Opini  

Gereja dan Pendidikan Tumbuhkan Kesadaran Ekologi

Gereja dan Pendidikan Tumbuhkan Kesadaran Ekologi

mediasumatera.id – “Pagi-pagi  pergi kerja lewat jalan susur sungai yang warga sekitar Sekip sebut bendungan. Motor tepat didepan nyalakan lampu sen kanan dan laju melambat. Pria paruh baya melempar sampah yang dibungkus plastik ke sungai. Pria tersebutpun kembali lanjutkan laju motor. Siapa yang bertanggungjawab pada sampah yang sudah di sungai tersebut? Tenaga dari dinas kebersihan?“

Banjir di Palembang seolah sudah menjadi agenda musiman; tiga jam hujan deras, dan genangan air di mana-mana. Selain curah hujan tahunan yang tinggi, yaitu antara 2.500-2.600 mm, hal lain yang diklaim menjadi penyebab banjir adalah peningkatan jumlah penduduk dan perubahan fungsi lahan. Merujuk pada diskusi forum kerjasama multilateral (G20), perubahan iklim atau krisi iklim bisa juga masuk dalam salah satu kontributor. Yang lebih klasik, pengelolaan sampah menjadi nominator senter penyumbang terjadinya banjir.

Dari sekian banyak hal penyebab banjir tersebut, pengendalian sampah seolah menjadi hal yang sangat mungkin untuk diupayakan oleh seluruh warga sebagai upaya untuk menghentikan terjadinya banjir. Setiap warga dengan kesadaran penuh dapat berparsipasi dalam mengolah sampah, atau sekurang-kurangnya tidak membuang sampah sembarangan terutama di daerah aliran sungai. Dilansir dari sebuah media masa online, sampah di Palembang tembus 1.200 ton per hari.

Upaya setiap warga seperti membuang sampah pada tempatnya tidak bisa muncul begitu saja. Hal tersebut harus dibiasakan dari awal atau sejak dini agar bisa menjadi sebuah budaya. Seperti pria pada cerita di atas, membuang sampah ke sungai sudah tidak lagi dianggap perbuatan yang aneh dan salah. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pembudayaan buang sampah pada tempatnya bisa menjadi sebuah kebiasaan jika keluarga – orang tua – tidak memberikan pendidikan dan ajaran nilai keluarga. Hal inilah yang menjadikan pendidikan sadar lingkungan dan ekologi masuk dalam ranah kurikuler, atau dalam pendidikan.

Baca Juga :  Tingginya Minat Masyarakat Sumatera Selatan Mendaftarkan Dirinya Ke Forum Sumsel Bersatu (FSB)

Pendidikan sebaiknya mendesain sebuah kurikulum yang menarik dan meningkatkan perhatian siswa pada hal-hal ekologi. Hal tersebut tidak hanya pada level sekolah dasar dan menengah, melainkan juga pendidikan tinggi. Ekologi sebagai sebuah konsep tidak terbatas pada media dan subjek tertentu. Jika dinilai sebagai sebuah konsep, ekologi bisa diajarkan dan ditanamkan kepada siswa salah satunya.

Karena melekat pada kurikulum, instilasi nilai ekologis mengerucut pada materi-materi ajar. Selama ini sudah banyak pengembangan (research and development) yang mendesain materi ajar berbasis ekologi. Beberapa buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sudah memuat nilai-nilai kecintaan pada alam dan lingkungan hidup. Bukan hanya pada ranah teori dan konsep, melainkan sampai pada praktik dan penilaian.

Kesadaran ekologi sebagai sebuah nilai baik, juga menjadi tanggungjawab seluruh umat manusia. Seperti istilah kebersihan adalah bagian dari iman, sepertinya kesadaran ekologis juga tidak bisa tidak menjadi bagian dari aplikasi imani dari manusia beragama. Gereja Katolik memiliki komitmen untuk hal ini.

Keadilan Ekologis Bagi Seluruh Ciptaan

Gereja Katolik setiap tahun mengadakan aksi puasa pembangunan nasional (APPN). Tahun 2023, tema APPN adalah keadilan ekologis bagi seluruh ciptaan: semakin mengasihi dan lebih peduli. Tema yang dikenalkan minggu lalu pada perayaan Rabu Abu (22/2) tersebut diusung sebagai respon terhadap permasalah mendasar pada kehidupan bersama saat ini yaitu krisis ekologi, yang akar penyebabnya adalah krisis iman dan dosa ekologi.

Dari tema tersebut, kepedulian yang mendalam terhadap isu lingkungan hidup digali dalam kelompok-kelompok kecil dari gereja sebagai persekutuan umat. Potret dosa ekologi, seperti kelalaian dalam upaya melestarikan dan melindungi alam ciptaan,. dipahami dan mendapatkan tanggapan aksi atau gerakan relevan yang bisa dilakukan mandiri, dalam keluarga, maupun hidup bertetangga.

