Opini  

Dari Munas ke Gerakan Nyata: ISKA Sumsel dan Tantangan Iman-Profesionalisme di Keuskupan Agung Palembang (KAPal)

Dari Munas ke Gerakan Nyata: ISKA Sumsel dan Tantangan Iman-Profesionalisme di Keuskupan Agung Palembang (KAPal)

Dr. Heri Setiawan, S.T., M.T., IPU.

Dosen Ergonomi Industri dan Rekayasa Sistem Kerja &

Direktur Laboratorium Innovation System Center (Lab. ISC)

Program Studi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi  Universitas Katolik Musi Charitas

Hp/WA. 0815-5045-334 │ e-Mail: heri_setiawan@ukmc.ac.id

mediasumatera.id – “Jangan biarkan ‘bonum commune’ berhenti menjadi jargon. Saatnya sarjana Katolik membuktikan bahwa iman dapat melahirkan kompetensi, dan kompetensi dapat menjadi pelayanan”.

 

Artikel ini membahas kontek Keuskupan Agung Palembang (KAPal) antara persoalan yang terlihat dari agenda dan program KAPal saat ini dengan diagnosis/opini yang menjadi dasar usulan ISKA. Misalnya, KAPal sedang mendorong pembaharuan iman melalui Tahun Devosional 2026, pembinaan OMK, kaderisasi remaja, dan penguatan Komisi Kerasulan Awam (Kerawam).

Musyawarah Nasional Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) 2026 di Balikpapan Kalimantan Timur, 11-13 September 2026 datang pada saat yang tepat. Tema “Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan dalam Semangat Pelayanan dan Kebangsaan” bukan sekadar slogan organisasi. Ia seharusnya menjadi pertanyaan serius kepada seluruh anggota ISKA: apa yang sungguh-sungguh kita kerjakan ketika pulang dari Munas?. Pertanyaan itu penting karena proposal Munas sendiri menempatkan ISKA bukan sekadar sebagai organisasi tempat berhimpunnya para sarjana Katolik. ISKA secara eksplisit diposisikan sebagai wadah untuk mengoptimalkan peran sarjana dan cendekiawan Katolik agar memberikan karya nyata bagi Gereja dan pembangunan negara melalui profesi serta kompetensinya masing-masing.  Artinya, ukuran keberhasilan ISKA tidak semestinya berhenti pada banyaknya seminar, diskusi, pernyataan sikap, atau pergantian kepengurusan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kompetensi para anggotanya mampu menyelesaikan persoalan konkret umat dan masyarakat.

 

Di sinilah Sumatera Selatan memiliki pekerjaan rumah yang tidak kecil.

Keuskupan Agung Palembang (KAPal) tengah bergerak dalam dinamika pastoral yang cukup kuat. Tahun 2026 dicanangkan sebagai Tahun Devosional dalam kerangka Ardas IV. Bahan APP KAPal mengarahkan umat bukan hanya kepada kesalehan ritual, tetapi kepada transformasi menjadi pribadi yang semakin saleh dan manusiawi serta menghasilkan tindakan nyata bagi kehidupan bersama.

Pada saat yang sama, KAPal menunjukkan perhatian besar kepada generasi muda. KAPal Youth Day 2026 melibatkan 686 Orang Muda Katolik dari 37 kontingen. Setelah perjumpaan tersebut, para peserta bahkan menghasilkan komitmen dan rencana tindak lanjut untuk melanjutkan pertumbuhan iman, persaudaraan, dan pelayanan.  KAPal juga sedang melakukan kaderisasi iman pada tingkat remaja. Pada akhir Agustus 2026, Komisi Karya Misi Kepausan Indonesia dan Komisi Kerasulan Awam mengadakan Teens School of Mission yang melibatkan 49 remaja Katolik. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan KAPal bukan ketiadaan kegiatan. Justru tantangannya adalah bagaimana mengubah energi kegiatan menjadi ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.

