Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNG

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNG

Pangururan, mediasumatera.id – Di era digitalisasi seperti sekarang ini, saya melihat semakin banyak orang memperdebatkan persoalan tarombo di media sosial. Perdebatan tersebut sering kali berlangsung panjang, saling membantah, bahkan tidak menemukan ujung penyelesaian.

Pertanyaannya, mengapa perdebatan tarombo dapat terjadi sedemikian rupa?
Menurut hemat saya, pada dasarnya tarombo adalah bagian dari pengetahuan mengenai hubungan kekerabatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tarombo seharusnya menjadi sarana untuk mengenal asal-usul keluarga dan mempererat hubungan persaudaraan, bukan menjadi bahan untuk saling merendahkan, mengklaim paling tua, atau memecah persaudaraan.

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNG

Tarombo dan persoalan sejarah
Penulis melihat bahwa persoalan tarombo perlu ditempatkan dalam konteks sejarah masyarakat Batak. Jauh sebelum datangnya kolonialisme, masyarakat adat telah memiliki tata kehidupan sosial yang mengatur hubungan antarkelompok, kampung, bius, dan marga.

Namun ketika kolonialisme Belanda masuk ke wilayah Tanah Batak, berbagai struktur sosial masyarakat adat kemudian berhadapan dengan sistem administrasi dan politik kolonial.

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNGDalam perspektif penulis, kondisi tersebut membuka ruang bagi politik divide et impera, yaitu politik memecah belah kelompok masyarakat agar lebih mudah dikendalikan.

Salah satu persoalan yang kemudian menarik untuk dikaji adalah munculnya berbagai versi mengenai asal-usul marga, kedudukan kelompok, siapa yang dianggap lebih dahulu, siapa yang dianggap paling tua, dan siapa yang berhak atas suatu wilayah.

Hal-hal seperti ini apabila tidak dikaji secara kritis dapat berubah menjadi konflik horizontal di antara sesama masyarakat adat.
Siapa yang paling tua?

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNG

Pada zaman digital sekarang, perdebatan seperti siapa siabangan, siapa adik, siapa paling dahulu, dan siapa yang paling berhak sering kali muncul kembali.

Ironisnya, perdebatan tersebut justru terjadi di antara orang-orang yang sebenarnya masih memiliki hubungan sejarah dan kebudayaan yang sangat dekat.

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNGPadahal, kalau kita kembali kepada kehidupan masyarakat adat, ukuran hubungan sosial tidak semata-mata ditentukan oleh satu lembar silsilah atau satu versi tarombo.
Ada sejarah kampung, sejarah tanah, hubungan kekerabatan, hubungan adat, sejarah bius, peninggalan leluhur, serta berbagai sumber lisan dan tertulis yang seharusnya dipelajari secara bersama-sama.
Sebagai contoh, terdapat nama-nama kampung di Samosir yang menggunakan nama suatu marga, tetapi masyarakat yang tinggal di dalamnya tidak seluruhnya berasal dari marga tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa nama kampung tidak selalu dapat dijadikan satu-satunya bukti untuk menentukan asal-usul suatu kelompok masyarakat.

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNG
Karena itu, setiap sejarah harus dilihat secara lebih luas dan tidak boleh disederhanakan hanya berdasarkan satu versi tarombo.
Tarombo bukan senjata untuk memecah persaudaraan
Saya berpendapat bahwa tarombo seharusnya menjadi jembatan persaudaraan, bukan senjata untuk memenangkan perdebatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin masih mampu mengingat dengan jelas hubungan dirinya dengan ayah, kakek, bahkan beberapa generasi di atasnya. Tetapi semakin jauh suatu generasi ditarik ke belakang, semakin besar kemungkinan terjadi perbedaan penyampaian, perubahan nama, pengulangan nama, atau perbedaan versi dari masing-masing keluarga.
Oleh sebab itu, ketika seseorang mengklaim mampu mengetahui secara mutlak seluruh silsilah sampai belasan generasi, maka klaim tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan sumber sejarah yang dapat diuji.
Tarombo lisan adalah sumber penting, tetapi bukan berarti setiap versi lisan otomatis menjadi satu-satunya kebenaran sejarah.
Sejarah membutuhkan pembanding: naskah, arsip, register, peninggalan, sejarah kampung, kesaksian para tetua adat, serta sumber-sumber lainnya.
Jangan mewariskan perdebatan
Yang paling berbahaya bukanlah perbedaan tarombo.

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNGYang berbahaya adalah ketika perbedaan tarombo berubah menjadi permusuhan antarmarga, perebutan wilayah, penghinaan terhadap kelompok lain, dan perpecahan sesama masyarakat Batak.
Kita jangan sampai mewariskan kepada generasi muda sebuah budaya baru: budaya berdebat tentang siapa yang paling tua.
Sebaliknya, kita harus mewariskan pengetahuan tentang bagaimana leluhur membangun perkampungan, mengatur tanah ulayat, menjalankan sistem bius, menjaga hubungan kekerabatan, dan menyelesaikan persoalan melalui mekanisme adat.
Kalau memang terdapat perbedaan tarombo, mari kita tempatkan sebagai bahan penelitian sejarah, bukan sebagai alasan untuk bermusuhan.

Hatoguan Sitanggang, PERDEBATAN TAROMBO DIPASTIKAN TIDAK BERUJUNG
Penutup
Di era digitalisasi, setiap orang dapat menyampaikan pendapatnya. Namun kebebasan berbicara juga harus disertai dengan tanggung jawab sejarah.
Jangan sampai media sosial menjadi tempat menghidupkan kembali politik adu domba masa lalu.
Kita boleh berbeda versi tarombo, tetapi jangan berbeda dalam persaudaraan.
Tarombo boleh diteliti.
Tarombo boleh dibandingkan.
Tarombo boleh didiskusikan.
Tetapi tarombo jangan dijadikan alasan untuk saling membenci.
Menurut hemat saya, sudah saatnya kita berhenti mempertentangkan siapa paling tua dan mulai menggali sejarah yang lebih besar: bagaimana para leluhur membangun peradaban Tanah Batak dan bagaimana generasi sekarang dapat menjaganya.
Karena pada akhirnya, sejarah bukan dibuat untuk memecah persaudaraan, melainkan untuk memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah. (Hatoguan Sitanggang-Pemerhati Adat & Budaya Batak di Pangururan)