Selasa, 29 September 2020 10:21 WIB

RI Kian Sulit Hindari Resesi, Dikarenakan Harga Minyak Sawit Anjlok 8%

Oleh : | Editor : Junaidi Hutauruk
Dibaca :336 kali dibaca | Durasi baca : 1 Menit

MEDIASUMATERA.ID – JAKARTA : Harga minyak sawit mentah (CPO) anjlok pada pekan ini. Tingginya pasokan tidak diimbangi dengan permintaan sehingga harga pun turun. Sepanjang minggu ini, harga CPO di bursa Malaysia ambles 8,38% secara point-to-point. Harga komoditas ini sudah jauh meninggalkan level MYR 3.000/ton. Dikutip dari  CNBC Indonesia (27.9.2020)

Societe Generale de Surveillance mencatat ekspor CPO dari Malaysia pada periode 1-25 September adalah 411.370 ton. Melonjak 15,64% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Sementara total ekspor produk CPO mencapai 1.320.949 ton atau naik 14,1%.

Penurunan harga minyak bumi juga mempengaruhi pergerakan harga CPO. Pekan ini, harga minyak jenis brent anjlok 2,85%. Sementara yang jenis light sweet ambrol 2,33%.

Ketika harga minyak murah, maka insentif untuk menjadikan CPO sebagai bahan baku substitusi BBM menjadi kecil. Permintaan CPO berkurang karena minyak bumi kembali jadi pilihan.

Koreksi harga CPO bisa berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Sebab CPO adalah komoditas andalan ekspor Indonesia.

Saat harga CPO turun, maka penerimaan ekspor Indonesia pasti akan terpengaruh karena komoditas ini punya peranan besar. Kinerja ekspor yang sulit diharapkan membuat Indonesia semakin pasti masuk jurang resesi.

Selain itu, penerimaan valas dari ekspor yang berkurang juga bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah. Minimnya devisa dari ekspor membuat rupiah harus bergantung kepada investasi portofolio di sektor keuangan, yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Ini membuat rupiah menjadi fluktuatif, sulit untuk stabil. Di kutip dari  CNBC Indonesia.

Baca Juga :  Bupati Simalungun Radiapoh Hasiholan Sinaga berpesan agar pembangunan di Kabupaten Simalungun harus dilaksanakan secara menyeluruh

Komentar

News Feed