 

Dan pada titik inilah ISKA DPD Sumsel dan DPC Kota Palembang seharusnya mengambil posisi.

Masalah Kita Bukan Kekurangan Kegiatan, tetapi Kekurangan Ekosistem. Gereja memiliki misa, kelompok kategorial, kegiatan orang muda, pembinaan, retret, seminar, komunitas basis, sekolah, perguruan tinggi, karya sosial dan berbagai bentuk pelayanan. Namun kita harus berani bertanya: apakah seluruh aktivitas tersebut sudah terhubung menjadi sebuah sistem pembentukan manusia Katolik yang utuh?. Seorang anak Katolik dapat tumbuh dalam lingkungan sekolah Katolik, aktif dalam OMK, mengikuti Ekaristi dan kegiatan komunitas. Tetapi ketika memasuki perguruan tinggi dan dunia kerja, ia berhadapan dengan dunia yang berbeda: kompetisi, tekanan ekonomi, politik kantor, budaya korupsi, manipulasi informasi, konsumerisme, flexing, perjudian digital, pinjaman daring, kecanduan media sosial, hingga krisis makna.

Di sinilah pembinaan iman tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Apakah kamu rajin ke gereja?”. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: Apakah imanmu membuatmu menjadi profesional yang jujur?. Apakah imanmu membuatmu menolak korupsi ketika kesempatan terbuka?. Apakah imanmu membuatmu memperlakukan bawahan secara manusiawi?. Apakah imanmu membuatmu kompeten dalam pekerjaan?. Apakah imanmu membuatmu berani membela mereka yang lemah dan ‘sedang memiliki masalah hukum’?. Inilah wilayah kerasulan awam. Dan wilayah ini justru merupakan habitat utama ISKA.

Proposal Munas menegaskan bahwa ISKA ingin memperkuat peran sarjana sebagai kekuatan intelektual yang berakar pada budaya lokal dan berlandaskan nilai iman Katolik. Maka, bagi ISKA Sumsel, mandat tersebut harus diterjemahkan menjadi program yang menyentuh kehidupan nyata umat.

Pertama: krisis iman harus dibaca sebagai krisis pembentukan karakter

Kita perlu berhenti melihat iman hanya sebagai urusan liturgi. Liturgi adalah sumber dan puncak kehidupan Gereja, tetapi iman juga harus hadir dalam ruang kelas, laboratorium, kantor pemerintahan, perusahaan, rumah sakit, sekolah, kampus, media, dunia usaha, lembaga hukum, dan ruang digital. KAPal telah menunjukkan perhatian terhadap pembinaan generasi muda. Kegiatan KYD 2026 bahkan secara eksplisit diarahkan agar kaum muda bertumbuh dalam iman, kepemimpinan dan pelayanan. Tetapi setelah sebuah kegiatan besar selesai, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang mendampingi mereka enam bulan kemudian?. Inilah celah yang dapat diisi ISKA.

ISKA DPD Sumsel bersama DPC Kota Palembang dapat membentuk “ISKA Young Catholic Professional Network”, sebuah jaringan pendampingan profesional muda Katolik yang menghubungkan OMK, mahasiswa tingkat akhir, alumni, profesional muda, pengusaha, akademisi dan para senior. Programnya tidak perlu mahal. Setiap bulan cukup satu pertemuan dengan tiga unsur: iman, kompetensi, dan pelayanan. Misalnya, tema bulan pertama adalah “Integritas Katolik di Dunia Kerja”. Bulan kedua “Menghadapi Tekanan Karier Tanpa Kehilangan Iman”. Bulan ketiga “Etika Digital dan AI”. Bulan berikutnya “Keuangan Pribadi dan Anti-Judi Online”, “Kepemimpinan Berbasis Pelayanan”, “Membangun Usaha yang Berkeadilan”, dan seterusnya.Dengan demikian, iman tidak diajarkan sebagai teori, tetapi dilatih untuk mengambil keputusan.

