mediasumatera.id – Sebelum Harry Potter menjadi fenomena dunia, J.K. Rowling adalah penulis yang belum mapan. Ia membesarkan anak seorang diri. Dan ia berjuang menyelesaikan dunia imajinasinya.
Lalu ekosistem sastra ikut bekerja. Scottish Arts Council memberinya hibah yang membantu menyediakan ruang ekonomi untuk terus menulis. Penerbit kecil Bloomsbury mengambil risiko menerbitkan karya yang sebelumnya ditolak berkali-kali.
Kita tahu kelanjutannya. Harry Potter menjelma menjadi salah satu kisah paling sukses dalam sejarah penerbitan modern.
Kisah Rowling mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan: bakat memang lahir pada individu, tetapi bakat membutuhkan ekosistem agar menemukan jalannya.
Kadang-kadang, yang memisahkan sebuah manuskrip dari sejarah hanyalah hadirnya komunitas yang percaya.
-000-
Tanggal 20 Agustus 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA. Sebuah babak kelembagaan baru dimulai.
Menteri Hukum Republik Indonesia mengesahkan perubahan Anggaran Dasar SATUPENA melalui Keputusan Nomor AHU-0001453.AH.01.08.TAHUN 2026. Keputusan itu ditetapkan di Jakarta.
Keputusan tersebut memberikan persetujuan terhadap perubahan Anggaran Dasar berdasarkan Akta Nomor 07, tanggal 13 Agustus 2026. Kini landasan organisasi itu memperoleh pengesahan pemerintah.
Perubahan Anggaran Dasar telah tercatat dalam Sistem Administrasi Badan Hukum. Pengesahan itu berlaku secara administratif sejak keputusan Menteri ditetapkan.
Pengesahan tersebut sekaligus mencatat kepengurusan baru SATUPENA. Saya, Denny JA, kembali memperoleh amanah sebagai Ketua Umum.
Namun perubahan yang lebih mendasar bukanlah nama-nama itu. Yang lebih penting adalah arsitektur organisasi yang hendak dibangun untuk menghadapi zaman baru kepenulisan.
Dewan Penasehat ditiadakan. Struktur baru diperkuat melalui Dewan Pengawas dan Dewan Pakar. Fungsi pengawasan dan pemikiran strategis kini memperoleh ruang yang berbeda.
Susunan personalia lengkap masih terus disempurnakan. Termasuk di dalamnya kepengurusan berbagai bidang dan Ketua SATUPENA daerah yang direncanakan hadir di setiap provinsi Indonesia.
Ini penting. Indonesia bukan hanya Jakarta. Sastra dan dunia penulisan Indonesia juga tidak pernah lahir hanya dari pusat kekuasaan, pusat penerbitan, ataupun pusat kebudayaan nasional.
Indonesia ditulis dari Aceh, Padang dan Makassar. Dari Kupang, Manado, Pontianak, hingga Papua. Ia juga ditulis dari desa, pesantren, kampus, dan kamar sederhana.
Suara kebudayaan dapat datang dari mana saja. Bahkan, tidak jarang suara yang kelak mengubah zaman justru pertama kali terdengar jauh dari pusat.
Tenda besar yang kami bayangkan memperoleh kekuatannya di sana. Suara-suara dari pinggir tak perlu lagi meminta izin kepada pusat agar dapat terdengar.
Susunan sementara kepengurusan SATUPENA 2026–2031 dicantumkan pada bagian akhir tulisan ini.
-000-
Mengapa Penulis Tetap Membutuhkan Tenda Besar?
Pertama, penulis membutuhkan modal sosial. Modal intelektual saja tidak cukup. Kebutuhan ini justru membesar ketika teknologi memungkinkan manusia menghasilkan karya dalam kesendirian.
Robert D. Putnam menyebut jaringan, kepercayaan, dan norma resiprositas sebagai unsur penting modal sosial. Semua itu memungkinkan manusia mengerjakan sesuatu bersama secara lebih efektif.
