Jangan Sembunyikan Ketidakpedulian di Balik Doa, Kasih kepada Allah Harus Terlihat dalam Kasih kepada Sesama

Jangan Sembunyikan Ketidakpedulian di Balik Doa, Kasih kepada Allah Harus Terlihat dalam Kasih kepada Sesama

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana Ibadah Minggu XIV Setelah Trinitatis di GKPI Jemaat Khusus Imanuel Pematangsiantar, Minggu, 06 September 2026, berlangsung penuh sukacita, pengharapan, dan perenungan yang mendalam. Sejak ibadah pagi dimulai, jemaat datang dengan kerinduan yang tulus untuk bersekutu, menaikkan pujian, mendengarkan Firman Tuhan, serta menguatkan kembali iman di tengah berbagai pergumulan kehidupan.
Ibadah pagi dipimpin oleh Inang U. br Lumbantobing sebagai liturgis. Persekutuan dibuka melalui nyanyian Kidung Jemaat, dipimpin oleh Inggrid br Ginting dan Winda br Sinaga sebagai Song Leader, dengan iringan organ oleh Inang S. br Siregar. Banyak hati tersentuh, seakan setiap lagu menjadi doa yang naik ke hadirat Tuhan.
Suasana ibadah berlangsung khidmat dan hangat. Di tengah kesibukan, persoalan keluarga, pekerjaan, dan berbagai tantangan kehidupan, ibadah Minggu kembali menjadi ruang bagi jemaat untuk datang kepada Tuhan, menenangkan hati, serta memperoleh kekuatan melalui Firman-Nya.

Jangan Sembunyikan Ketidakpedulian di Balik Doa, Kasih kepada Allah Harus Terlihat dalam Kasih kepada Sesama

 

Sudahkah orang lain merasakan kasih Tuhan melalui hidup kita?

Pesan inilah yang menguat dalam pemberitaan Firman Tuhan yang disampaikan Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th., berdasarkan ayat dari Lukas 10:25–37, dengan tema “Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia.”

Firman Tuhan membawa jemaat kembali kepada percakapan Yesus dengan seorang ahli Taurat yang bertanya tentang hidup kekal. Ia mengetahui hukum Tuhan: mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaan dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Tetapi persoalannya bukan sekadar apa yang kita ketahui.

Persoalannya adalah: apakah yang kita ketahui itu sudah kita lakukan?

Jangan Sembunyikan Ketidakpedulian di Balik Doa, Kasih kepada Allah Harus Terlihat dalam Kasih kepada Sesama

Jangan Merasa Diri Paling Benar

Dalam khotbahnya, amang Pdt. Tubiran M.T Simamora, M.Th mengingatkan bahwa kasih harus dimulai dari hati, karakter, dan watak. Jangan sampai kehidupan bersama orang lain justru dipenuhi keinginan membenarkan diri sendiri sambil membuat orang lain terlihat salah.

Ini menjadi teguran bagi kita semua.
Kadang kita mudah melihat kekurangan orang lain, mudah membicarakan kesalahannya, bahkan mungkin sulit mengampuni seseorang yang pernah menyakiti kita.

Kita berkata mengasihi Tuhan, tetapi hati masih menyimpan batas: “Dia bukan kelompokku. Dia bukan keluargaku. Dia pernah menyakitiku. Dia tidak sependapat denganku.”

Melalui perumpamaan orang Samaria yang murah hati, Yesus justru menghancurkan batas-batas tersebut. Dalam khotbah dijelaskan bahwa manusia sering menentukan sendiri siapa yang dianggap “sesama”, orang yang dekat, satu kelompok, atau orang yang baik kepada kita. Tetapi Tuhan mengajak umat-Nya keluar dari batasan itu.

Kasih Kristus tidak bertanya terlebih dahulu siapa orangnya. Kasih melihat seseorang membutuhkan pertolongan, lalu bergerak mendekatinya.

Jangan Berlindung di Balik Doa

Dalam kisah Yesus, seorang imam melihat korban yang tergeletak di jalan, tetapi melewatinya. Demikian juga orang Lewi.

Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan kehidupan keagamaan. Namun kedekatan dengan aktivitas keagamaan ternyata belum tentu membuat seseorang dekat dengan penderitaan sesamanya.

Di sinilah muncul salah satu pesan paling kuat dari khotbah ini:

“Doakan yang kamu kerjakan, kerjakan yang kamu doakan.”

