Petrus Murwanto
Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Katolik Musi Charitas
mediasumatera.id – Di era digital saat ini, kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI), seperti ChatGPT, Microsoft Pilot, Midjourney, DALL E atau Google Gemini semakin merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Banyak siswa dan guru sangat familiar dan memanfaatkan kecanggihannya untuk membantu menyelesaikan berbagai tugas pekerjaan akademis mereka. GenAI bisa menjadi alat pembuatan konten dan asisten pembelajaran interaktif, sesuai dengan pertanyaan dan instruksi yang diajukan. Siswa dan guru menggunakannya untuk menjawab banyak pertanyaan dan menyelesaikan makalah. Para guru memanfaatkan GenAI untuk menyiapkan bahan ajar, mengembangkan materi pembelajaran dan berbagai tugas pekerjaan lain. Bagaimana para siswa dan guru memanfaatkan GenAI dalam kehidupan sehari-hari serta frekuensi dan intensitas penggunaanya menunjukkan tidak hanya betapa bermanfaatnya GenAI ini bagi mereka tetapi juga menunjukkan betapa mendesak dan pentingnya bagi mereka untuk menggunakannya secara bijaksana, efektif, kritis dan etis.
Di tengah banyaknya kesempatan dan manfaat yang ditawarkan oleh GenAI, kehadirannya juga menimbulkan tantangan dan persoalan dalam pendidikan. Dikasteri untuk Kebudayaan dan Pendidikan Tahta Suci melalui dokumen Antiqua et Nova (2025), menegaskan bahwa jika digunakan secara bijaksana, dalam konteks relasi guru dan siswa yang sudah terbangun dan sesuai dengan tujuan otentik pendidikan, GenAI dapat menyediakan sumber daya yang berharga yang membantu meningkatkan akses pada pendidikan, memberikan dukungan yang disesuaikan sehingga memungkinkan pembelajaran lebih personal dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa, memberikan feedback langsung dan cepat kepada siswa, serta meningkatkan pengalaman belajar siswa, terutama dalam akses sumber daya pendidikan yang terbatas. Persoalannya adalah bahwa banyak GenAI yang “hanya menyediakan jawaban alih-alih mendorong siswa untuk menemukan jawaban sendiri atau menulis teks untuk diri mereka sendiri” (AN 82). Dampaknya, GenAI dapat menyebabkan kegagalan dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang sangat diperlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari di tengah tantangan yang kompleks pada zaman ini. Selain itu, penggunaan yang tidak bijaksana bisa mengancam integritas akademik yang menjunjung tinggi kebenaran dan pembelajaran otentik. Siswa dan juga pendidik mesti mempunyai kemampuan berpikir kritis dan berpegang pada integritas akademik karena sangat mungkin bahwa ada informasi yang bias dan dibuat-buat serta informasi/berita palsu yang bisa dihasilkan oleh beberapa program GenAI yang menciderai akal sehat dan kebenaran akademik. Kemampuan berpikir kritis dan komitmen untuk berpegang pada prinsip integritas akademik menjadi penuntun bagi siswa dan guru untuk tidak tergelincir pada praktik-praktik pendidikan yang tidak etis, seperti plagiarisme.
Tujuan Pendidikan adalah untuk membantu siswa berpikir kritis dan mencapai kebenaran, serta mengembangkan kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat dan menjalin relasi dan komunikasi yang baik dengan orang lain. Namun, di tengah kemajuan teknologi, khususnya dengan penggunaan AI secara ekstensif dalam pendidikan, “dapat menyebabkan meningkatnya ketergantungan siswa pada teknologi, mengikis kemampuan mereka untuk melakukan beberapa keterampilan secara mandiri dan memperburuk ketergantungan mereka pada layar” (AN 81). Ketergantungan berlebihan pada jawaban yang diberikan GenAI hanya membuat siswa dan guru ada pada surface-level understanding (pemahaman dangkal) dari pada deep learning (pembelajaran mendalam). Maka, agar tidak terjebak pada penggunaan GenAI yang kontraproduktif dengan tujuan otentik pendidikan, guru maupun siswa mesti mempunyai kesadaran, komitmen dan semangat belajar yang selaras dengan hakikat dan tujuan otentik pendidikan, yaitu pengembangan diri manusia menjadi manusia yang semakin utuh; manusia yang cakap secara intelektual, matang secara emosional, mendalam secara spiritual, terampil, berkarakter dan mempunyai kepedulian pada sesamanya. GenAI mesti dipandang dan diperlakukan sebagai alat bantu yang tidak pernah bisa menggantikan kecerdasan manusia dengan segala potensi kreatifnya. GenAI juga tidak bisa pernah menggantikan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial, yaitu interaksi dengan sesamanya secara real.
