Opini  

HEBATNYA LAKSAMANA CHENG HO DAN RUMAH BERSAMA BANGSA

HEBATNYA LAKSAMANA CHENG HO DAN RUMAH BERSAMA BANGSA

– Bhakti Indonesia dari Masjid Istiqlal Hingga Kelenteng Sam Poo Kong

Oleh Denny JA

mediasumatera.id – Suatu pagi di Sam Poo Kong, Semarang, langkah saya terhenti oleh pemandangan sederhana. Seorang perempuan tua menyalakan hio, sementara lelaki Muslim berpeci berdoa di belakangnya.

Mereka datang melalui jalan iman berbeda, tetapi menghormati manusia yang sama. Saat itu saya memahami bahwa Indonesia selalu menemukan jalan untuk menjadi rumah bersama.

-000-

Empat tahun terakhir, saya mengikuti perjalanan Bhakti Indonesia setiap bulan Agustus. Kami berpindah rumah ibadah untuk merawat persaudaraan, bukan mencampurkan ajaran ataupun menyeragamkan keyakinan.

Dari perjalanan itu saya belajar bahwa cinta tanah air bukan hanya slogan. Nasionalisme memperoleh makna ketika diwujudkan melalui pelayanan yang membuat kehidupan sesama menjadi lebih baik.

Hari ini, perjalanan itu membawa saya ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Semarang. Di kawasan Simongan inilah jejak persinggahan Laksamana Cheng Ho terus dikenang.

Tradisi setempat mengisahkan Cheng Ho singgah ketika seorang awaknya jatuh sakit. Sebuah gua batu kemudian menjadi tempat beristirahat, berdoa, dan menunggu kesembuhan.

Setelah armada berlayar kembali, sebagian pengikutnya dipercaya memilih menetap. Dari petilasan sederhana itu tumbuh ruang penghormatan yang berkembang menjadi kompleks Sam Poo Kong.

Yang istimewa bukan hanya arsitektur merahnya yang megah. Yang menggetarkan ialah kenyataan bahwa kelenteng ini mengenang seorang laksamana Muslim dari Tiongkok.

Umat Konghucu, Buddha, Tao, dan banyak Muslim datang dengan penghormatan. Mereka tidak disatukan oleh kesamaan teologi, melainkan oleh penghargaan terhadap kebajikan manusia.

Sam Poo Kong tidak mengajarkan bahwa semua agama sama. Ia mengajarkan kedewasaan bahwa keyakinan berbeda dapat bertemu tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Di tengah dunia yang mudah mempertentangkan agama, tempat ini menawarkan bahasa lain. Perbedaan tidak harus melahirkan jarak, sebab penghormatan dapat menciptakan persaudaraan.

Sam Poo Kong adalah laboratorium kebangsaan yang hidup. Di sana, Indonesia belajar bahwa rumah bersama dibangun bukan oleh keseragaman, melainkan kelapangan hati.

-000-

Sudah lama saya mendengar nama Laksamana Cheng Ho. Namun semakin saya mempelajari kehidupannya, semakin terasa bahwa sejarahnya melampaui keberanian dan petualangan samudra.

Kehebatan pertamanya adalah kemenangan atas nasib yang tampak kejam. Ia lahir sekitar 1371 sebagai Ma He dalam keluarga Muslim Hui di Yunnan, wilayah barat daya Tiongkok.

Ketika Dinasti Ming menaklukkan Yunnan pada 1381, Ma He masih anak-anak berusia sekitar sepuluh tahun. Menurut catatan Britannica, ia ditawan, dikebiri, lalu dikirim ke istana sebagai kasim muda di lingkungan Pangeran Zhu Di.

Kasim adalah laki-laki yang dikebiri untuk bertugas dekat keluarga istana. Praktik keras itu menutup kemungkinan hidup seksual normal dan keturunan biologis.

Bagi banyak orang, pengalaman itu dapat menghancurkan harga diri dan masa depan. Namun Ma He mengubah kehilangan pribadi menjadi disiplin, kecerdasan, dan kesetiaan.

Ia tumbuh menjadi orang kepercayaan Pangeran Zhu Di, kelak Kaisar Yongle, yang kemudian menganugerahinya nama Zheng He. Dari seorang tawanan, ia bangkit menjadi tokoh penting dalam kekuasaan Dinasti Ming.

Sejarah tidak mencatat bukti kuat bahwa Cheng Ho menikah atau mempunyai anak biologis. Namun jutaan manusia kemudian menjadi pewaris nilai yang ditinggalkannya.