Amang Pdt. Tubiran M.T Simamora, M.Th mengingatkan jemaat agar jangan menjadikan doa sebagai tempat bersembunyi dari tanggung jawab untuk mengasihi. Doa tetap sangat penting, tetapi doa seharusnya menggerakkan tangan, kaki, hati, waktu, perhatian, dan pengorbanan kita.

Betapa mudahnya kita berkata, “Saya turut berdoa,” tetapi mungkin di balik doa itu Tuhan sedang bertanya, “Setelah engkau berdoa, apa yang telah engkau lakukan?” Sebab di sekitar kita ada orang sakit yang menantikan kunjungan, keluarga yang sedang berjuang dalam kesulitan, orang tua yang merindukan perhatian, anak-anak yang membutuhkan kasih, dan jemaat yang menyimpan luka di dalam hati, mereka bukan hanya membutuhkan kata-kata, melainkan kehadiran, kepedulian, uluran tangan, dan kasih yang nyata.

Ada orang yang sedang jatuh dan tidak membutuhkan penghakiman, melainkan sebuah tangan yang menolongnya berdiri kembali.

Mungkin di situlah Tuhan sedang menunggu kasih kita menjadi nyata.

Kisah Cerita Orang Samaria Itu Tidak Hanya Merasa Kasihan

Orang Samaria dalam perumpamaan Yesus menunjukkan kasih yang berbeda: ketika melihat seseorang tergeletak dalam luka dan penderitaan, hatinya tergerak oleh belas kasihan; ia tidak memilih untuk berlalu, melainkan mendekat, merawat luka-lukanya, membawanya ke tempat penginapan, mengorbankan miliknya untuk membiayai perawatannya, bahkan bersedia menanggung segala kekurangan yang masih diperlukan, sebuah kasih yang tidak hanya tersentuh oleh penderitaan, tetapi hadir, berkorban, dan memulihkan.

Khotbah menegaskan bahwa kasih sejati tidak hanya tinggal di dalam hati; kasih bergerak dan bekerja.

Inilah kasih yang Tuhan kehendaki: bukan sekadar berkata, “Saya prihatin,” melainkan dengan tulus bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan?” Kasih tidak hanya memandang air mata, tetapi hadir menjadi bahu tempat bersandar; tidak hanya menyaksikan seseorang terjatuh, tetapi mengulurkan tangan untuk menolongnya bangkit; dan tidak hanya berbicara tentang pengampunan, tetapi berani mengambil langkah pertama untuk membuka jalan perdamaian.

Sebuah Pertanyaan untuk Jemaat GKPI Imanuel

Firman ini kiranya menjadi cermin bagi seluruh jemaat GKPI Jemaat Khusus Imanuel Pematangsiantar.

Mungkin selama ini kita berada dalam satu gereja, duduk di bangku yang sama, menyanyikan lagu yang sama dan mengucapkan doa yang sama, tetapi masih ada hati yang berjauhan.

Mungkin masih ada luka yang belum sembuh, perkataan yang belum termaafkan, dan seseorang yang sengaja kita hindari; sementara di sekitar kita, ada sesama yang sedang terluka dan membutuhkan uluran kasih, tetapi kita memilih berjalan menjauh, seolah-olah tidak melihatnya.

Hari ini Yesus seakan bertanya lembut kepada kita: ketika saudara kita terluka, apakah kita memilih mendekat untuk menguatkan atau menjauh dalam ketidakpedulian; ketika ia jatuh, apakah kita mengulurkan tangan untuk menolong atau justru membicarakannya; dan ketika seseorang bersalah kepada kita, apakah kita berani membuka jalan pengampunan dan perdamaian, atau terus membangun tembok di antara hati? Jangan sampai kita begitu dekat dengan altar, tetapi jauh dari saudara sendiri; jangan sampai bibir kita penuh doa, sementara tangan kita tertutup bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Jangan sampai kita berbicara tentang kasih Kristus kepada dunia, tetapi kasih itu tidak dirasakan oleh orang yang duduk di sebelah kita.

Kasih yang Meruntuhkan Batas

Menutup kotbahnya Amang Pdt. Tubiran M.T Simamora, M.Th menegaskan bahwa kita dipanggil membangun karakter belas kasihan dan meninggalkan karakter yang hanya mencari kesalahan. Kasih kepada sesama juga tidak boleh dibatasi oleh kelompok atau batas-batas yang kita buat sendiri.

Karena di hadapan Tuhan, pertanyaannya bukan lagi:
“Siapakah sesamaku?”

Melainkan:
“Sudahkah aku menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan kasih?”

