PALEMBANG, mediasumatera.id – Acara seminar iman yang diselanggarakan oleh : Komunitas Kerahiman Ilahi Santo Yoseph Palembang dan Cana Community serta didukung oleh Persekutuan Doa, Waberkat, OMK dan Misdinar Santo Yoseph Palembang. dengan tema “ Saat Kuasa Gelap Menyamar Jadi Cahaya “ dilaksanakan pada Kamis 24 Juli 2025 pukul 18.00 Wib di Gereja Santo Yo seph Palembang menghadirkan narasumber Romo Pedro Iglesias Curto, SCJ (Pakar Spiritualitas dari SCJ Provinsi Spanyol), Devi Delia, M. Psi (Psikolog Charitas Hospital Palembang, Tien Soedadi (Pendoa dan Devosan Palembang) dan moderator Romo Albertus Joni, SCJ auatu lebih dikenal Romo Koko. Yang dihadiri lebih dari 1500 umat Katolik di kota Palembang.
RD.Hyginus Gono Pratowo Pastor Paroki Santo Yoseph Palembang dalam sambutannya mengajak untuk merefleksikan iman dan menimba kekuatan dari Yesus. Dan mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang berperan penting dalam terselenggaranya acara, yaitu Pater Pedro, Ibu Tien Soedadi, Ibu Devi, dan Romo Koko, yang telah berbagi iman. Apresiasi untuk panitia yang berhasil mempersiapkan acara dalam waktu singkat dengan keyakinan penuh pada Tuhan. RD Hyginus berharap seminar “Saat Kuasa Gelap Menyamar Jadi Cahaya” bisa dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa iman kepada Yesus Kristus dapat mengusir kuasa kegelapan.

Kewaspadaan Terhadap Kuasa Gelap Terselubung dan Meditasi New Age
Romo Albertus Joni, SCJ, atau yang akrab disapa Romo Koko, menyoroti maraknya praktik kuasa gelap di kalangan umat saat ini. Dulu, kuasa gelap seringkali tampil menyeramkan dengan tumbal dan hal-hal mengerikan seperti pergi ke dukun untuk mencari jimat atau bahkan ilmu hitam yang konon bisa mengubah seseorang menjadi babi ngepet. Namun, di era modern ini, kuasa gelap seringkali bersembunyi di balik praktik yang tampak biasa, bahkan positif, sehingga sulit dikenali. Meskipun demikian, Romo Koko menegaskan bahwa efeknya tetaplah jahat dan merusak.

Ia menjelaskan bahwa jika kita percaya akan kuasa Tuhan dan malaikat, kita juga harus mengakui keberadaan iblis. Perbedaannya, iblis di tahun 2025 tidak lagi bersembunyi di kegelapan, melainkan muncul secara terang-terangan dalam budaya populer, khususnya melalui meditasi new age. Romo Koko menekankan bahwa tidak semua meditasi itu buruk; meditasi Kristen, misalnya, tidak berbahaya. Namun, aliran new age menjadi perhatian karena mencampuradukkan ajaran agama timur dengan tradisi barat, seringkali dengan dalih kesehatan, padahal bisa membawa mantra-mantra yang membuka portal bagi roh-roh jahat.
Romo Koko tidak hendak menjelekkan agama lain, praktik meditasi agama lain, tetapi kadang-kadang aliran new age ini comot sana, comot sini lalu menggunakan rapalan-rapalan mantra selama meditasi untuk memanggil dewa-dewa kesembuhan. Nanti kalau dia sudah sakit, dia merasa bahwa dirinya yang bisa menyembuhkan dengan meditasi-meditasinya padahal bukan itu ajaran Kristiani, karena yang menyembuhkan selalu Tuhan.
Pada tahun 2003, Vatikan secara resmi merilis dokumen berjudul “Yesus Kristus Pembawa Air Hidup: Refleksi Kristiani tentang New Age” sebagai respons terhadap fenomena ini. Dokumen ini menjadi panduan penting untuk membantu umat membedakan ajaran yang tampaknya baik, namun sebenarnya mengandung unsur kuasa gelap, terutama dalam praktik meditasi new age. Penting untuk dipahami bahwa tidak semua bentuk meditasi itu buruk; meditasi Kristiani tidak berbahaya, misalnya. Namun, meditasi new age seringkali mencampuradukkan berbagai elemen dan menggunakan rapalan aneh dengan tujuan seperti “membuka mata ketiga” atau melihat dunia roh, yang patut diwaspadai.
Hal ini diperkuat oleh kesaksian Mgr. Stephen Rossetti, seorang eksorsis dari St. Michael Center USA. Ia mencatat adanya peningkatan signifikan kasus kerasukan roh jahat di antara pasien yang sebelumnya mencoba “pencerahan” (awakening) dengan tujuan membuka mata ketiga mereka agar bisa melihat dunia roh atau menjadi “orang indigo”. Alih-alih mendapatkan rahmat ilahi, mereka justru kesurupan. Praktik ini merupakan bentuk meditasi yang keliru, karena fokusnya bukan pada Roh Kudus.
Manusia memang memiliki mata batin, namun banyak meditasi di luar sana yang berupaya membuka “mata ketiga” dengan janji dapat melihat masa depan, masa lalu, atau bahkan keyakinan tentang reinkarnasi jiwa. Romo Koko menegaskan bahwa semua janji tersebut adalah tipuan iblis. Sejak awal mula di Taman Eden, iblis selalu menipu manusia. Oleh karena itu, mereka yang mencoba mengembangkan mata ketiga melalui pengetahuan mistik rentan tergoda dan terhubung bukan pada Tuhan, melainkan pada iblis atau “si ular tua.”