Dari GenAI ke Deep Learning
Di tengah perkembangan dan pemanfaatan GenAI serta dampaknya pada kegiatan dan proses pendidikan, maka setiap pendidik perlu melaksanakan kegiatan dan proses pembelajaran yang mendalam, bermakna dan relevan dengan tantangan dan kebutuhan kehidupan nyata. Kehadiran GenAI tidak boleh mengendorkan semangat belajar dan menumpulkan ketajaman berpikir kritis, baik guru maupun siswa. Dunia menjadi semakin kompleks, proses pembelajaran mesti beranjak dari pendekatan tradisional yang menekankan hafalan (rote learning) atau yang menganut ‘sistem bank’ (Banking System) sebagaimana menjadi kritiknya Paulo Freire ke pendekatan deep learning. Kedua pendekatan tradisional tersebut tidak banyak membantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa karena siswa bersifat pasif dan dipandang sebagai ‘objek penerima’ pengetahuan. Dalam pendekatan banking system, siswa hanya menerima berbagai informasi tanpa mempunyai kemampuan untuk memproses atau menantang informasi yang diterima secara kritis dan kreatif. Kekuatan pikiran kreatif dan kritis mereka tergerus oleh pendekatan banking system. Situasi itulah yang bisa terjadi dalam diri siswa yang hanya memanfaatkan GenAI tanpa disertai dengan kemampuan dan kemauan untuk berpikir secara kritis dan reflektif.
Pendidik harus mampu menjadikan siswa menjadi lebih manusiawi, pribadi yang mempunyai kesadaran dan subyek yang mampu menciptakan dan mengembangkan pengetahuan. Dalam pandangan Freire (2008) “Subyek adalah seseorang yang mempunyai kapasitas untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan ditambah kapasitas kritis untuk membuat pilihan dan mentransformasi kenyataan tersebut”. Untuk mendukung gagasan Freire tersebut, para pendidik perlu melakukan pendekatan belajar yang lebih mendalam dan bermakna, memacu pemikiran kritis dan melibatkan partisipasi aktif siswa dalam belajar, deep learning. Dengan deep learning, pendidik menggerakkan siswa untuk mengetahui dan memahami setiap konteks informasi, menganalisa berbagai konsep, menghubung-hubungkannya dan menggunakannya dalam kehidupan nyata, dalam situasi yang lebih kompleks. Dalam proses pembelajaran mendalam, pendidik harus mampu membantu siswanya memverifikasi dan juga memaknai setiap informasi yang didapatkan dengan mudah dari GenAI.
Di era GenAI, pendidik tidak lagi menjadi pusat dan pemberi informasi. Karena, kalau pendidik hanya sebatas mentransfer informasi, perannya lambat laun akan digantikan oleh internet, yang di mana saat ini siswa bisa mengaksesnya dengan mudah dan menemukan apa yang dicari. Saat ini, pendidik harus mampu membantu merefleksikan setiap infomasi agar bermakna dan juga berguna untuk pertumbuhan siswa dan juga dalam kehidupan kongkrit sehari-hari. Di sinilah pendidik mesti mampu menjalankan kegiatan pembelajaran dengan mengutamakan prinsip pembelajaran deep learning yang pernah dinyatakan oleh Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu mindful learning, meaningful learning dan joyful learning. Dalam proses pembelajaran, pendidik mendampingi siswa focus dengan kesadaran penuh pada apa yang sedang dipelajari serta terlibat aktif (mindful learning). Mereka juga didampingi untuk bisa menarik makna dan relevansi apa yang sedang dipelajari dengan kehidupan mereka (meaningful learning) serta menjalani setiap proses pembelajaran dengan senang hati (joyful learning). Dengan demikian, deep learning akan memberikan pengalaman belajar yang ‘tidak hanya sekali lewat’ tetapi apa yang dipelajari oleh setiap siswa akan melekat dalam diri mereka seusai mereka menamatkan jenjang pendidikan formal, sehingga mereka pada akhirnya juga mampu memahami dan turut menyelesaikan masalah-masalah kongkrit dalam kehidupan nyata.
Michael Fullan dalam bukunya Deep Learning: Engage the World Change the World (2017) mendefinisikan Deep Learning sebagai sebuah proses untuk mendapatkan enam keterampilan global, atau ‘the 6Cs’ meliputi character, citizenship, communication, critical thinking, collaboration and creativity, yang serupa dengan keterampilan abad 21 yang seringkali digaungkan. GenAI tidak memadai untuk membangun, mengolah, merawat dan mengembangkan kompetensi-kompetensi tersebut. Di sinilah peran krusial pendidik untuk memberikan sentuhan dan perhatian personal manusiawi yang tak tergantikan oleh teknologi. Tentu, para pendidik tidak boleh anti terhadap kehadiran dan perkembangan GenAI ini. Keberadaannya juga memberikan banyak hal berguna bagi pelaksanaan dan proses pendidikan. Yang semestinya adalah para pendidik mempunyai pemahaman yang baik tentang GenAI dan manfaat serta dampaknya sehingga mereka mampu beradaptasi dengan keberadaan dan perkembangannya sehingga bisa memanfaatkannya secara kritis, kreatif dan etis. Mereka harus mempunyai kemampuan untuk menggunakan GenAI untuk beradaptasi dengan sifat pengajaran yang kompleks dan terus berubah seiring dengan perubahan, tantangan dan kebutuhan zaman.