Penulis memang bekerja dalam kesunyian. Namun ekosistem kepenulisan tidak pernah dibangun sendirian. Ada editor, penerjemah, penerbit, kritikus, pembaca, festival, perpustakaan, dan komunitas.
Sebuah buku mungkin hanya mencantumkan satu nama pada sampulnya. Tetapi perjalanan sebuah gagasan hingga memasuki kesadaran publik hampir selalu merupakan perjalanan sosial.
Di sinilah asosiasi menjadi infrastruktur sosial. Ia mempertemukan orang yang berbeda generasi, daerah, genre, keyakinan, selera artistik, bahkan berbeda pandangan mengenai sastra.
Perbedaan itu tidak perlu dihapus. Justru sebaliknya. Sebuah komunitas intelektual akan kehilangan denyut kehidupannya ketika semua orang diwajibkan memandang dunia dengan cara seragam.
Saya semakin percaya pada prinsip sederhana. Sebuah forum penulis tidak perlu menyatukan pikiran anggotanya. Keseragaman bahkan dapat menjadi musuh kehidupan intelektual.
Sebagai forum, semakin beragam SATUPENA, semakin baik. Namun sebagai organisasi, pengurusnya memerlukan kekompakan agar perbedaan gagasan tidak berubah menjadi kelumpuhan tindakan.
Lalu datanglah AI. Ia mengubah permainan. Teknologi kini mampu memperbanyak teks dengan kecepatan yang sebelumnya hampir mustahil dibayangkan dalam sejarah kepenulisan manusia.
Kelangkaan teks mulai menghilang. Karena itu, nilai manusia bergeser. Yang menjadi semakin berharga justru pengalaman, integritas, reputasi, perspektif, keaslian suara, dan hubungan antarmanusia.
Mesin dapat membantu menemukan metafora. Mesin dapat menerjemahkan bahasa dan merangkum pustaka. Ia bahkan dapat mengusulkan struktur tulisan. Tetapi komunitas adalah perkara berbeda.
Komunitas bukan kumpulan kata-kata. Ia adalah jaringan kepercayaan antarmanusia. Ia tumbuh melalui waktu, perjumpaan, perbedaan, pertolongan, penghargaan, bahkan kenangan bersama.
-000-
Kedua, tenda besar diperlukan untuk menjaga keberagaman. Ironisnya, kebutuhan itu justru meningkat ketika teknologi digital membuat dunia semakin mudah terhubung.
Algoritma dapat mempertemukan kita dengan dunia. Namun algoritma juga dapat terus mempertemukan kita dengan mereka yang berpikir, membaca, menyukai, dan marah seperti kita.
Lahirlah gelembung-gelembung kecil. Kita merasa melihat dunia. Padahal, mungkin kita hanya sedang melihat pantulan diri sendiri yang diperbesar berkali-kali oleh teknologi.
Asosiasi penulis yang sehat harus melakukan kebalikannya. Ia mempertemukan penyair dengan novelis, penulis populer dengan akademisi, senior dengan pemula, pusat dengan daerah.
Bahkan mereka yang tidak saling menyukai harus memiliki tempat. Mereka tetap dapat mengakui satu sama lain sebagai bagian sah dari ekosistem kepenulisan Indonesia.
Karena itu, metafora yang saya sukai bukan benteng. Saya memilih tenda besar. Benteng membutuhkan musuh. Tenda besar membutuhkan ruang.
Di bawah tenda itu, penyair religius dapat duduk bersebelahan dengan humanis sekuler. Novelis eksperimental dapat berbicara dengan penulis populer. Masing-masing tetap menjadi dirinya.
Mereka tidak diwajibkan menyepakati estetika, politik, agama, ataupun filsafat kehidupan. Tetapi mereka dapat memperjuangkan kepentingan bersama sebagai manusia yang hidup melalui tulisan.
Kepentingan itu nyata. Kebebasan berekspresi. Perlindungan hak cipta. Penerjemahan. Literasi. Akses penerbitan. Penghargaan karya. Kesejahteraan penulis. Juga regenerasi dunia kepenulisan.