Maka, apabila hari ini ada saudara yang sedang terluka, datanglah dengan hati yang penuh kasih; jika ada yang membutuhkan pertolongan, ulurkanlah tangan tanpa ragu; jika ada hubungan yang retak, beranilah memulai jalan perdamaian; jika ada orang yang pernah menyakiti kita, belajarlah mengampuni; dan jika ada yang jatuh, jangan menambah lukanya dengan perkataan atau penghakiman, melainkan bantulah ia berdiri kembali dengan kasih yang tulus.

Sebab segala kebaikan yang kita lakukan bukanlah untuk membeli keselamatan, melainkan sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan yang terlebih dahulu kita terima dari Tuhan. Karena itu, perkataan Yesus kepada ahli Taurat tersebut juga menjadi pesan yang lembut namun tegas bagi kita hari ini:

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Kiranya setelah membaca Firman ini, kita tidak hanya berkata, “Amin,” lalu kembali menjalani hidup seperti biasa.

Berhentilah sejenak dan ingatlah satu nama. Mungkin dia adalah orang yang pernah melukai hati kita. Mungkin saudara yang sudah lama tidak kita sapa. Mungkin seseorang yang pernah kita salahkan, kita jauhi, atau diam-diam masih sulit kita ampuni.

Jika Tuhan hari ini mengingatkan namanya di dalam hati kita, jangan keraskan hati.

Mungkin Tuhan tidak meminta sesuatu yang besar. Mungkin Tuhan hanya meminta kita memulai dengan satu langkah kecil: menyapa kembali, mengulurkan tangan, meminta maaf, mengampuni, menolong, atau berkata, “Mari kita berdamai.”

Sebab suatu hari nanti, ketika semua kesibukan, jabatan, perbedaan dan perdebatan kita telah berlalu, yang akan tetap bernilai di hadapan Tuhan adalah kasih yang pernah kita berikan kepada sesama.

Jangan menunggu sampai seseorang pergi untuk mengatakan bahwa kita mengasihinya. Jangan menunggu sampai terlambat untuk meminta maaf. Jangan menunggu air mata penyesalan jatuh ketika tangan yang ingin kita genggam sudah tidak lagi berada di dekat kita.

Selama Tuhan masih memberikan hari ini, masih ada waktu untuk mengasihi.
Masih ada waktu untuk mengampuni.
Masih ada waktu untuk merangkul.
Dan masih ada waktu untuk berdamai.

Kiranya GKPI Imanuel bukan hanya menjadi tempat kita datang beribadah, tetapi sungguh menjadi rumah kasih, tempat yang terluka dirangkul, yang jatuh ditolong, yang berbeda tetap diterima, dan hati yang pernah berjauhan dipertemukan kembali di dalam kasih Kristus.

Dan ketika Tuhan bertanya, “Siapakah sesamamu?”, kiranya hidup kita sendiri yang menjawabnya melalui kasih yang nyata.

Tuhan Yesus, lembutkanlah hati kami. Ajarlah kami mengasihi sebelum terlambat, mengampuni sebelum kehilangan kesempatan, dan berdamai selagi Engkau masih memberi kami waktu. Jadikanlah kami bukan hanya pendengar Firman-Mu, tetapi pelaku kasih-Mu. Amin.

Jangan Sembunyikan Ketidakpedulian di Balik Doa, Kasih kepada Allah Harus Terlihat dalam Kasih kepada Sesama

Pelayanan Ibadah:
– Warta Jemaat & Doa Syafaat: Inang Pnt R Lumbantobing
– Song leader/ Pujian: Inggrid br Ginting dan Winda Sinaga
– Organis: Inang S br Siregar
– Persembahan: Amang C.Pnt. Berlin simangunsong & Inang Pnt. N br Marbun
– Penerimaan Tamu: Inang C br Lubis & Amang C.Pnt. P Purba
– Petugas Prosesi : Amang C.Pnt. Victor Asido Elyakim P

Kehadiran jemaat pada ibadah Minggu XIV Setelah Trinitatis tersebut juga menunjukkan antusiasme yang sangat besar. Jemaat yang hadir mengikuti ibadah Minggu dengan penuh khidmat. Ibadah pun berakhir dalam suasana penuh sukacita. Jemaat pulang dengan hati yang bersukacita, saling bersalaman satu sama lain, berbagi senyum dan sapaan yang tulus. Kebersamaan sederhana itu terasa begitu berharga, seolah mengingatkan kembali bahwa gereja bukan sekadar bangunan, melainkan persekutuan umat yang saling menguatkan dalam kasih Kristus..
(VIP)