Baca Juga :  Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk, M. Pd : Dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila Dengan Motto Pancasila Rumah Kita

Aksi tersebut dikemas dalam empat kali kegiatan pertemuan dalam 40 hari masa Prapaskah. Dalam buku panduan APPN, kegiatan pertemuan tersebut dilaksanakan dalam 3 tahapan: transformasi spiritual, bertindak ekologis, dan profetis ekologi.

Transformasi spritual adalah proses penyadaran diri bahwa krisis ekologis terjadi sebagai akibat dari perilaku manusia yang tidak bertanggungjawab sebagai akibat dari krisis iman. Saat manusia memiliki kecenderungan tidak merawat lingkungan dan alam semesta atau tidak membiarkan kesempatan kepada semua ciptaan untuk hidup sesuai kodratnya, manusia keluar dari kodratnya pula sebagai makhluk berbudi yang patut menjaga. Transformasi spiritual ditawarkan lewat pertobatan ekologis.

Tahap kedua adalah tindakan ekologis. Aksi nyata merupakan buah dari kesadaran dan pertobatan ekologis. Langkah konkret diupayakan lewat tindakan melindungi bumi sebagai rumah bersama, mempromosikan keadilan lingkungan lewat kaum papa, dan mengembangkan ekonomi ekologis demi kesejahteraan semua orang dan keutuhan ciptaan.

Langkah terakhir adalah profetis atau kenabian ekologis. Setiap orang dipanggil untuk memberikan kesaksian akan peran manusia sebagai subjek utama perilaku pelestarian alam. Untuk itu, kerja bersama-sama dan melakukan kritik konstruktif terhadap berbagai kebijakan yang merugikan lingkungan hidup dijalankan secara sadar sebagai sikap kenabian.

Pendidikan Ekologi

Bersama dengan Gereja, dunia pendidikan pun dituntut mampu untuk turut serta menemukan solusi agar kerusakan ekologi tidak menuju titik nadir kehancuran. Masalah lingkungan hidup tidak dapat diatasi hanya melalui reposisi hubungan manusia dengan lingkungan alamnya, tetapi juga harus melalui reorientasi nilai, etika dan norma-norma kehidupan yang kemudian tersimpul dalam tindakan kolektif, serta restrukturisasi hubungan sosial antar individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, dan antara kelompok dengan organisasi yang lebih besar.

Pada titik ini pula, dunia pendidikan dituntut mampu mengembangkan perspektif yang relevan. Direkomendasikan oleh Raharja pada Pendidikan Berwawasan Ekologi, implementasi pendidikan ekologis dalam pembelajaran di sekolah, antara lain dapat dilakukan lewat (1) penerapan model pengajaran alam sekitar, (2) wawasan ekologi yang berisi kompetensi tentang individu dan populasi, interaksi dan saling ketergantungan, pengaruh lingkungan dan faktor pembatas, aliran energi dan siklus gizi, komunitas dan konsep ekosistem, homeostasis, suksesi, manusia sebagai anggota ekosistem, dan implikasi ekologi pada kegiatan manusia dan masyarakat, (3) pengajaran alam sekitar, mengembangkan sikap kritis dan peduli lingkungan pada para siswa, memelihara lingkungan, serta memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, dan (4) pendekatan karakter ekologis, yang mampu menyentuh sisi psikologis manusia dalam hubungannya dengan alam dan lingkungannya.

Baca Juga :  Bagindo Togar BB : Penyebab Langkahnya Vaksin Di Daerah Karena Kurangnya Kordinasi

Kesadaran untuk Perilaku Ekologis

Pada akhirnya sudah jelas siapa yang wajib bertanggungjawab terhadap permasalahan sampah: manusia. Lewat penghayatan nilai agama yang benar dan peran bidang pendidikan, sampah tidak lagi menjadi isu sosial, individual, maupun spiritual. Kesadaran yang tinggi akan lingkungan tempat tinggal sudah jelas menjadi solusi akan permasalahan sampah selama ini.

Kesadaran tersebut dipastikan mampu menghadirkan perilaku-perilaku personal dan komunal di sekitar tempat tinggal sebagai upaya untuk melestarikan alam. Pada saatnya manusia bersahabat sudah bersahabat dengan alam, alam akan bersahabat dengan manusia. Pada saat itu, bencana alam yang bisa memakan korban jiwa tidak akan terjadi. Jika tidak, kesadaran dan aksi yang minim bahkan nihil akan menjadikan alam rusak dan bencana tidak dipungkiri bakal terjadi.