Lumban Suhi Suhi Toruan, mediasumatera.id – Sebuah yayasan baru dengan nama Yayasan Tarombo Dalihan Natolu mulai diperkenalkan kepada publik dengan membawa gagasan yang erat dengan pelestarian tarombo, budaya Batak, serta nilai-nilai kekerabatan Dalihan Natolu.
Nama tersebut tergambar kuat dalam logo yayasan yang menampilkan pohon dengan akar dan cabang yang kokoh di atas tiga pilar, dikelilingi lingkaran dengan tulisan “Tarombo Dalihan Natolu” dan “Yayasan”. Secara simbolik, visual tersebut menggambarkan hubungan antara leluhur, generasi penerus, serta tiga unsur utama dalam sistem kekerabatan Batak.
Tarombo sebagai identitas dan jembatan antargenerasi
Dalam kehidupan masyarakat Batak, tarombo bukan sekadar daftar nama atau silsilah keluarga. Tarombo menjadi sarana untuk memahami garis keturunan, hubungan kekerabatan dan posisi seseorang dalam sistem partuturan.
Sejumlah kajian mengenai masyarakat Batak Toba juga menempatkan tarombo sebagai bagian penting dalam memahami hubungan kekerabatan dan menentukan partuturan dalam kerangka Dalihan Natolu.
Karena itu, keberadaan lembaga yang menggunakan nama Tarombo Dalihan Natolu memiliki ruang yang cukup luas untuk bergerak dalam bidang dokumentasi, penelitian, edukasi dan pelestarian budaya.
Terlebih di tengah perkembangan zaman dan mobilitas generasi muda yang semakin tinggi, pengetahuan mengenai asal-usul keluarga, marga, partuturan dan sejarah kampung halaman menghadapi tantangan tersendiri.
Tiga pilar Dalihan Natolu
Dalihan Natolu secara harfiah menggambarkan tungku yang ditopang tiga batu. Dalam sistem sosial Batak Toba, tiga unsur tersebut dikenal sebagai hula-hula, dongan tubu dan boru.
Ketiganya membentuk keseimbangan hubungan sosial. Prinsip tersebut antara lain dirangkum dalam ungkapan somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru. Pemerintah melalui Badan Pelaksana Otorita Danau Toba juga menjelaskan Dalihan Natolu sebagai falsafah hidup dan sistem kekerabatan yang menekankan keseimbangan, keharmonisan dan tanggung jawab sosial.
Dengan demikian, nama Yayasan Tarombo Dalihan Natolu dapat dimaknai bukan hanya sebagai lembaga yang berbicara mengenai silsilah, tetapi juga sebagai wadah yang berpotensi mengembangkan nilai persaudaraan, penghormatan, kepedulian dan keseimbangan sosial.
Pohon dalam logo menjadi simbol generasi
Menariknya, logo yang diperkenalkan yayasan tersebut menggunakan gambar pohon besar dengan tiga pilar sebagai penyangga.
Pohon dapat dibaca sebagai simbol kehidupan yang memiliki akar, batang, cabang dan generasi. Akar menggambarkan leluhur dan sejarah, batang menggambarkan kesinambungan, sedangkan cabang menggambarkan keturunan yang terus berkembang.
Sementara tiga pilar di bawahnya dapat merepresentasikan falsafah Dalihan Natolu. Dengan demikian, logo tersebut seolah menyampaikan pesan bahwa generasi yang kuat harus berdiri di atas pemahaman terhadap akar sejarah dan keseimbangan hubungan kekerabatan.
Tidak berhenti pada urusan silsilah
Ke depan, Yayasan Tarombo Dalihan Natolu memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendokumentasian tarombo, penelitian sejarah keluarga dan kampung, edukasi budaya, digitalisasi arsip keluarga, pelestarian adat serta literasi hukum dan sosial yang berkaitan dengan masyarakat adat.
Tarombo sendiri masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Batak. Penelitian mengenai budaya Batak menunjukkan bahwa proses martarombo membantu seseorang memahami hubungan kekerabatan dan menentukan partuturan dalam kehidupan sosial.
Di era digital, dokumentasi tersebut juga dapat dikembangkan menjadi basis data keluarga yang lebih sistematis, sepanjang dilakukan dengan memperhatikan kebenaran sumber, persetujuan keluarga dan perlindungan terhadap data pribadi.
Menjaga tarombo sekaligus menjaga persaudaraan
Yang tidak kalah penting, tarombo idealnya tidak digunakan untuk mempertajam perbedaan, melainkan untuk menemukan kembali hubungan persaudaraan.
Pemahaman mengenai tarombo dapat membantu generasi muda mengetahui dari mana mereka berasal, siapa leluhur mereka dan bagaimana hubungan kekerabatan mereka dengan orang lain.
Dalam konteks itulah, Yayasan Tarombo Dalihan Natolu dapat mengambil posisi sebagai lembaga yang menjembatani tradisi dan zaman modern.
Bukan sekadar menyimpan nama-nama leluhur, tetapi juga menyimpan cerita, sejarah, nilai, serta pesan moral yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Tantangan ke depan
Sebagai yayasan yang baru diperkenalkan, tantangan berikutnya tentu adalah bagaimana menerjemahkan nama besar tersebut menjadi program yang nyata dan terukur.
Jika ingin bergerak di bidang tarombo dan budaya, misalnya, yayasan dapat membangun pusat dokumentasi tarombo, melakukan penelitian berbasis sumber, mengarsipkan dokumen keluarga dan sejarah lokal, serta menyelenggarakan edukasi bagi generasi muda.
Yang terpenting, setiap data mengenai silsilah dan sejarah perlu dibedakan antara tradisi lisan, dokumen keluarga, arsip sejarah dan bukti tertulis, sehingga dokumentasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun sosial.
Dengan fondasi tersebut, Yayasan Tarombo Dalihan Natolu berpeluang menjadi lebih dari sekadar sebuah nama organisasi. Ia dapat menjadi rumah bersama untuk merawat ingatan kolektif, mempertemukan generasi dan menjaga nilai persaudaraan Batak di tengah perubahan zaman. Adapun susunan kepengurusan Yayasan Dalihan Natolu terdiri dari 1. Pembina : Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi (CMed CPP CIJ CPW), 2. Pengawas : Juanto Simarmata, 3. Ketua : Ali Wardhana Pasaribu, 4. Sekretaris : Benri Simarmata, 5. Bendahara : Tom Sitohang. Yayasan Dalihan Natolu beralamat di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan Dusun 3 Alngit Kec Pangururan Kab Samosir. Kami akan segera mendaftarkan Yayasan Tarombo Dalihan Natolu ini ke Kesbang Pemkab Samosir, ujar Ketua Yayasan Tarombo Dalihan Natolu Ali Wardhana Pasaribu (red)