Ia membuktikan bahwa takdir menentukan titik awal, tetapi karakter menentukan arah perjalanan. Luka dapat mempersempit jiwa, namun juga dapat memperluas pengabdian.

-000-

Kehebatan kedua ialah keberhasilannya memimpin armada maritim terbesar pada zaman pra-modern. Ia memimpin tujuh ekspedisi besar antara 1405 dan 1433.

Menurut catatan Dinasti Ming yang dirujuk Columbia Asia for Educators, ekspedisi pertama pada 1405 sudah terdiri atas 317 kapal dan hampir 28.000 awak. Jangkauannya meliputi Asia Tenggara, India, Teluk Persia, Jazirah Arab, dan Afrika Timur.

Dalam ukuran armada, awak, dan kapasitas logistik, pelayarannya melampaui ekspedisi Eropa kemudian. Columbus berangkat pada 1492 dengan tiga kapal kecil, sedangkan Cheng Ho memimpin jaringan raksasa hampir sembilan dekade sebelumnya.

Vasco da Gama mencapai India melalui laut pada 1498, puluhan tahun sesudah ekspedisi pertama Cheng Ho. Asia telah lebih dahulu menghubungkan banyak pusat peradaban.

Namun kebesaran Cheng Ho tidak seharusnya diukur melalui persaingan sederhana dengan penjelajah Barat. Nilai utamanya terletak pada skala visi dan kemampuan organisasinya.

Ia membuktikan bahwa samudra bukan tembok pemisah, melainkan jalan perjumpaan manusia. Kapal-kapalnya membawa utusan, barang dagangan, pengetahuan, bahasa, dan kebudayaan.

Armada sebesar itu memerlukan navigasi, logistik, kesehatan, komunikasi, dan kepemimpinan luar biasa. Cheng Ho bukan sekadar pelaut, melainkan arsitek perjumpaan antarperadaban.

-000-

Kehebatan ketiga, dan menurut saya paling penting, adalah cara Cheng Ho menggunakan kekuasaan. Ia memiliki kemampuan menaklukkan, tetapi lebih memilih membangun hubungan.

Sejarah mengenal penakluk yang datang membawa pedang, pajak, dan rasa takut. Cheng Ho lebih sering datang membawa hadiah, perdagangan, diplomasi, dan penghormatan.

Ia memang memakai kekuatan militer menghadapi perompak atau penguasa yang mengancam armadanya. Karena itu, sejarahnya tidak boleh diubah menjadi dongeng tanpa nuansa.

Dinasti Ming juga mempunyai kepentingan politik, ekonomi, dan simbolik. Ekspedisi Cheng Ho memperluas kewibawaan kaisar serta jaringan hubungan upeti dan perdagangan.

Namun pelayaran itu tidak membangun imperium teritorial permanen seperti kolonialisme Eropa kemudian. Ia tidak meninggalkan penjajahan berabad-abad di wilayah yang disinggahinya.

Di sinilah perbedaannya menjadi penting. Penakluk menguasai wilayah untuk sementara, tetapi mereka yang menghormati manusia dapat menguasai ingatan selama berabad-abad.

Cheng Ho dicintai bukan karena membuat bangsa lain berlutut. Ia dikenang karena banyak masyarakat merasa diperlakukan sebagai mitra, bukan sekadar objek kekuasaan.

Jejaknya di Nusantara hadir dalam petilasan, kelenteng, masjid, tradisi lisan, dan nama jalan. Ingatan itu tumbuh karena persahabatan lebih tahan daripada ketakutan.

Kapal akhirnya lapuk, kekuasaan berganti, dan peta politik berubah. Namun rasa dihormati dapat diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

-000-

Semakin lama memandang Sam Poo Kong, semakin saya merasa berdiri di hadapan metafora Indonesia. Bangunan ini menyatukan sejarah, agama, migrasi, dan kebudayaan.

Sejarah bangsa bukan hanya dibentuk peperangan, pergantian kerajaan, atau perebutan kekuasaan. Ia juga dibentuk pelabuhan terbuka dan tamu yang datang dengan damai.

Saya membayangkan layar-layar armada Cheng Ho menghilang di cakrawala Laut Jawa. Kapalnya telah menjadi debu, tetapi pesan perjumpaannya tetap bertahan.

Peradaban tidak selalu lahir ketika seseorang mengalahkan musuh. Kadang peradaban tumbuh ketika manusia memilih menjadi tamu yang baik di rumah orang lain.

Gagasan itu terasa sangat Indonesia. Negeri ini dibangun oleh manusia berbeda yang tidak selalu sepakat, tetapi bersedia berbagi tanah air dan masa depan.