Cura Personalis: Pendekatan Mendidik Generasi GenAI
Di tengah kecenderungan kuat manusia berinteraksi dengan teknologi, khususnya tingginya intensitas penggunaan GenAI, pendidik mempunyai peran krusial untuk terus membangun, merawat dan mengembangkan pendidikan yang bisa membangun, merawat dan mengembangkan interaksi antar pribadi secara real. Pendekatan pendidikan yang bersifat cura personalis (care for the entire person/ perawatan individu secara menyeluruh) yang tak pernah bisa dilakukan dan digantikan oleh teknologi secanggih apa pun sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan di tengah perkembangan teknologi GenAI. Pendidik yang menjalankan pendekatan cura personalis akan focus dan memberikan perhatian secara menyeluruh pada keberadaan dan keadaan siswa dalam seluruh aspek perkembangan siswa, baik secara fisik, intelektual, emosional, moral dan spiritual. Dengan demikian, hal itu menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan saja, atau hanya focus pada pengembangan aspek kognitif dan intelektual saja, sebagaimana mungkin masih banyak ditekankan dan menjadi focus banyak pendidik dan lembaga pendidikan, bahkan banyak orang tua.
Melalui pendekatan cura personalis akan terjadi perjumpaan antara pendidik dengan siswa yang bisa menyentuh dan mentransformasi kehidupan pribadi menjadi lebih baik, yaitu pribadi yang bertumbuh, berkembang dan berbuah dalam segala aspek kediriannya. Cura personalis perlu menjadi semangat dan tindakan dalam mendidik agar pendidikan sungguh membantu manusia untuk semakin berkembang dalam proses menjadi manusia yang semakin utuh. Melalui pendekatan cura personalis yang diwujudkan dalam perjumpaan personal yang sehat memungkinkan pendidik mampu mengenali siswa dengan segala karakter dan kebutuhan belajarnya sehingga pada akhirnya bisa melakukan suatu proses pendampingan yang relevan dengan situasi dan kebutuhan siswa. Pendekatan cura personalis pendidikan ini bukan menjadi bentuk ‘perlawanan’ atau penolakan atas kehadiran dan perkembangan teknologi GenAI karena teknologi tersebut menjadi sarana efektif yang bisa memberikan ruang dan kesempatan belajar seluas-luasnya. Melainkan, pendekatan ini sebagai dasar tindakan dan proses pendampingan agar siswa tidak kehilangan jati dirinya sebagai manusia dan pembelajar yang pertumbuhan dirinya menjadi manusia yang semakin utuh tidak bisa digantungkan pada teknologi artificial intelligence. Pendekatan ini menjadi penyeimbang dalam kegiatan pendidikan yang memanfaatkan teknologi dan pendampingan yang menyeluruh pada pribadi siswa.
Dengan perhatian menyeluruh pada siswa, pendidik menjalankan panggilannya, peran dan tanggung jawabnya untuk mendidik, menuntun dan mendampingi siswa di tengah keramaian hiruk pikuk informasi digital agar tidak kehilangan identitasnya sebagai manusia yang harus terus bertumbuh menjadi semakin utuh. Dalam rangka membentuk manusia yang utuh, pendidik tidak hanya mengajar siswanya mempunyai kompetensi teknis sesuai dengan bidang ilmunya tetapi juga bagaimana mendidik mereka mempunyai kepekaan sosial dan kemampun berpikir kritis dan reflektif serta bertindak secara etis. Kompetensi dan kualitas kemanusiaan itu dibutuhkan di tengah dunia yang semakin kompleks dengan aneka persoalan, tantangan dan kebutuhan. Melalui cura personalis bisa tumbuh berkembang relasi yang penuh empati yang dibutuhkan dalam suatu proses pendidikan yang menyiapkan manusia untuk hidup dalam dunia yang semakin kompleks ini. Jared Cooney Horvath seorang neuroscientist dan pendidik dalam tulisannya di Harvard Business Review yang berjudul “The Limits of GenAI Educators” memaparkan bahwa ketika dua orang terhubung dan melepaskan hormon oxytocin, hormon dasar empati, secara bersama maka aktivitas otak mereka mulai tersinkronisasi dan membuat mereka tidak hanya bisa belajar satu sama lain tetapi juga berpikir serupa. Karena algoritma tidak memiliki otak dan oxytocin maka mustahil bagi manusia dan GenAI bisa mengembangkan relasi yang penuh empati dan juga mustahil relasi itu bisa membantu mengembangkan manusia menjadi semakin utuh. Jangankan teknologi, bahkan pendidik yang gagal mengembangkan relasi yang penuh empati pun bisa menghambat proses pendidikan yang membentuk dan mengembangkan manusia menjadi semakin utuh. Maka, di tengah perkembangan GenAI yang semakin canggih, para pendidik tak pernah boleh berhenti untuk mencari dan mengembangkan cara-cara pendidikan yang kreatif agar bisa terus melakukan tindakan pendidikan yang sungguh membentuk dan mengembangkan anak didik menjadi manusia yang semakin utuh.