Kebudayaan besar tidak lahir karena semua orang menyanyikan nada yang sama. Ia tumbuh ketika perbedaan memperoleh ruang tanpa harus saling menghapus.
SATUPENA harus menjadi salah satu ruang itu. Ia bukan organisasi yang menentukan bagaimana penulis harus berpikir. Ia memungkinkan penulis berbeda tetap bersaudara.
-000-
Ketiga, revolusi AI menghadirkan persoalan baru. Martabat, kepemilikan, atribusi, autentisitas, hak ekonomi, dan masa depan profesi penulis kini memasuki wilayah yang semakin kompleks.
Seorang penulis akan kesulitan menghadapinya sendirian. Teknologi berubah cepat. Regulasi hak cipta berkembang. Kontrak digital dan praktik industri penerbitan pun terus bergerak.
Organisasi dapat mengumpulkan pengetahuan. Ia dapat menghadirkan pakar, membangun jejaring internasional, menyelenggarakan pendidikan, dan menyuarakan kepentingan penulis ketika suara bersama memang diperlukan.
Tetapi ada batas yang harus dijaga. Saya tidak ingin SATUPENA menjadi serikat tuntutan yang menjanjikan akan menyelesaikan setiap persoalan pribadi anggotanya.
Organisasi yang sehat justru memilih beberapa komitmen. Lalu mengerjakannya dengan serius. Selebihnya, ia menciptakan ekosistem agar anggota berkembang melalui kekuatan mereka sendiri.
Pengalaman memimpin SATUPENA membuat saya melihat satu hal sederhana. Teknologi digital bukan musuh komunitas. Ia menjadi masalah hanya ketika menggantikan kemanusiaan.
Webinar, misalnya, dapat mempertemukan penulis dari pulau berbeda tanpa tiket pesawat. Penerbitan digital membuat karya menembus hambatan geografis yang dahulu terasa begitu permanen.
Dunia berubah. Jarak menyusut. Percakapan yang dahulu membutuhkan perjalanan berhari-hari kini dapat terjadi dalam hitungan detik melalui sebuah layar kecil.
Namun teknologi hanyalah jalan raya. Manusia tetap menentukan arahnya. Jalan yang sama dapat membawa kita menuju perjumpaan atau menuju kesepian yang semakin canggih.
Karena itu, tantangan SATUPENA bukan melawan AI. Tantangannya adalah membantu penulis menggunakan AI tanpa kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal: suara manusianya sendiri.
SATUPENA akan menyusun panduan etik AI bagi penulis Indonesia. Isinya sederhana: transparansi penggunaan, perlindungan hak cipta karya manusia, larangan menjiplak suara penulis lain melalui mesin.
Juga pengakuan bahwa gagasan tetap milik manusia yang memikirkannya. Kami juga akan membuka pelatihan agar penulis daerah tidak tertinggal. AI harus menjadi alat penulis, bukan sebaliknya, penulis menjadi bayangan mesinnya.
-000-
Dua Buku yang Membantu Memahami Tenda Besar
Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community, Simon & Schuster, 2000.
Putnam menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Ketika partisipasi dalam perkumpulan menurun, modal sosial ikut melemah. Jaringan, kepercayaan, dan kebiasaan bekerja bersama perlahan ikut terkikis.
Relevansinya bagi penulis sangat kuat. Kreativitas memang personal. Tetapi kehidupan sastra bersifat sosial. Ketika penulis kehilangan komunitas, mereka juga kehilangan jaringan pembelajaran dan solidaritas.
Asosiasi bukan sekadar tempat berkumpul. Ia menciptakan hubungan. Melalui hubungan itulah pengetahuan, kesempatan, pengakuan, dan pertolongan bergerak dari seorang manusia kepada manusia lainnya.
Dalam perspektif Putnam, tenda besar penulis merupakan investasi modal sosial. Nilainya justru semakin tinggi ketika kehidupan digital mendorong manusia menjadi semakin individual.
-000-
Lewis Hyde, The Gift: Imagination and the Erotic Life of Property, Vintage Books, 1983.