Romo Koko menjelaskan bahwa aliran new age kerap mengambil potongan-potongan dari berbagai tradisi dan menggunakannya dalam mantra-mantra meditasi untuk memanggil “dewa penyembuhan”. Akibatnya, ketika seseorang sakit, mereka mungkin merasa bisa menyembuhkan diri sendiri melalui meditasi tersebut, padahal dalam ajaran Kristiani, penyembuhan sejati datangnya hanya dari Tuhan.
Mengembangkan Ketahanan Diri (Resiliensi) untuk Menghindari Kuasa Gelap
Devi Delia, M. Psi, seorang Psikolog Anak dari Charitas Hospital Palembang, menekankan bahwa menghadapi kesulitan dan kegagalan adalah bagian normal dari kehidupan setiap manusia. Wajar jika kita pernah mempertanyakan mengapa cobaan berat menimpa kita, seperti penyakit atau kesulitan memiliki anak dengan kondisi khusus, sementara orang lain tidak. Bahkan mungkin ada perasaan kecewa atau protes kepada Tuhan.
Namun, di sinilah pentingnya resiliensi, yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit kembali dari kesulitan. Menurut Devi Delia, kita sebenarnya memiliki kekuatan yang diberikan Tuhan, berupa akal budi dan kekuatan internal, untuk menghadapi segala tantangan. Oleh karena itu, daripada berpaling mencari jalan pintas melalui kuasa gelap, kita seharusnya membangkitkan dan mengembangkan ketahanan diri ini. Dengan demikian, kita tidak akan mudah terjerumus pada godaan kuasa gelap saat menghadapi masa-masa sulit dalam hidup.
Romo Pedro Iglesias Curto, SCJ menyampaikan materi bagaimana membedakan kuasa terang dan kuasa gelap. Biasanya kuasa gelap itu tidak punya nama, non personal, tidak pribadi, sesuatu yang abstrak, namanya bisa energi, kekuatan, power atau kuasa. Jika ada sesuatu hal yang mencoba menarik kebersamaan dengan yang lain maka anda harus bertanya darimana datangnya karena kadang-kadang kebenaran dibungkus dengan ajaran-ajaran yang bohong.

Pemulihan dari Keterlibatan dengan Kuasa Gelap
Tien Soedadi, seorang pendoa dan devosan, menjelaskan apa yang harus dilakukan jika seseorang sudah terlanjur terlibat atau bekerja sama dengan kuasa gelap. Ia menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah penyembuh yang mampu memulihkan luka. Kuasa dari darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya yang tertikam memiliki kekuatan untuk menyucikan, menguduskan, menyembuhkan, membebaskan, dan memulihkan. Tien Soedadi menekankan bahwa tidak ada kuasa lain yang boleh ada di dunia ini selain kuasa Tuhan Yesus.
Bagi umat Katolik, ketekunan dalam doa sangat penting, khususnya doa Angelus, Koronka, dan Rosario. Ia menyiratkan bahwa jika seseorang tidak tekun dalam berdoa, membaca dan memahami Kitab Suci, serta mengikuti Ekaristi, maka keimanannya patut dipertanyakan. Sebagai seorang pendoa, Tien Soedadi bersaksi bahwa ia menghadapi banyak persoalan namun tidak pernah takut karena selalu bersama Tuhan.
Ia juga memaparkan pengalaman terkait orang-orang yang bersekutu dengan kuasa kegelapan, terutama yang berhubungan dengan jimat. Menurut pengalamannya, iblis seringkali mengubah martabat manusia yang mulanya adalah anak-anak Allah menjadi seperti hewan, dengan manifestasi seperti ular, harimau, atau monyet. Tien Soedadi memperingatkan bahwa siapa pun yang pernah pergi ke “orang pintar”, dukun, atau mencari pesugihan, jika tidak didoakan dan dilepaskan dari ikatan tersebut, berisiko mengalami perubahan martabat menjadi seperti hewan.
Sebelum proses pelepasan doa dilakukan, biasanya akan ada sesi berbagi (sharing) untuk mengidentifikasi apakah masalah yang dihadapi berasal dari luka batin atau memang karena kuasa kegelapan. Setelah dilepaskan, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengaku dosa, mengikuti Misa Kudus, tidak berhenti berdoa, dan membaca Kitab Suci dengan benar serta memahaminya.(darisawalistyo)