-000-

Karena itulah Sam Poo Kong tepat menjadi rumah ibadah keempat Bhakti Indonesia. Tempat ini memperlihatkan bagaimana perbedaan dapat diubah menjadi energi persaudaraan.

Bhakti Indonesia lahir dari keyakinan bahwa cinta tanah air harus memiliki tubuh. Ia harus terlihat dalam tangan yang menolong dan telinga yang mendengarkan.

Setiap Agustus, para relawan menghadirkan pengobatan gratis, donor darah, edukasi kesehatan, konsultasi psikologi, bantuan sosial, dan pelayanan kemanusiaan bagi masyarakat.

Gerakan ini dipimpin Mulia Jayaputri, pengusaha yang dikenal sebagai pemilik Restoran Bunga Rampai di Menteng. Dalam kegiatan ini, bisnis berubah menjadi panggilan pelayanan.

Menurut dokumentasi resmi Bhakti Indonesia, perjalanan dimulai pada 2023 di Masjid Istiqlal Jakarta. Setahun kemudian, kegiatan berpindah ke Gereja Katedral Jakarta, tetangga simbolik yang telah lama berdampingan.

Pada 2025, Bhakti Indonesia hadir di Pura Agung Besakih, Bali. Tahun 2026, perjalanan mencapai Kelenteng Agung Sam Poo Kong di Semarang.

Empat rumah ibadah mewakili empat tradisi dan empat cara manusia berdoa. Namun semuanya membawa satu pesan bahwa Indonesia adalah rumah bersama.

Perpindahan tempat bukan sekadar pilihan lokasi atau latar acara. Ia adalah pendidikan publik untuk mengetuk pintu rumah orang lain dengan hormat.

Saya menyaksikan dokter Muslim memeriksa pasien Kristen dan relawan Katolik membantu lansia Muslim. Umat Hindu serta pemuda Konghucu mengatur antrean bersama.

Di ruang pelayanan, identitas tidak dihapus atau disembunyikan. Ia ditempatkan dalam persaudaraan kebangsaan yang membuat perbedaan kehilangan daya untuk memisahkan.

Bhakti Indonesia bukan proyek mencampurkan agama. Ia mengajak setiap orang teguh pada imannya sambil mengamalkan kasih yang diajarkan seluruh tradisi luhur.

-000-

Ketika memikirkan Cheng Ho dan Bhakti Indonesia, saya teringat Bowling Alone karya Robert D. Putnam. Buku ini menjelaskan pentingnya modal sosial bagi bangsa.

Putnam menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan ekonomi atau militer. Bangsa bertahan ketika warganya saling percaya, membantu, dan membangun jejaring sehat.

Ketika modal sosial melemah, demokrasi ikut rapuh dan masyarakat mudah terpecah. Ketika kepercayaan tumbuh, bangsa lebih tangguh menghadapi krisis bersama.

Bhakti Indonesia bekerja pada wilayah yang sering tidak terlihat itu. Ia membangun pengalaman kecil yang menambah kepercayaan di antara warga berbeda identitas.

-000-

Saya juga teringat The Moral Imagination karya John Paul Lederach. Buku ini menjelaskan bahwa perdamaian membutuhkan kemampuan membayangkan masa depan bersama.

Perdamaian tidak cukup lahir dari perjanjian politik atau aturan hukum. Ia bertahan ketika manusia melihat pihak berbeda sebagai sesama, bukan ancaman.

Lederach menyebut perlunya imajinasi moral, yakni keberanian melampaui rasa takut. Empati harus mendahului kecurigaan agar perbedaan tidak berubah menjadi kekerasan.

Sam Poo Kong dan Bhakti Indonesia menghidupkan imajinasi moral itu. Keduanya mempertemukan identitas berbeda dalam ruang penghormatan dan pelayanan nyata.

-000-

Dua buku tersebut membantu saya memahami bahwa kegiatan ini bukan sekadar layanan kesehatan. Yang sedang dirawat adalah modal sosial dan imajinasi moral Indonesia.

Empat tahun lalu, saya datang terutama karena ingin ikut melakukan kerja sosial. Kini saya pulang dengan perubahan batin yang tidak saya perkirakan.

Saya belajar bahwa memasuki rumah ibadah agama lain dengan hormat tidak mengurangi iman. Pengalaman itu justru membuat keyakinan terasa lebih dewasa dan rendah hati.

Di Sam Poo Kong, saya bertanya mengapa seorang Muslim dihormati dalam kelenteng. Jawabannya muncul perlahan bahwa kebajikan sering hidup lebih lama daripada identitas.