Hyde mengajak kita melihat karya kreatif secara berbeda. Karya bukan semata komoditas. Ia juga sebuah pemberian yang memperoleh kehidupan ketika bergerak memasuki komunitas.
Seniman tentu harus hidup. Penulis berhak memperoleh pendapatan dan menikmati hak ekonominya. Namun nilai kebudayaan sebuah karya sering jauh melampaui harga transaksi pasarnya.
Di situlah paradoks muncul. Masyarakat membutuhkan karya penulis. Namun mekanisme pasar tidak selalu mampu menjamin kehidupan yang layak bagi manusia yang menciptakannya.
Karena itu kebudayaan membutuhkan institusi perantara. Ia membutuhkan filantropi, penghargaan, dana bantuan, dan komunitas yang menjaga energi kreatif tetap mengalir ketika pasar gagal menopangnya.
-000-
Dari Komunitas Menuju Dana Abadi Penulis
Di sinilah saya melihat salah satu pekerjaan besar SATUPENA pada masa mendatang. Kita perlu perlahan membangun fondasi menuju sebuah dana abadi bagi penulis Indonesia.
Apa itu dana abadi? Prinsipnya sederhana. Ia bukan rekening bantuan yang dikumpulkan hari ini, kemudian seluruh uangnya dihabiskan besok.
Dana abadi adalah modal jangka panjang. Pokoknya dijaga dan dikembangkan. Hasil pengelolaannya digunakan secara berkelanjutan untuk menjalankan misi yang telah ditetapkan.
Bagi komunitas penulis, manfaatnya dapat beragam. Bantuan darurat, penghargaan, penerjemahan, residensi, pendidikan, beasiswa, ataupun program lain dapat dibiayai berdasarkan aturan yang transparan.
Ada preseden sejarah yang mengharukan. Salah satu yang paling menarik dapat ditemukan pada perjalanan Royal Literary Fund di Inggris.
Akar lembaga itu bermula pada 1788. David Williams mendengar nasib Floyer Sydenham, penerjemah Plato yang meninggal miskin setelah mengalami penjara karena utang.
Sebuah kematian kemudian melahirkan kesadaran. Williams mengembangkan literary fund untuk membantu pengarang yang menghadapi kesulitan keuangan. Misinya kemudian bertahan melintasi dua abad.
Bayangkan kekuatan sebuah gagasan. Seseorang meninggal dalam kemiskinan pada abad kedelapan belas. Namun tragedinya justru melahirkan institusi yang membantu penulis berabad-abad kemudian.
Di situlah perbedaan bantuan dan institusi. Bantuan mengurangi penderitaan hari ini. Institusi yang dirancang dengan baik dapat mencegah penderitaan berulang pada generasi berikutnya.
Saya membayangkan SATUPENA suatu hari memiliki dana semacam itu. Ia dapat dibangun perlahan melalui filantropi, donasi, warisan, kemitraan, serta berbagai sumber sah lainnya.
Tentu ada syarat mutlak. Dana itu tidak boleh menjadi dompet pribadi organisasi. Ia juga tidak boleh bergantung pada selera seorang ketua.
Ia harus profesional. Tata kelolanya transparan. Auditnya jelas. Kriteria penerimanya terbuka. Mekanisme investasinya berhati-hati. Pertanggungjawabannya harus dapat diperiksa publik.
Jika berhasil, kepengurusan akan datang dan pergi. Nama-nama berubah. Tetapi dana tersebut tetap bekerja, seperti pohon yang terus memberi keteduhan setelah penanamnya meninggalkan dunia.
Bagi saya, itulah ukuran tertinggi legacy sebuah organisasi. Bukan berapa banyak acara dibuat. Bukan pula berapa sering nama pengurusnya muncul.
Ukuran yang lebih penting adalah ini: berapa banyak kebaikan tetap bekerja ketika orang-orang yang dahulu membangunnya bahkan sudah tidak lagi berada di sana.
-000-
Tentu ada kontra-argumen yang serius. Mengapa masih membangun organisasi besar ketika seorang penulis kini dapat menerbitkan, mempromosikan, bahkan menjual karyanya sendiri?
