Berita  

Ketegaran Hati

Ketegaran Hati

SEMANGAT PAGI, mediasumatera.id – para saudaraku ytk. Apa kabar para saudaraku di hari yang baru ini? Saya berharap para saudaraku tidak lupa untuk mengawali harimu dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 10: 1 – 12, yakni perceraian. Jika kita renungan secara mendalam, mengapa bisa terjadi perceraian? Hasil perenungan saya, bahwa perceraian bisa terjadi karena adanya ketegaran hati dari pasangan suami-istri (pasutri). Pertanyaannya adalah apa itu ketegaran hati? Ketegaran hati bisa berarti keras hati, keras kepala, tidak mau menerima atau menolak masukan dari suami atau istri. Atau bisa juga berarti tidak mau mendengarkan suami atau istri, dalam hal ini mau menang sendiri. Ketegaran hati bisa juga berarti bebal secara spiritual atau rohani, atau tidak memiliki kecerdasan spiritual. Padahal kecerdasan spiritual merupakan kunci dari kecerdasan-kecerdasan yang lainnya. Itu pulalah yang dialami oleh orang-orang Farisi yang mencobai Yesus dengan suatu pertanyaan: ” bolehkah seorang suami menceraikan istrinya?”. Di sini terjadi dialog antara Yesus dan orang-orang Farisi. Lalu, Yesus berkata kepada mereka: ” karena ketegaran hatimulah, maka Musa menulis perintah untukmu”. Sebab, sejak awal dunia, Allah menolak perceraian. Sebagai pemimpin atau pemuka agama, harusnya orang-orang Farisi paham tentang itu. Namun, faktanya tidak. Oleh karena itu, Yesus mencela mereka karena tegar hati. Dia ingin menunjukkan bahwa sikap keras kepala mereka menghalangi mereka untuk menerima kebenaran dan kasih yang Dia tawarkan. Ini juga sebagai pengingat bagi kita semua untuk tetap terbuka hati dan pikiran kita, terhadap kebenaran dan untuk mencari hubungan yang tulus, intim dan intens dengan Tuhan, bukan hanya menjalankan aturan-aturan keagamaan secara lahiriah. Jadi, Ketegaran hati atau kebebalan spiritual atau rohani atau tidak memiliki kecerdasan spiritual, itulah yang menyebabkan orang-orang Farisi tidak mau mendengarkan, tidak mau menerima, dan tidak memahami ajaran-ajaran rohani yang dia sampaikan oleh Yesus. Demikian pula dengan pasutri, yang bercerai, karena tegar hati, keras hati, keras kepala, tertutup hati rapat-rapat, tidak mau menerima atau mendengarkan masukan, nasihat, teguran untuk kebaikan rumah tangga. Juga karena bebal secara spiritual atau rohani, atau tidak memiliki kecerdasan spiritual. Hal ini bisa jadi karena rapuh secara spiritual atau rohani, tidak atau kurang berdoa bersama di rumah, jarang atau bahkan tidak pernah misa hari Minggu. Akibatnya, kecerdasan emosional tak terkendalikan, mudah marah, mudah tersinggung, cepat emosi.

Baca Juga :  Hasil Rapimnas ISKA Palembang Agar Tetap Menjaga Soliditas dan Komitmen Serta Konsisten Melaksanakan Berbagai Program

Bagaimana dengan kita? Adakah kita juga mengalami ketegaran hati atau kebebalan spiritual atau rohani atau tidak memiliki kecerdasan spiritual? Jika kita mengalami hal demikian, maka Yesus akan mencela kita juga sama seperti Dia mencela orang-orang Farisi. Kunci agar kita tidak tegar hati adalah kita membuka hati dan pikiran kepada ajaran dan perintah Tuhan. Juga harus menjalin relasi SPIRITUAL yang intim, intens dengan Tuhan. Jika itu yang terjadi, mau kita akan menjadi pribadi yang lemah lembut dan rendah hati, yang mau menerima, mau mendengarkan masukan, nasihat, teguran dari siapa saja sebagai bentuk kepedulian dan perhatian terhadap kita. Bukan karena mereka lebih baik, melainkan mereka mau kita jauh lebih baik dari mereka. Maka, mari janganlah kita tegar hati, melainkan lembut dan rendah hati. Untuk itu kita harus olah pikiran, olah hati atau olah SPIRITUAL, agar kita memiliki kecerdasan SPIRITUAL, sebagai kunci kecerdasan-kecerdasan yang lainnya. Semoga demikian 🙏🙏

 

Dalam banyak konteks, “tegar hati” ini menunjukkan kebebalan spiritual yang menghalangi seseorang untuk benar-benar memahami dan hidup sesuai dengan kebenaran rohani yang diajarkan oleh Yesus. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga hati kita agar tetap terbuka dan siap untuk belajar serta menerima ajaran yang benar.