 

Kedua: ISKA harus menjadi jembatan antara Gereja dan dunia profesional

Salah satu kelemahan banyak organisasi umat adalah adanya jarak antara potensi profesional dengan kebutuhan nyata Gereja. Di KAPal terdapat berbagai komisi yang sebenarnya sangat membutuhkan dukungan profesional: pendidikan, kepemudaan, komunikasi sosial, pengembangan sosial ekonomi, keluarga, kerasulan awam, hubungan antaragama, gender, keadilan dan perdamaian. Struktur komisi tersebut menunjukkan bahwa Gereja memiliki banyak ruang pelayanan yang membutuhkan kompetensi lintas bidang.  ISKA tidak perlu mengambil alih pekerjaan komisi-komisi tersebut. Sebaliknya, ISKA harus menjadi “talent pool” yang menyediakan sumber daya manusia profesional.

Dokter dapat membantu program kesehatan umat. Akuntan dapat membantu tata kelola keuangan. Pengacara dapat membantu literasi hukum. Psikolog dapat membantu pendampingan keluarga dan kaum muda. Insinyur/Sarjana Teknik dapat membantu pengelolaan lingkungan, infrastruktur, proses produksi yang efisien. Pengusaha dapat membantu inkubasi UMKM. Akademisi dapat membantu riset dan evaluasi program pastoral. Praktisi komunikasi dapat membantu Gereja membangun narasi publik yang sehat.

Dengan pendekatan ini, seorang sarjana Katolik tidak lagi bertanya, “Apa kegiatan ISKA tahun ini?” tetapi bertanya, “Masalah apa yang dapat saya bantu selesaikan dengan kompetensi saya?”. Itulah kerasulan awam yang konkret.

 

Ketiga: KAPal membutuhkan Gereja yang semakin berbasis data

Gereja tidak dapat membangun kebijakan pastoral hanya berdasarkan kesan. Menariknya, praktik pengelolaan data umat sebenarnya sudah mulai berjalan. Misalnya, Paroki Santo Petrus dan Paulus Baturaja telah menggunakan BIDUK dan melibatkan operator pada tingkat stasi serta lingkungan untuk memperbarui data umat. Ini harus diperluas. ISKA Sumsel dapat menawarkan KAPal Catholic Data Lab, bukan lembaga birokrasi baru, melainkan tim kecil profesional yang membantu Gereja membaca data. Pertanyaan yang harus dijawab antara lain: berapa banyak anak muda yang aktif dan tidak aktif?. Berapa banyak keluarga muda yang membutuhkan pendampingan?. Berapa banyak umat yang pindah tempat tinggal?. Berapa banyak anak Katolik yang bersekolah di luar sekolah Katolik?. Berapa banyak lulusan perguruan tinggi Katolik yang belum terserap pekerjaan?. Apa kebutuhan ekonomi umat?. Di mana konsentrasi umat miskin?. Bagaimana tingkat keterlibatan umat dalam KBG?. Tanpa data, program Gereja mudah terjebak pada asumsi. Dengan data, pastoral dapat berubah menjadi pastoral yang tepat sasaran.

 