Pertanyaan itu masuk akal. Bukankah organisasi justru dapat melahirkan birokrasi, hierarki, politik internal, dan perebutan jabatan yang akhirnya menghabiskan energi para penulis?
Kritik itu sah. Bahkan perlu. Sejarah organisasi kebudayaan juga dipenuhi pertengkaran, fragmentasi, dominasi kelompok, dan lembaga yang akhirnya hidup hanya untuk pengurusnya.
Bahaya itu nyata. Kita tidak perlu menutupinya. Justru karena itulah desain kelembagaan menjadi penting.
Kesimpulan yang tepat bukan menghapus organisasi. Yang diperlukan adalah organisasi yang ramping, transparan, digital, terbuka, terukur, dan tidak mencampuri kebebasan kreatif anggotanya.
Kita tidak membubarkan rumah sakit karena rumah sakit dapat menjadi birokratis. Kita memperbaiki tata kelolanya karena kebutuhan terhadap kesehatan tidak pernah menghilang.
Begitu pula organisasi penulis. Kegagalan sebuah organisasi bukan argumentasi melawan komunitas. Ia adalah argumentasi untuk membangun komunitas dengan tata kelola yang lebih sehat.
Teknologi memang memberi kemandirian luar biasa kepada individu. Justru karena individu semakin berdaya, organisasi tidak lagi harus menjadi penguasa. Ia dapat menjadi penghubung.
Perubahan paradigma itu penting. Organisasi tidak berdiri di atas penulis. Organisasi berdiri di antara penulis, menghubungkan kekuatan yang sebelumnya tercerai-berai.
SATUPENA tidak perlu menentukan siapa penulis terbaik. Ia juga tidak perlu menentukan aliran mana yang benar atau bagaimana seseorang seharusnya membayangkan dunia.
Cukuplah ia memperbesar kemungkinan. Penulis memperoleh jaringan. Penulis memperoleh pengetahuan. Penulis memperoleh panggung. Penulis menemukan persahabatan. Kadang-kadang, penulis juga menemukan pertolongan.
Komitmen ini bukan sekadar janji retoris. Ia adalah fondasi kelembagaan yang harus dijaga bersama. Tenda besar hanya bernilai ketika ia menolak menjadi panggung personal pimpinannya, dan justru menjadi ruang aman bagi kebebasan kreatif setiap penulis di dalamnya.
Keberhasilannya tidak diukur dari megahnya struktur, melainkan dari keberanian para penulis di bawah tenda itu menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut.
-000-
Saya sendiri sampai pada sebuah kesimpulan setelah bertahun-tahun hidup di sekitar dunia gagasan. Karya besar memang dapat lahir dalam kesunyian.
Saya mengenal kesunyian itu. Menulis sering berarti berhadapan dengan halaman kosong seorang diri. Tidak ada organisasi yang dapat menggantikan pergulatan pribadi tersebut.
Namun saya juga belajar hal lain. Setelah sebuah tulisan selesai, ia membutuhkan dunia. Ia membutuhkan pembaca, percakapan, kritik, penerbitan, penerjemahan, dan ingatan kolektif.
Seorang penulis dapat menciptakan karya sendirian. Tetapi ekosistem yang memungkinkan ribuan karya lahir, dibaca, diperdebatkan, diterjemahkan, dan diwariskan membutuhkan kerja bersama.
Karena itu, periode 2026–2031 seharusnya tidak terutama dikenang sebagai periode ketika saya kembali memperoleh amanah menjadi Ketua Umum SATUPENA.
Jabatan selalu sementara. Organisasi seharusnya lebih panjang daripada jabatan. Gagasan bahkan seharusnya hidup jauh lebih lama daripada orang-orang yang pertama kali memperjuangkannya.
Saya berharap periode ini kelak dikenang sebagai masa ketika tenda diperluas. Daerah diperkuat. Teknologi dimanfaatkan. Tata kelola diperbaiki. Dana abadi mulai diperjuangkan.
