mediasumatera.id – Pada suatu sore di sebuah kota kecil yang jauh dari Indonesia, seorang mahasiswa Eropa membuka Google Books untuk mencari bacaan tentang sejarah Asia.
Ia tidak mengenal Indonesia. Ia bahkan tak mampu menunjuk letaknya di peta. Namun beberapa menit kemudian ia larut membaca sebuah puisi tentang manusia, luka, dan harapan yang ditulis seorang pengarang Indonesia.
Pada saat itulah Indonesia menyeberangi samudra, bukan melalui kapal dagang yang membawa kelapa sawit, batu bara, atau nikel, melainkan melalui kata-kata.
Komoditas mengisi pelabuhan dunia. Sastra mengisi ingatan manusia. Dan sering kali, ingatan bertahan jauh lebih lama daripada perdagangan.
-000-
Buku puisi esai Menggigil dalam Arus Sejarah karya Denny JA sedang diterjemahkan ke dalam 35 bahasa internasional. Saat ini enam versinya telah tersedia melalui Google Books, yaitu bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, Mandarin, dan Arab.
Perjalanan ini bukan sekadar proyek penerbitan. Ia merupakan upaya memperkenalkan pengalaman sejarah, nilai kemanusiaan, dan cara pandang Indonesia kepada pembaca dunia.
Pada tahun 2025, Denny JA menerima BRICS Award for Literature Innovation. Penghargaan tersebut diberikan karena kontribusinya memperkenalkan dan mengembangkan genre puisi esai, sebuah bentuk sastra yang memadukan kekuatan puisi, narasi, dan refleksi sosial dengan landasan fakta sejarah.
Inovasi ini memperlihatkan bahwa sastra tidak harus memilih antara keindahan bahasa dan ketepatan fakta. Keduanya dapat berjalan bersama, saling memperkuat, dan melahirkan pengalaman membaca yang baru.
Pengakuan internasional itu membawa konsekuensi logis. Sebuah karya yang dianggap menghadirkan inovasi sastra layak diperkenalkan kepada khalayak global melalui penerjemahan.
Terjemahan bukan sekadar memindahkan bahasa. Terjemahan memindahkan pengalaman manusia dari satu peradaban ke peradaban lain.
Ketika sebuah karya diterjemahkan, yang ikut menyeberang bukan hanya kalimat, melainkan cara suatu bangsa memahami cinta, sejarah, agama, konflik, dan kemanusiaan.
Bayangkan seorang guru di Kairo membacakan puisi tentang Hiroshima kepada muridnya dalam bahasa Arab. Seorang mahasiswa di Moskow mengutip bait tentang Auschwitz dalam bahasa Rusia.
Seorang penerjemah di Beijing menuliskan ulang kisah manusia perahu Vietnam dalam aksara Mandarin.
Pada momen itu, Indonesia tidak sekadar diterjemahkan. Indonesia sedang berbicara kepada dunia dengan suaranya sendiri.
-000-
Selama puluhan tahun Indonesia berhasil mengekspor kelapa sawit, batu bara, nikel, gas alam, dan berbagai komoditas lainnya. Semua itu penting karena menghasilkan devisa, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan roda ekonomi nasional.
Namun sebuah bangsa tidak hanya hidup dari komoditas. Bangsa juga hidup dari gagasan.
Di sinilah makna diplomasi budaya. Diplomasi budaya adalah usaha memperkenalkan identitas, nilai, tradisi, dan cara berpikir suatu bangsa melalui karya seni, sastra, pendidikan, bahasa, maupun warisan budaya.
Tujuannya bukan memaksa negara lain menerima pandangan kita, melainkan membangun pengertian, penghormatan, dan kedekatan emosional.
Dalam ilmu hubungan internasional, gagasan ini berdekatan dengan konsep soft power yang dipopulerkan Joseph S. Nye Jr. Soft power adalah kemampuan memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan gagasan, bukan melalui tekanan ekonomi ataupun kekuatan militer.
Karena itu, penerjemahan sastra Indonesia merupakan bentuk nyata diplomasi budaya sekaligus soft power. Ketika pembaca di Madrid, Kairo, Beijing, Moskow, Paris, atau New York tersentuh oleh karya seorang penulis Indonesia, citra Indonesia berubah. Negara ini tidak lagi hanya dikenal sebagai penghasil komoditas, tetapi juga sebagai penghasil pemikiran, empati, dan kebijaksanaan.
Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang paling berpengaruh selalu mengekspor kebudayaannya. Dunia mengenal Inggris bukan hanya karena Revolusi Industrinya, tetapi juga karena Shakespeare.
Jepang bukan hanya karena industri otomotifnya, melainkan juga karena Haruki Murakami, manga, dan anime.
Korea Selatan bukan hanya karena Samsung, tetapi juga karena K-Pop, film, dan dramanya. Kekayaan alam membuka pasar. Kebudayaan membuka hati manusia. Indonesia pun memerlukan keduanya.
-000-
Tiga alasan mengapa penting menejemahkan karya penulis Indonesia ke banyak bahasa asing.
Alasan pertama, penerjemahan memperluas pengaruh peradaban Indonesia.
Negara besar dikenang bukan hanya karena kekuatan ekonominya, tetapi juga karena sumbangan intelektual dan budayanya. Yunani dikenang karena filsafatnya. Inggris karena sastranya. Jepang karena budayanya. Indonesia pun memerlukan jejak serupa.
Setiap karya sastra yang diterjemahkan menjadi duta yang bekerja tanpa batas waktu. Ia hadir di perpustakaan, ruang kelas, dan rak buku digital di berbagai negara. Pengaruh seperti ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka perdagangan, tetapi dampaknya mampu bertahan lintas generasi.
Alasan kedua, penerjemahan membangun martabat bangsa.
Bangsa yang dihargai adalah bangsa yang mampu menceritakan dirinya sendiri. Jika Indonesia tidak menghadirkan kisahnya kepada dunia, orang lain akan menuliskan kisah tentang Indonesia menurut sudut pandang mereka.
Terjemahan memberi kesempatan kepada penulis Indonesia untuk berbicara langsung kepada masyarakat internasional. Di sana lahir penghargaan yang lebih adil terhadap sejarah, budaya, dan kemanusiaan Indonesia.
Alasan ketiga, penerjemahan menciptakan nilai ekonomi baru.
Ekonomi masa depan semakin bertumpu pada kekayaan intelektual. Buku, film, musik, gim, dan karya kreatif menjadi industri bernilai tinggi.
Ketika sastra Indonesia dikenal dunia, peluang lahir bagi penerbitan internasional, adaptasi film, hak cipta, pendidikan, festival sastra, hingga pariwisata budaya. Nilai ekonominya mungkin tumbuh lebih lambat daripada ekspor komoditas, tetapi memiliki umur ekonomi yang jauh lebih panjang.
Tentu, penerjemahan dan ketersediaan digital barulah pintu pembuka. Ujian sesungguhnya diplomasi sastra terletak pada bagaimana karya tersebut masuk dalam kurikulum, dibahas dalam riset akademis, serta memicu dialog lintas budaya.
Ekspor sastra tak berhenti saat buku diunggah, melainkan ketika gagasan di dalamnya mulai mengendap dalam ruang diskusi global, membuktikan bahwa pemikiran Indonesia layak bersanding di panggung dunia.
-000-
Buku Denny JA: Menggigil dalam Arus Sejarah memperlihatkan bagaimana sejarah dapat kembali bernapas melalui sastra. Buku ini tidak memandang perang, revolusi, atau genosida dari sudut para pemimpin besar, melainkan dari mata manusia biasa yang terseret arus zaman.
Statistik berubah menjadi wajah. Angka berubah menjadi air mata. Sejarah berubah menjadi pengalaman batin.
Bagaimana mungkin di tengah Perang Dunia Pertama, ketika jutaan orang saling membunuh, dua pasukan musuh justru keluar dari parit, bertukar cokelat, berjabat tangan, lalu bermain sepak bola bersama pada Malam Natal 1914?
Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk buku ini untuk menjelajahi berbagai tragedi dunia, mulai dari Holocaust, Hiroshima, Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, Revolusi Kebudayaan di Tiongkok, hingga kisah para manusia perahu Vietnam.
Keistimewaan buku ini bukan terutama pada pilihan peristiwanya, melainkan pada sudut pandangnya. Denny JA selalu mencari manusia biasa yang hilang di balik gemuruh sejarah.