Saya juga menyadari bahwa kerja sosial tidak hanya menolong penerima. Ia menyelamatkan pemberi dari kehidupan sempit yang terlalu berpusat pada diri sendiri.

Kita hidup dari apa yang kita ambil, tetapi menemukan makna melalui apa yang diberikan. Di sanalah kemurahan hati memperoleh kedalaman spiritualnya.

-000-

Tentu ada yang menilai Bhakti Indonesia hanya simbol indah. Perpindahan rumah ibadah tidak otomatis menyelesaikan kemiskinan, ketimpangan, intoleransi, atau diskriminasi.

Kritik itu mengandung kebenaran yang perlu dihormati. Masalah struktural membutuhkan kebijakan, penegakan hukum, pendidikan publik, serta kerja institusional berjangka panjang.

Namun simbol dan struktur bukanlah lawan yang harus dipertentangkan. Struktur tanpa nilai menjadi mesin dingin, sedangkan simbol tanpa tindakan menjadi hiasan.

Bhakti Indonesia bermakna karena simbol persaudaraan diterjemahkan menjadi pelayanan nyata. Warga memperoleh obat, pemeriksaan, pendampingan, dan pengalaman dihormati tanpa syarat.

Satu kegiatan memang tidak mengubah seluruh Indonesia. Namun ia dapat mengubah cara ribuan orang memandang mereka yang sebelumnya dianggap berbeda.

Perubahan sosial kadang dimulai dari pengalaman sederhana seorang anak. Ia melihat orang tuanya menolong pemeluk agama lain tanpa rasa takut atau curiga.

Pengalaman itu menjadi memori moral yang bertahan lama. Kelak, memori tersebut mungkin mencegah tangannya menyebarkan kebencian atau ikut melakukan kekerasan.

Sam Poo Kong sendiri berawal dari tempat persinggahan yang kecil. Enam abad kemudian, ia menjadi simbol persaudaraan lintas agama dan peradaban.

-000-

Di Sam Poo Kong, sejarah tidak membeku menjadi batu. Ia tetap hidup dalam doa-doa berbeda yang bertemu dalam penghormatan kepada manusia yang sama.

Cheng Ho telah lama pergi, tetapi semangat perjumpaannya terus bertahan. Ia mengingatkan bahwa identitas boleh berbeda, sementara kasih dan martabat kemanusiaan tetap mempersatukan.

Ketika kegiatan dirancang dan berjalan, saya kembali berdiri di halaman Sam Poo Kong. Selalu terjadi dalam kegiatan Bhakti Indonesia sebelumnya, para relawan membereskan meja, sementara warga pulang membawa obat dan harapan.

Seorang lansia menggenggam tangan relawan yang memeriksanya, lalu mengucapkan terima kasih. Kalimat sederhana itu menjelaskan alasan seluruh kegiatan ini diselenggarakan.

Bhakti Indonesia tentu tidak mampu menyelesaikan semua persoalan bangsa. Namun kegiatan ini dapat membuat penderitaan seseorang sedikit lebih ringan dan kecemasannya sedikit berkurang.

Empat tahun perjalanan mengajarkan bahwa rumah bersama tidak dibangun dengan menyeragamkan penghuninya. Ia dibangun dengan menyediakan ruang terhormat bagi setiap perbedaan.

Cheng Ho memiliki armada yang dapat menaklukkan, tetapi memilih membangun hubungan. Karena itu, ia dikenang bukan melalui ketakutan, melainkan penghormatan.

Bhakti Indonesia menerjemahkan pelajaran itu ke dalam tindakan. Cinta tanah air memperoleh tubuh melalui darah, obat, pendampingan, dan martabat yang dijaga.

Armada Cheng Ho telah lama menghilang, tetapi pesannya masih berlayar. Peradaban tidak diwariskan oleh mereka yang paling kuat, melainkan oleh mereka yang membuat sesamanya tetap merasa saudara.*

Semarang, 6 Agustus 2026

REFERENSI

Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community, Simon & Schuster, 2000.

John Paul Lederach, The Moral Imagination: The Art and Soul of Building Peace, Oxford University Press, 2005.

“Zheng He,” Encyclopædia Britannica, https://www.britannica.com/biography/Zheng-He, diakses 6 Agustus 2026.

“The Ming Voyages,” Asia for Educators, Columbia University, https://afe.easia.columbia.edu/special/china_1000ce_mingvoyages.htm, diakses 6 Agustus 2026.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/p/1EnGENNdjh/?mibextid=wwXIfr