Berita  

KH. Ali Akbar Marbun: Pewaris Sanad Hijaz dan Muassis Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan

KH. Ali Akbar Marbun: Pewaris Sanad Hijaz dan Muassis Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan

mediasumatera.id – KH. Ali Akbar Marbun merupakan salah satu ulama kharismatik yang menjadi pilar penjaga syiar Islam di Sumatra Utara. Lahir di Desa Siniang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, beliau adalah putra ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan petani yang amat taat beragama, Bapak Buyung Marbun dan Hj. Chadijah br. Nainggolan. Dahaga akan ilmu agama mulai menguat di dalam dirinya seusai menamatkan pendidikan SMP. Sadar bahwa pendidikan umumnya belum menyentuh kedalaman ilmu agama, beliau pun membulatkan tekad memulai pengembaraan intelektual menuju Sei Rampah, Serdang Bedagai, demi mendalami Al-Qur’an dan Fikih kepada Khalifah Umar.

​Langkah pencarian ilmu KH. Ali Akbar kemudian merentang semakin luas di tanah Sumatra. Beliau mendalami ilmu Tauhid dan Tasawuf serta mengambil ijazah Tarikat Samaniyah kepada Syech Baringin Zainal Abidin dan Syech Faqih Kayo. Setelahnya, kawah candradimuka Pesantren Musthafawiyah Purba Baru di Tapanuli Selatan menjadi tempat bernaungnya yang baru. Sembari menimba ilmu di bawah bimbingan guru besar Syech Abdul Halim Lubis (Tuan Naposo), kelana ilmunya tak pernah surut. Beliau menyempatkan diri berguru kepada Syech Abdul Wahab di Muara Mais dan Syech Abdul Majid di Tambangan Tonga. Bahkan di kala libur pesantren, beliau rela melakukan perjalanan jauh ke Bonjol, Sumatra Barat, demi mengamalkan dan mengambil sanad Tarikat Naqsyabandiyah dari Tuan Syech Muhammad Said.

​Puncak dari rihlah keilmuan KH. Ali Akbar terjadi pada tahun 1969, tatkala beliau menempuh perjalanan laut selama dua minggu menggunakan kapal Ambolombo untuk menunaikan ibadah haji. Hatinya tertambat kuat di Tanah Suci Makkah, yang menjadikannya memutuskan untuk bermukim demi mereguk samudra ilmu di Masjidil Haram. Di sanalah beliau bersimpuh di hadapan para mahaguru dunia, diawali dengan berguru ilmu Hadis kepada Al-Fadhil Al-Alim Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani. Beliau menempuh pendidikan di Madrasah legendaris As-Saulatiyah selama empat tahun dan berguru kepada deretan ulama besar Makkah, seperti Sayyid Amin Al Kutbi, Sayyid Hasan Fad’aq, Syech Thaha Yamani, hingga akhirnya menyempurnakan sanad keilmuannya kepada putra gurunya yang pertama, yakni Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani.

​Berbekal perpaduan sanad keilmuan Nusantara dan keagungan sanad ulama Hijaz yang begitu paripurna, KH. Ali Akbar Marbun akhirnya kembali ke Tanah Air pada tahun 1978. Kepulangannya ke Kota Medan segera menjadi tonggak sejarah yang cemerlang dengan didirikannya Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar. Melalui lembaga pendidikan yang diasuhnya inilah, KH. Ali Akbar Marbun terus mendedikasikan hidupnya untuk mencetak ribuan generasi tafaqquh fiddin, merawat harmonisasi umat, serta berdiri kokoh sebagai lentera keilmuan dan penjaga akidah di Sumatra Utara.

​Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 295
KH. Ali Akbar Marbun (Medan, Sumatra Utara)