Keempat: profesionalisme harus menjadi bagian dari kesaksian iman

Ada masalah yang jarang dibicarakan secara terbuka: sebagian orang Katolik mungkin aktif dalam kegiatan Gereja tetapi belum tentu membawa nilai Injil secara konsisten ke tempat kerja. Ini bukan tuduhan terhadap kelompok tertentu. Ini adalah refleksi yang harus ditujukan kepada diri sendiri. Kita dapat rajin mengikuti misa, aktif dalam organisasi, bahkan berbicara mengenai kasih dan pelayanan, tetapi pada saat yang sama terlambat bekerja, tidak disiplin, tidak transparan dalam mengelola uang, melakukan plagiarisme, menyalahgunakan jabatan, memperlakukan pekerja secara tidak adil atau ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Jika itu terjadi, ada jurang antara identitas Katolik dan perilaku profesional. Karena itu, ISKA DPD Sumsel perlu memprakarsai Kode Etik Profesional Katolik Sumatera Selatan. Bukan aturan hukum. Bukan pula dokumen yang hanya disimpan di sekretariat. Isinya sederhana: integritas, kompetensi, tanggung jawab, anti-korupsi, penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, profesionalitas, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab digital. Setiap anggota ISKA yang bersedia dapat menandatangani komitmen tersebut dan menjadikannya pedoman dalam profesinya. Iman harus mempunyai konsekuensi etis. Jika iman tidak mengubah cara seseorang bekerja, maka kita perlu bertanya apakah iman tersebut sudah benar-benar menjadi kesaksian hidup.

 

 

 

Dari Gagasan Menjadi Action Plan

Munas ISKA 2026 memiliki momentum untuk menghasilkan sesuatu yang lebih konkret daripada rekomendasi normatif. Proposal Munas sendiri menyebut bahwa forum tersebut memiliki kewenangan menetapkan program umum organisasi dan merumuskan langkah strategis bagi keberlanjutan peran ISKA.  Karena itu, ISKA DPD Sumsel dan seluruh DPC nyag dapat membawa lima agenda aksi sebagai kontribusi daerah.

  1. Catholic Professional Mentoring – mulai dalam 100 hari

Target awal: 50 profesional senior dan 100 mahasiswa/ OMK. Modelnya sederhana: satu mentor mendampingi dua sampai tiga anak muda selama enam bulan. Fokus bukan hanya karier, tetapi integritas, kepemimpinan, pengelolaan keuangan, kesehatan mental, relasi sosial dan kehidupan iman. Keberhasilannya dapat diukur dari jumlah mentor, peserta, pertemuan, serta proyek sosial yang dihasilkan.

  1. ISKA Career and Competency Clinic

Setiap tiga bulan diadakan klinik terbuka untuk umat. Materinya: CV, wawancara kerja, sertifikasi profesi/kompetensi, kewirausahaan, literasi keuangan, perpajakan, hukum ketenagakerjaan, teknologi digital dan kecerdasan buatan. Ini sangat realistis karena ISKA tidak perlu membangun lembaga baru. Ia cukup menghubungkan para anggota yang sudah memiliki keahlian.

  1. KAPal Data and Policy Forum

Setiap semester ISKA bersama KAPal mengidentifikasi satu persoalan konkret berdasarkan data. Misalnya pendidikan anak, ekonomi keluarga, kepemudaan, ketenagakerjaan, lingkungan atau literasi digital. Hasilnya bukan seminar, tetapi policy brief 5-10 halaman yang berisi masalah, data, alternatif solusi, biaya, pihak yang bertanggung jawab dan indikator keberhasilan. Dengan cara ini, ISKA menjadi think tank kecil bagi Gereja dan masyarakat Sumsel.

  1. Catholic Social Entrepreneurship

ISKA DPD Sumsel dan seluruh DPC nya perlu membangun jaringan usaha umat. Target awal bukan mendirikan perusahaan besar, tetapi mengidentifikasi 20 UMKM umat, kemudian memberikan pendampingan selama enam bulan dalam aspek pemasaran digital, pembukuan, legalitas, desain produk, akses pembiayaan dan pemasaran. Setidaknya lima UMKM harus mampu meningkatkan omzet atau memperluas pasar dalam satu tahun. Inilah cara konkret menerjemahkan bonum commune ke dalam ekonomi.

  1. “Satu Profesional, Satu Pelayanan”

Ini harus menjadi gerakan paling sederhana. Setiap anggota ISKA diminta menyumbangkan minimal 20 jam per tahun untuk pelayanan berbasis kompetensi. Pengacara memberi konsultasi hukum. Dokter memberi edukasi kesehatan. Guru membantu pendidikan. Dosen membimbing mahasiswa. Akuntan membantu pembukuan kelompok usaha. IT membantu keamanan digital. Wartawan membantu literasi media. Jika 100 anggota memberikan 20 jam, Gereja dan masyarakat mendapatkan 2.000 jam pelayanan profesional setiap tahun.

