Berita  

Cendekiawan Lintas Iman Untuk Persatuan Bangsa Sampaikan 7 Poin Seruan Moral

Cendekiawan Lintas Iman Untuk Persatuan Bangsa Sampaikan 7 Poin Seruan Moral

JAKARTA, mediasumatera.id –   Cendekiawan Lintas Iman Untuk Persatuan Bangsa, sebuah gabungan dari Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), Ikatan Cendekiawan Hindu Indonesia (ICHI), dan Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI), menyatakan keprihatinan mereka atas kondisi bangsa saat ini. Mereka menegaskan dukungan terhadap setiap langkah yang bertujuan menjaga persatuan dan kesatuan nasional demi pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan rakyat.

Cendekiawan Lintas Iman Untuk Persatuan Bangsa Sampaikan 7 Poin Seruan Moral

Pernyataan ini diwakili oleh para ketua umum dari masing-masing organisasi, yaitu:

  • ISKA: Luky A Yusgiantoro, B.Sc., M.Sc., Ph.D
  • KCBI: Bhikkhu Dhammavuddho Thera/Victor Jaya Kusuma, S.Kom., M.M., BKP
  • ISNU: Dr. Phil Kamaruddin Amin, MA
  • PIKI: Badikenita Putri Br Sitepu, S.E., M.Si.
  • ICHI: I Nyoman Widia, M.H., Ak, CA, CPA, CH, CHt.

Cendekiawan Lintas Iman Untuk Persatuan Bangsa Sampaikan 7 Poin Seruan Moral

Mereka menyampaikan duka cita mendalam atas korban jiwa dari kalangan sipil maupun aparat keamanan selama unjuk rasa. Mereka berharap para korban mendapatkan ketenangan abadi dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.

Selain itu, mereka sangat menyesalkan terjadinya kerusuhan di berbagai wilayah saat masyarakat menyampaikan aspirasi. Kejadian ini dianggap telah merusak rasa kebersamaan bangsa dan meninggalkan luka dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Cendekiawan Lintas Iman Untuk Persatuan Bangsa Sampaikan 7 Poin Seruan Moral

“Peristiwa ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki segala sesuatu demi kebaikan bersama. Kesalahan dan kekurangan yang terjadi harus dijadikan pelajaran agar tidak terulang di masa depan,” terangnya.

  1. Menjaga Kesatuan dan Persatuan NKRI. “Kami menegaskan komitmen untuk senantiasa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persatuan bangsa adalah warisan luhur para pendiri negara yang harus kita pelihara dengan kesadaran, cinta tanah air, dan semangat gotong royong.
  2. Mendengarkan Aspirasi Rakyat. Kami menyerukan kepada Pemerintah dan Parlemen agar sungguh-sungguh mendengar, menghargai, dan menindaklanjuti aspirasi rakyat dengan penuh kearifan. Suara rakyat adalah amanah yang tidak boleh diabaikan, melainkan harus menjadi dasar bagi setiap kebijakan dan keputusan kenegaraan.
  3. Menghindari Anarkisme dan Narasi Provokatif Kami mengimbau seluruh elemen bangsa untuk menahan diri dari tindakan anarkis dan menghindari narasi yang provokatif. Kekerasan hanya akan melahirkan luka baru, sedangkan kata-kata yang menyesatkan akan memperlebar jarak di antara sesama anak bangsa.
  4. Menghentikan Penyaluran Aspirasi yang Berujung Kerusuhan. Kami mengajak semua lapisan masyarakat dari berbagai kalangan untuk menghentikan penyaluran aspirasi yang berujung pada kerusuhan. Kita semua berkepentingan agar Indonesia tetap bersatu, damai, dan sejahtera. Untuk itu, setiap pihak hendaknya saling menjaga sikap, bertoleransi terhadap perbedaan, dan menolak segala bentuk intimidasi, kekerasan, serta kerusuhan.
  5. Membuka Dialog, Saling Memaafkan, dan Mencapai Kesepakatan Bersama. Kami mengajak semua pihak untuk membuka ruang dialog yang jujur dan beradab, membangun sikap saling memaafkan, serta mencari jalan tengah yang membawa pada kesepakatan bersama. Hanya dengan jalan dialog dan rekonsiliasi, kita dapat merajut kembali harmoni sosial yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
  6. Menjaga Stabilitas dan Ketenangan. Kami menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan ketenangan sosial agar roda perekonomian bangsa tetap berjalan lancar. Kehidupan ekonomi yang sehat merupakan salah satu pilar kesejahteraan rakyat, sehingga stabilitas harus dijaga bersama oleh seluruh elemen bangsa.
  7. Reformasi Parlemen. Kami sependapat dengan gagasan perlunya dilakukan reformasi agar Parlemen dapat menjalankan fungsinya dengan lebih profesional, efisien, dan nasionalis. Parlemen yang kuat dan bermartabat merupakan pilar penting bagi tegaknya demokrasi Indonesia. “Dengan semangat persaudaraan lintas iman, mari kita jaga Indonesia sebagai rumah bersama yang damai, adil, dan penuh kasih bagi seluruh warganya,” pungkasnya.(*)