Seorang anak yang kehilangan ibunya di Auschwitz. Seorang istri yang tak pernah menerima surat terakhir suaminya di Hiroshima. Seorang serdadu yang semalam bermain sepak bola dengan musuhnya, tetapi keesokan paginya diperintahkan menembaknya kembali.
Dengan cara itu, sejarah tidak lagi berhenti sebagai kumpulan fakta. Ia berubah menjadi pengalaman yang dapat dirasakan.
Lewat kacamata ini, Indonesia menawarkan narasi alternatif: melihat tragedi global bukan dengan ketaatan dogmatis atau dendam politik, melainkan melalui empati kemanusiaan yang universal, inklusif, dan melampaui batas-batas geografi.
Dalam kata pengantarnya, penulis menegaskan bahwa historiografi mengarsipkan peristiwa, sedangkan puisi esai menghidupkan jiwa manusia yang tersembunyi di balik peristiwa tersebut.
Sejarah mencatat apa yang terjadi. Sastra membuat kita merasakan bagaimana rasanya berada di dalamnya. Itulah sebabnya buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan sebuah dokumen kemanusiaan yang berusaha menjaga agar mereka yang tenggelam dalam arus sejarah tidak ikut tenggelam dalam ingatan kita.
-000-
Ada yang berpendapat bahwa membandingkan ekspor sastra dengan ekspor kelapa sawit adalah kekeliruan karena keduanya berada pada ranah yang berbeda. Komoditas menghasilkan devisa nyata, sedangkan sastra tidak.
Keberatan itu benar jika ukuran keberhasilan hanya dihitung dari neraca perdagangan tahunan.
Namun dalam jangka panjang, ekonomi memerlukan reputasi, reputasi memerlukan kepercayaan, dan kepercayaan lahir dari budaya.
Tidak ada negara besar yang hanya mengekspor bahan mentah. Semua negara besar juga mengekspor gagasan, ilmu pengetahuan, seni, dan nilai-nilai yang membuat dunia mengenal mereka.
Karena itu, Indonesia tidak perlu memilih antara kelapa sawit dan karya sastra. Kita memerlukan keduanya. Yang satu membangun kemakmuran ekonomi. Yang lain membangun keabadian peradaban.
Kelapa sawit mengisi kapal-kapal yang berlayar ke berbagai pelabuhan dunia. Karya sastra mengisi hati manusia yang akan mengingat Indonesia jauh setelah kapal-kapal itu kembali.
Kelapa sawit suatu hari akan habis dipanen. Nikel suatu hari akan habis ditambang. Batu bara suatu hari akan habis dibakar. Tetapi sebuah karya sastra yang berhasil menyentuh hati manusia dapat hidup lintas generasi. Di situlah sebuah bangsa mulai memasuki keabadiannya.*
Semarang, 5 Agustus 2026
Link Buku Denny JA Dalam 6 Bahasa di Google Book:
1. Denny JA-Menggigil dalam Sejarah (Bahasa Inggris: Shivering in History’s Current)
https://books.google.co.id/books/about?id=g4PuEQAAQBAJ&redir_esc=y
2.Denny JA-Menggigil dalam Sejarah (Bahasa Spanyol: Estremecerse en la corriente de la historia) https://books.google.co.id/books/about?id=cNn7EQAAQBAJ&redir_esc=y
3.Denny JA-Menggigil dalam Sejarah (Bahasa Perancis: Frémir dans le courant de I’Histoire)
https://books.google.co.id/books/about?id=NP_8EQAAQBAJ&redir_esc=y
4.Denny JA-Menggigil dalam Sejarah (Bahasa Rusia: DROZH V POTOKE ISTORII (Дрожь в потоке истории))
https://books.google.co.id/books/about?id=r9n7EQAAQBAJ&redir_esc=y
5.Denny JA-Menggigil dalam Sejarah (Bahasa Mandarin: Zài lìshǐ zhī liú zhōng zhànlì (在历史之流中战栗)
https://books.google.co.id/books/about?id=Pv78EQAAQBAJ&redir_esc=y
6.Denny JA-Menggigil dalam Sejarah (Bahasa Arab: Yartajifu fī Tayyāri al-Tārīkh)
https://books.google.co.id/books/about?id=uQD9EQAAQBAJ&redir_esc=y