Kita tidak mengetahui siapa penulis besar Indonesia tiga puluh tahun mendatang. Kita tidak tahu dari pulau mana ia datang atau bahasa apa yang membentuk imajinasinya.
Mungkin ia sekarang bahkan belum lahir. Mungkin kelak ia tumbuh di sebuah kota kecil yang hari ini nyaris tidak diperhitungkan dalam peta kebudayaan nasional.
Tugas kita bukan menentukan siapa orang itu. Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika ia datang, Indonesia mempunyai ruang yang cukup luas untuk mendengar suaranya.
Itulah tugas organisasi kebudayaan. Bukan menciptakan keabadian bagi pengurusnya. Bukan membangun monumen bagi mereka yang sedang memegang jabatan.
Tugasnya adalah menciptakan kemungkinan. Membuka jalan. Memperluas ruang. Menanam pohon yang mungkin justru akan dinikmati oleh generasi yang belum kita kenal.
Itulah makna tenda besar. Semakin luas ruang yang kita bangun bersama, semakin banyak suara berbeda dapat tumbuh tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.
SATUPENA tidak harus membuat semua penulis sama. Justru sebaliknya. Ia harus membuat keberagaman itu cukup kuat untuk bertahan, bertemu, dan menghasilkan peradaban.
Sebab penulis mungkin menulis sendirian, tetapi sebuah peradaban hanya dapat ditulis bersama-sama.*
-000-
LAMPIRAN
SUSUNAN SEMENTARA PENGURUS SATUPENA 2026–2031
A. Dewan Pakar: Prof. Dr. Mohamad Asrun (Ketua)
Anggota:
– Prof Dr. Nurhayati Rahman
– Prof. I Nengah Subadra, S.S., M.Par., PhD
– Dr. Budhy Munawar Rahman
– Dr. Dwi Cahyono Aji, M.A.,
– Dr. Tarech Rasyid
– Berthold Damshàuser, M.A
– Indra Iswara, S.H, M.Kn
– Reiner Emyot Ointoe, DipLit
– Alex Runggeary, M.M
– Drs. Achmad Charis Zubair
– John Ohoiwirin
(Dewan pakar mewakili wilayah Indonesia dari Sumatra hingga Papua)
B. Dewan Pengawas
Ketua: Dr. Satrio Arismunandar
Anggota:
– Anwar Putra Bayu
– Dhenok Kristianti, S.pd
C. Dewan Pengurus
Ketua Umum: Denny JA, Ph.D, MPA, SH
Sekretaris Jendral: Jonminofri Nazir, MSi
Bendahara Umum: Dra. Nita Chobah Lusaid, MBA
Ketua Pulau Sumatra: Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, Akt., M.Si., CA., QIA.
Ketua Pulau Jawa: Nia Samsihono, M.Hum
Ketua Bali, NTB, NTT: Dr Rai Utama
Ketua Pulau Kalimantan: Dr. Muhammad Thobroni
Ketua Pulau Sulawesi: Drs. Hamri Manopo Mpd.
Ketua Pulau Papua: Wilhemus Kolyaan
(Ketua masing- masing Provinsi sedang disusun)
Direktur Webinar: Elza Peldi Taher
Anggota: Mila Muzakkar M.M, Amelia Fitriani M.I.Kom, Anick HT, Erika Aiko
Direktur Publikasi Buku: Monica Anggi JR, MBA
Direktur Media: Yusrizal Karana, S.IP, M.IP
Direktur Hukum: Aji Satria Sulaemen, S.H, LL.M
Direktur Public Relation: Saskia Ubaidi,
(Nama dan gelar akademik akan disesuaikan kembali berdasarkan data resmi masing-masing pengurus)
Jakarta, 21 Agustus
REFERENSI
1. Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community
Robert D. Putnam
Simon & Schuster, 2000.
2. The Gift: Imagination and the Erotic Life of Property
Lewis Hyde
Vintage Books, 1983.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.
https://www.facebook.com/share/1Xq6WvGJxc/?mibextid=wwXIfr







