Ogan Ilir, mediasumatera.id – Senin (13/4/2026) Program strategis nasional Cetak Sawah Rakyat(CSR) yang digagas Presiden Prabowo Subianto anggaran Milyaran dari APBN. Di saat awakmedia mendatangi kantor dinas ketahanan pangan dan pertanian (DISKKPERTA)namun kepaladinas sedang keluar (DL) dan kabit Saspras Tanmalaka mengatakan kehadiran pupuk Dolomid itu bukan kehendak kita Orang Pusat ujarnya

” Program cetak sawa ini memang ada namun belun jalan Pupuk Dolomid suda datang bukan kendak kitatu kalau kondisi lahan suda siap baru kerem sedangkan petani kurang setuju karna tidak ada tempat untuk lokasi penempatan pupuk dolomid ini ,” ujarnya Tanmalaka
Dan di Desa mendapatkan Program sawa petak dan Pupuk dolomid datang bukan kehendak kami itu murni kehendak Pemerinta Pusat jadi kita hanya menerima tidak bisa menolak
” kita tidak bisa berbuat dan menolak kalau pusat mendatangkan malam laju bukan hanya di kecamatan yan Desanya mendapatkan Program Petak sawa. Seperti dikecamatan Pemulutan dan dikecamatan Indralaya Utara.
Jumla pupuk dolomid itu kuranglebi 3000 ton, yang masuk di Ogan ilir Namun kami tidak bisa berbuat Apa-apa.
Sayaber harap nanti kasi contodulu sekitar 20 hektare bagus hasilnye baru Jangan langsung bayak tapi tidak terlesasi . Alat kita tidak menyediakan cuman dibantu alat BP seperti TR 4 TR 2 itu barang BP yang bantu kusus untuk cetak Sawa,”tegasnya Tanmalaka
Di Pemerintah Pusat sana mereka tahunya cetak sawah ini jadi dan siap pakai, namun fakta di lapangan bertolak belakang
Hingga saat ini, anggaran miliaran rupiah tersebut terancam sia-sia, dan mimpi Baruk untuk menjadi mandiri pangan pun sirna
di Desa Tanjung Baru, Kecamatan Indralaya Utara kini berada di ujung tanduk. Alih-alih menjadi lumbung pangan, lahan seluas 67 hektare yang menelan anggaran dari APBN tersebut dinilai gagal anggaran 2025 karena pengerjaannya terhalang air
Kepala Desa Tanjung Baru kecamatan Indralaya Utara Budi Harjaya S. Sos., M. Si, mengungkapkan saat didatangi awak Media mengatakan kekecewaan Pupuk Dolomid Karungnya hancur tidak ter pelihara.Terhadap realisasi proyek yang kordinatori ole dinas Pertanian dikerjakan belum selesai debit air masi tinggi menurutnya, kondisi lahan saat ini jauh dari definisi
“Lahan sawah mase bayu dalam Jadi yang lebak rawa semua kendala ole air bukan hanya di desa aku saja semua yang lebakrawa yang ada hanya pupuk dolomid ini yang datang ” tutur Budi

Cuman ada pupuk yang datang bibit padinya belum atau bantuanyanglain belu berkemungkinan nunggu lahan siap tertunda banjir.
“Faktanya di lapangan sawah ini hanya dibuka dari tahun kemaren 2025 namun tertunda karna banjir.kalau bibit padi belum mungkin nunggu lahan siap cuman ada pupuk dolomid ini suda rusak karungnya berkemungkinan suda berkurang karna tidak ada yang pelihara atau diambil warga Jumlah pupuk Dolomid ini sebayak 67 ton untuk lahan 67 Hektare,” ujarnya kepaladesa Tanjung Baru Budi Harijaya saat di temui dikantor kerjanya Senin (13/4/2026)
Kondisi lahan yang masih dipenuhi semak debit air masi dalam dan sisa Pupuk dolomid yang karungnya bayak Rusak/peca di Aulah kantor desa Tanjung Baru kecamatan Indralaya Utara Sangat sayang dan tidak di kondisikan terbengkalai.,

Di Pemerintah Pusat sana mereka tahunya cetak sawah ini jadi dan siap pakai, namun fakta di lapangan bertolak belakang
Hingga saat ini, anggaran miliaran rupiah tersebut terancam sia-sia, dan mimpi Baru untuk menjadi mandiri pangan pun sirna. (Junaidi)