 

Tidak spektakuler. Tetapi nyata. Yang Dibutuhkan Bukan Program Baru, Melainkan Keberanian Baru

KAPal sebenarnya telah menunjukkan banyak tanda positif. Tahun Devosional mengajak umat bergerak dari kasih Allah menuju pribadi yang semakin saleh dan manusiawi. Pembinaan OMK menunjukkan perhatian terhadap generasi masa depan. Kaderisasi remaja juga terus dilakukan. Bahkan pembinaan para imam tetap menjadi perhatian. Karena itu, ISKA tidak boleh hadir dengan sikap seolah-olah Gereja belum melakukan apa-apa. Sebaliknya, ISKA harus datang sebagai mitra strategis. Gereja memiliki mandat pastoral. ISKA memiliki modal intelektual dan profesional. Pemerintah memiliki kewenangan publik. Dunia usaha memiliki sumber daya. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan. Komunitas umat memiliki energi sosial. Jika semuanya berjalan sendiri-sendiri, dampaknya terbatas. Tetapi jika disatukan, lahirlah ekosistem pelayanan. Di sinilah makna sesungguhnya dari Pro Ecclesia et Patria, Pro Bono Publico.

Semboyan tersebut tidak boleh menjadi hiasan dalam dokumen organisasi. Ia harus terlihat dalam kehidupan seorang dokter yang menolak praktik tidak etis, seorang pengusaha yang membayar pekerjanya secara layak, seorang pejabat yang tidak menyalahgunakan kekuasaan, seorang akademisi yang menjaga integritas ilmiah, seorang guru yang mendidik dengan hati, seorang profesional digital yang melawan disinformasi, dan seorang anak muda yang memilih pelayanan daripada sekadar mengejar popularitas.

 

Munas 2026 harus menghasilkan lebih dari sekadar kepengurusan baru.

Ia harus menghasilkan cara baru bekerja. Bagi ISKA Sumsel, cara baru itu dapat dimulai dari Kota Palembang. Bukan dengan proyek raksasa. Bukan dengan anggaran besar. Bukan dengan struktur baru yang rumit. Mulailah dengan 100 profesional, 100 anak muda, 20 UMKM, satu laboratorium data, satu kode etik, dan satu komitmen: setiap kompetensi harus menghasilkan pelayanan. Jika itu dilakukan secara konsisten selama tiga tahun, maka ISKA DPD Sumsel dan seluruh DPC nya, dimulai dari DPC Kota Palembang tidak hanya berbicara mengenai bonum commune. Mereka telah mulai membangunnya. Sebab pada akhirnya, kerasulan awam bukanlah seberapa sering kita berbicara tentang iman di dalam Gereja, melainkan seberapa nyata iman itu bekerja ketika kita berada di tengah dunia.

Dan profesionalisme bukan lawan dari kesalehan. Profesionalisme yang berintegritas adalah salah satu bentuk kesaksian iman yang paling konkret. Itulah kontribusi yang seharusnya dibawa ISKA Sumsel dari Palembang menuju Munas Balikpapan: bukan sekadar rekomendasi, tetapi model gerakan; bukan sekadar wacana, tetapi ukuran keberhasilan; bukan sekadar berbicara tentang kesejahteraan, tetapi mulai mengerjakannya.

Penulis sengaja tidak menyatakan bahwa KAPal sedang mengalami “krisis iman” atau “krisis profesionalisme” sebagai fakta empiris, karena sumber yang tersedia tidak membuktikan klaim tersebut. Artikel di atas menempatkannya sebagai tantangan strategis yang perlu diantisipasi/ mitigasi, berdasarkan agenda pembinaan KAPal yang sedang berjalan (HS_06092026).