Paus Leo XIV Tegaskan Misi Perdamaian Global: “Saya Tidak Takut pada Pemerintahan Trump”

Paus Leo XIV Tegaskan Misi Perdamaian Global: "Saya Tidak Takut pada Pemerintahan Trump"

ALJIR, mediasumatera.id – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pergeseran peta politik transatlantik, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Leo XIV, mengeluarkan pernyataan diplomatik yang kuat saat memulai perjalanan apostoliknya ke Benua Afrika. Dalam konferensi pers di atas pesawat kepausan menuju Aljir, Bapa Suci menegaskan bahwa misi Gereja untuk mewartakan “Injil Perdamaian” tetap tidak tergoyahkan oleh dinamika politik negara mana pun, termasuk Amerika Serikat.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pertanyaan awak media mengenai potensi benturan kebijakan antara Vatikan dan pemerintahan Donald Trump yang kembali berkuasa. Sumber Vatican.news menyampaikan bahwa Paus Leo XIV dengan tenang namun tegas menyatakan bahwa mandatnya berakar pada nilai-nilai kemanusiaan universal, bukan pada kepentingan elektoral atau blok politik tertentu.

Independensi Moral di Tengah Arus Politik
“Saya tidak akan mundur dari kewajiban untuk mewartakan pesan Injil. Tugas saya adalah mengundang seluruh umat manusia untuk membangun jembatan perdamaian dan rekonsiliasi, serta mencari setiap celah untuk menghindari peperangan kapan pun itu mungkin terjadi,” ujar Paus Leo XIV.
Menjawab pertanyaan spesifik mengenai perbedaan visi dengan Washington, beliau menegaskan posisi independensi Takhta Suci. “Saya tidak takut pada pemerintahan Trump. Namun, penting untuk dipahami bahwa saya bukan seorang politikus. Saya tidak memiliki niat untuk terjebak dalam debat politik praktis. Panggilan saya adalah sebagai gembala bagi dunia yang sedang terluka,” tambahnya.

Kritik terhadap Logika Perang dan Kekerasan
Paus Leo XIV juga menyoroti penggunaan narasi agama untuk membenarkan tindakan agresi. Beliau memperingatkan bahwa pesan suci tidak boleh disalahgunakan untuk melegitimasi kekerasan. Menurutnya, realitas dunia saat ini menunjukkan bahwa terlalu banyak warga sipil tak berdosa yang menjadi korban dari kegagalan diplomasi.
“Seseorang harus berani berdiri dan menyuarakan bahwa ada jalan yang lebih baik. Jalan itu bukanlah perlombaan senjata atau isolasionisme, melainkan dialog multilateral dan kerja sama antarbangsa yang berkelanjutan,” tegas Bapa Suci.

Baca Juga :  Kapolresta Deli Serdang Pimpin Press Release Akhir Tahun 2021

Agenda Kemanusiaan: Dari Afrika ke Lampedusa
Kunjungan ke Afrika ini dipandang sebagai upaya Vatikan untuk memperkuat peran negara-negara Selatan dalam perdamaian global. Sebagai bukti nyata dari komitmen kemanusiaannya, Takhta Suci juga mengonfirmasi rencana kunjungan Paus ke Pulau Lampedusa pada Juli mendatang.
Kunjungan tersebut merupakan langkah simbolis untuk memberikan perhatian dunia pada krisis migran dan pengungsi korban konflik—sebuah isu yang seringkali menjadi titik perdebatan tajam dengan kebijakan imigrasi pemerintahan AS saat ini. Paus ingin memastikan bahwa Gereja tetap menjadi suara bagi mereka yang terpinggirkan dan kehilangan tanah air.

Kekuatan Kasih sebagai Solusi
Mengakhiri pernyataannya, Paus Leo XIV mengutip salah satu inti dari ajaran Gereja (Sabda Bahagia) sebagai pedoman bagi para pemimpin dunia.
“Pesan saya, pesan Gereja, dan pesan Injil tetap sama: ‘Berbahagialah para pembawa damai’. Di dunia yang seringkali hanya memuja logika kekuatan fisik dan dominasi, Gereja dipanggil untuk menjadi suara hati nurani. Damai bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan manifestasi dari kekuatan sejati yang lahir dari kasih dan keberanian untuk berdialog,” pungkasnya.(*)