JAKARTA, mediasumatera.id – Perhelatan akbar Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang berlangsung di Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu berbagai refleksi mendalam dari para senior organisasi. Anggota Dewan Pertimbangan Pusat (DEPERTIM) PP PMKRI Periode 2024-2026, R. Wahyu Handoko Yulianto, S.Sos., MM., menyampaikan pandangannya yang campur aduk—antara bangga, sedih, kecewa, sekaligus rasa cinta yang mendalam demi masa depan organisasi.
Wahyu Handoko, yang juga merupakan alumni PMKRI Menteng-Cabang Jakarta Pusat angkatan 1988 sekaligus DEPERTIM PMKRI Cabang Depok 2026-2027, mengaku mencermati dinamika ini secara saksama dari jarak jauh melalui dunia maya.
Ia menyatakan rasa bangganya atas sambutan hangat dari tuan rumah, aparatur negara, serta hirarki Gereja Katolik setempat yang menerima kehadiran para kader dengan penuh persaudaraan. Penerapan semboyan misioner Pro Ecclesia Et Patria (Demi Gereja dan Bangsa) dinilainya tetap kokoh, ditambah dengan indahnya perpaduan seni budaya di tengah efisiensi anggaran.
“Antusiasme para pemangku kepentingan dan kehadiran 75 Cabang PMKRI se-Indonesia membuktikan bahwa energi orang muda ini masih menyala. Kebanggaan ini kian lengkap dengan lahirnya tiga cabang baru, yaitu PMKRI Cabang Depok, Cabang Soe (NTT), dan Cabang Pangkal Pinang. Ini bukti nyata PMKRI terus eksis,” ujar Wahyu dalam keterangan tertulisnya.
Selain itu, ia menggarisbawahi homili menggugah dari Yang Mulia Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng, saat Misa Pembukaan. Pesan tersebut dinilai menjadi alarm keras agar kader PMKRI tidak terlelap dalam zona nyaman dan peka melihat realitas sosial Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.
Kritik Dinamika Internal: “Musuh Kita Adalah Egoisme Sendiri”
Meski demikian, Wahyu tidak menampik adanya rasa sedih dan kecewa ketika melihat dinamika forum di mana sebagian kader kerap kesulitan mengendalikan emosi. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat adalah hal lumrah, namun penyelesaiannya wajib berpedoman pada tata tertib yang telah disepakati.
“Musuh kita sejatinya ada di dalam diri kita sendiri, yaitu egoisme yang memaksakan kehendak personal. Sesama anggota atau pengurus PMKRI di semua tingkatan adalah saudara seiman dan sebaya, bukan musuh,” tegas Wahyu.
Ia mengingatkan bahwa musuh nyata PMKRI berada di luar organisasi, seperti perilaku korup para pejabat yang mengabaikan keadilan sosial, bandar narkoba yang merusak masa depan generasi muda, pelaku perusakan lingkungan, hingga kelompok intoleran. Wahyu berharap jangan sampai ada upaya pembusukan dari dalam yang merusak marwah PMKRI sebagai organisasi perjuangan.
Reaktualisasi Nilai Fortiter in Re, Suaviter in Modo
Sebagai refleksi untuk masa depan, Wahyu mengajak seluruh kader dan alumni (penyatu) untuk kembali menghidupkan prinsip klasik yang diajarkan para senior terdahulu: Fortiter in re, Suaviter in modo.
“Fortiter in re artinya kita harus kuat, kokoh, dan tegas pada tujuan serta prinsip dasar kebenaran yang dipegang. Sedangkan Suaviter in modo berarti lembut, ramah, luwes, dan santun dalam sikap maupun cara penyampaian. Kita harus keras dalam prinsip, namun elegan dalam cara,” urainya.
Ia menambahkan, jika cara-cara yang digunakan dalam berorganisasi justru kasar dan permisif terhadap kekerasan, maka kader tersebut perlu mengevaluasi diri secara total. Di sisi lain, ia juga mengimbau para alumni untuk mendampingi adik-adik PMKRI agar tumbuh lebih dewasa secara alami.
“Biarkan adik-adik kita berproses tanpa adanya intervensi kepentingan politik maupun kekuasaan pasca-Kongres dan Sidang MPA ini. Semoga seluruh kader, baik yang hadir langsung di Ruteng maupun tidak, sungguh tergugah untuk menghadirkan kedalaman TIBERA (Tiga Benang Merah: Fraternitas, Inteligensia, Christianitas) dan kedalaman cinta bagi sesama,” pungkas Wahyu. (daris)







