mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sudah pernah menegur atau ditegur. Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita agar saat kita menegur sesama harus dilakukan dengan manusiawi, sebab dia memiliki martabat sebagai manusia.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 18: 15 – 20, yakni menasihati sesama saudara. Para saudaraku, kita hidup di zaman yang serba frontal. Media sosial menjadikan teguran sebagai tontonan publik: sindiran di status, hujatan di komentar, penghakiman di grup. Semua dilakukan dengan bangga, seolah-olah itu keberanian. Namun Yesus menawarkan jalan lain: “Tegurlah dia di bawah empat mata.”Empat mata berarti dua pribadi yang saling menatap tanpa penonton, tanpa hakim, tanpa kamera. Di ruang sunyi itu, teguran bukan eksekusi, melainkan pemulihan. Bukan musuh yang kita hadapi, melainkan saudara yang harus kita selamatkan. Menegur berarti menjaga martabat, bukan merobek wajah di depan umum. Budaya kita sering salah paham: “menutup aib” dianggap diam. Padahal Yesus tidak mengajarkan bungkam, melainkan menegur dengan KASIH. Teguran empat mata memberi ruang bagi seseorang untuk mengakui kesalahan tanpa dipermalukan, dan memberi kesempatan bagi Roh Kudus untuk bekerja lebih kuat daripada kata-kata kita. Yesus menutup ajaran ini dengan doa: “Jika dua orang sepakat meminta apa pun, Bapa-Ku akan mengabulkannya.” Artinya, rekonsiliasi bukan sekadar komunikasi, melainkan karya Roh. Saat kita menegur dengan KASIH, Kristus hadir sebagai Pendamai di antara dua HATI yang berusaha saling memahami.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, menegur di bawah empat mata adalah keberanian sejati: berani menghadapi langsung, namun dengan kelembutan yang memulihkan. Di era di mana suara keras di panggung publik dianggap hebat, Yesus mengundang kita untuk memilih ruang sunyi, tatap muka, dari HATI ke HATI, di mana martabat tetap terjaga dan Kristus hadir menyatukan yang retak. Mari kita belajar menegur bukan untuk menang, melainkan untuk mendapat kembali saudara kita. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya berani menegur sesama secara langsung, tatap muka, dengan kasih, atau justru lebih memilih jalur mudah lewat sindiran publik?
2. Dalam menegur, apakah saya sungguh memperhatikan martabat saudara saya sebagai manusia yang layak dihormati, atau tanpa sadar saya mempermalukan nya?
3. Apakah tujuan saya menegur adalah untuk memenangkan perdebatan, atau sungguh untuk memulihkan relasi dan mendapatkan kembali saudara yang hilang?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus,
ajarilah kami keberanian yang lembut, untuk menegur sesama bukan dengan suara keras di panggung publik, melainkan dengan tatap muka yang penuh KASIH. Biarlah setiap teguran menjadi jalan pemulihan, bukan penghukuman;
menjaga martabat saudara kami, dan menghadirkan Engkau sebagai Pendamai di antara kami. Satukanlah HATI kami, ya Kristus, agar dalam setiap teguran, kami tidak kehilangan saudara, melainkan mendapatkannya kembali. Amin.


