun tujuan, indikator keberhasilan, program kegiatan, pembagian peran, serta waktu pelaksanaan agar strategi pengembangan Kombel dapat berjalan secara terarah dan terukur.
- Implement (Implementasi) Tahap Implement dilakukan dengan melaksanakan strategi yang telah dirancang melalui aktivitas Komunitas Belajar secara kolaboratif. Kegiatan dapat berupa berbagi praktik baik, diskusi permasalahan pembelajaran, kajian perangkat pembelajaran, refleksi praktik mengajar, serta penerapan strategi Pembelajaran Mendalam dan KKA di kelas. Pada tahap ini supervisi dan pendampingan akademik berperan untuk memastikan guru memperoleh dukungan dalam menerapkan perubahan.
- Measure, Reflect, Change (Mengukur, Merefleksikan, dan Melakukan Perubahan) Tahap ini dilakukan dengan mengukur keberhasilan program berdasarkan indikator yang telah ditentukan, kemudian melakukan refleksi bersama untuk mengetahui capaian, hambatan, dan dampak implementasi. Hasil refleksi menjadi dasar untuk menentukan perubahan atau penyempurnaan strategi berikutnya.
Siklus inkuiri kolaboratif dalam model PERSIMBELIMEN bersifat dinamis dan berkelanjutan. Apabila hasil refleksi menunjukkan bahwa identifikasi masalah belum menggambarkan kondisi nyata sekolah, maka proses kembali ke tahap Assess untuk melakukan pemetaan ulang. Namun, apabila akar masalah telah sesuai tetapi strategi yang diterapkan belum memberikan hasil optimal, maka perbaikan dilakukan pada tahap Design melalui penyempurnaan strategi, indikator keberhasilan, maupun langkah implementasi.
Dengan demikian, Komunitas Belajar dalam model PERSIMBELIMEN bukan hanya menjadi wadah pertemuan guru, tetapi menjadi ekosistem belajar profesional yang memungkinkan guru melakukan refleksi, berbagi praktik baik, membangun solusi bersama, dan melakukan perubahan secara konsisten untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023).
- Optimalisasi Komunitas Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025).
- Panduan Pembelajaran Mendalam. Jakarta: Kemendikdasmen. DuFour, R. (2004). What Is a Professional Learning Community? Educational Leadership, 61(8), 6–11. Timperley, H. (2011).
- Realizing the Power of Professional Learning. Maidenhead: Open University Press.Senge, P. M. (1990).
- The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization. New York: Doubleday







