Yohanes Heri Pranoto
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Musi Charitas
mediasumatera.id – Doa bukan sekadar rangkaian kata; penempatan pemenggalan frasa yang tepat menjaga makna dan kekuatan spiritualnya tetap utuh.
Pendahuluan
Bulan Mei dikenal luas sebagai Bulan Maria dalam tradisi Katolik dan merupakan sebuah periode khusus untuk memperdalam devosi kepada Bunda Maria melalui berbagai praktik religius seperti doa Rosario dan ziarah. Meski demikian, perlu ditegaskan bahwa Mei bukanlah Bulan Rosario, melainkan Bulan Maria meski doa Salam Maria menjadi elemen wajib dalam setiap devosi selama bulan ini.
Fenomena menarik muncul ketika doa Salam Maria didaraskan secara kolektif. Seringkali, penghilangan kata dan imbuhan serta pemenggalan frasa dalam doa ini tidak sesuai dengan struktur morfologi dan sintaksis yang benar, sehingga menimbulkan perubahan makna yang cukup signifikan. Misalnya, frasa “doakan kami yang berdosa ini” beberapa kesempatan terdengar tanpa imbuhan “-lah”, padahal bentuk imperatif sopan yang benar adalah “doakanlah”. Demikian pula, bagian “sekarang dan pada waktu kami mati” lebih tepat diucapkan “sekarang dan waktu kami mati”, agar tidak menimbulkan ambiguitas waktu.
Namun, di antara semua kekeliruan tersebut, pemenggalan “Salam Maria, penuh rahmat Tuhan sertamu” menjadi kajian utama. Tidak sedikit umat yang membacanya dengan jeda setelah “Salam Maria”, lalu melanjutkan “penuh rahmat Tuhan sertamu” sebagai satuan frasa berikutnya. Padahal, pemenggalan yang benar adalah “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu”. Kesalahan ini bukan sekadar teknis, melainkan membawa perubahan makna yang mendalam secara linguistik maupun teologis.
Kekeliruan ini sering terjadi, baik dalam doa pribadi maupun bersama, dan cenderung diabaikan karena dianggap tidak berdampak besar. Padahal, dari perspektif linguistik, pemenggalan yang tidak tepat dapat mengaburkan makna asli doa yang diwariskan sejak berabad-abad lalu.
Dalam konteks Bulan Maria, ketika umat Katolik diajak untuk merenungkan peran dan keutamaan Bunda Maria, penting untuk memastikan bahwa devosi yang dilakukan benar-benar mencerminkan makna yang sesungguhnya. Salah satu bentuk penghormatan adalah dengan menjaga keutuhan makna doa, termasuk dalam aspek sintaksis dan semantik.
Artikel ini mengajak pembaca untuk melihat kembali struktur dan makna doa Salam Maria khususnya pada bagian yang sering, dalam pendarasannya, dipenggal secara keliru tersebut. Dengan demikian, devosi kepada Bunda Maria tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana refleksi iman yang mendalam dan bermakna.
Kajian Sintaksis dalam Pemenggalan Frasa dan Perbandingan dengan Hail Mary
Secara sintaksis, doa Salam Maria dalam bahasa Indonesia seharusnya mengikuti struktur yang jelas: “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu”. Dalam bahasa Inggris, rumusannya adalah “Hail Mary, full of grace. The Lord is with you”, atau “The Lord is with thee” dalam bahasa Inggris kuno. Kedua versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tersebut menempatkan “full of grace” atau “penuh rahmat” sebagai atribut langsung kepada Maria, bukan sebagai frasa yang berdiri sendiri.
Ketika doa diucapkan sebagai “Salam Maria, penuh rahmat Tuhan sertamu” (seolah bermakna: “Salam, hai Maria, rahmat Tuhan yang penuh menyertaimu”), frasa “penuh rahmat Tuhan sertamu” berubah menjadi satuan makna yang tidak jelas subjek dan predikatnya. Pada struktur ini, “rahmat Tuhan” dipahami sebagai subjek (seolah-olah “rahmat Tuhan” adalah sesuatu yang aktif), sementara “sertamu” menjadi predikatnya. Hal ini menciptakan makna ambigu: seakan-akan “rahmat Tuhan” yang “menyertai” Maria, bukan Maria sendiri yang dipuji sebagai pribadi yang “penuh rahmat” dan pribadi Tuhan menyertainya.
Padahal, struktur asli doa seharusnya memisahkan dua klausa dengan jelas:
“Salam Maria penuh rahmat”, yang artinya di sini, “penuh rahmat” adalah predikat yang menjelaskan Maria (Maria adalah yang “penuh rahmat”). Sedangkan “Tuhan sertamu” merupakan klausa terpisah yang menegaskan kehadiran Tuhan bersama Maria.
Dengan pemenggalan yang salah, makna teologis penting ini hilang. Maria tidak lagi dipandang sebagai pribadi yang “penuh rahmat”, melainkan seolah-olah rahmat Tuhan hanyalah “sesuatu” yang menyertai dirinya. Perbedaan ini mengubah esensi doa dari pujian atas keistimewaan Maria menjadi sekadar deskripsi tentang anugerah Tuhan yang bersifat umum.
Dalam linguistik, pemenggalan frasa yang tepat sangat penting untuk menjaga relasi antara subjek dan predikat. Salah pemenggalan dapat menyebabkan ambiguitas, bahkan distorsi makna. Dalam konteks doa Salam Maria, struktur yang benar memastikan bahwa Maria dikenali sebagai “yang penuh rahmat”, bukan sekadar sosok yang disapa secara formal tanpa atribut khusus.
Perbandingan dengan teks Latin “Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum” dan terjemahan Inggris “Hail Mary, full of grace. The Lord is with you.” menunjukkan konsistensi struktur sintaksis yang menegaskan keistimewaan Maria sebagai penerima rahmat ilahi. Pemenggalan yang salah dalam bahasa Indonesia berpotensi mengaburkan keistimewaan ini.
Kajian Makna dalam Perspektif Teologis
Dari sisi semantik, frasa “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu” menegaskan bahwa Maria adalah pribadi yang dikaruniai rahmat secara penuh oleh Allah. Hal ini sesuai dengan narasi Alkitab dalam Lukas 1:28, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Frasa “penuh rahmat” bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan teologis atas status Maria sebagai “Bunda Allah” yang dipilih secara istimewa untuk menerima kehadiran ilahi.
Secara filosofis, pemenggalan yang benar menegaskan identitas dan misi Maria dalam sejarah keselamatan. Maria bukan sekadar wanita biasa, melainkan sosok yang “penuh rahmat” karena dipilih Allah untuk menjadi Bunda Sang Penebus. Pemenggalan yang keliru berisiko mengaburkan keistimewaan dan peran Maria dalam iman Katolik.
Doa Salam Maria juga merupakan refleksi atas dua peristiwa penting: salam Malaikat Gabriel (Lukas 1:28) dan pujian Elisabet (Lukas 1:42-45). Kedua peristiwa ini menegaskan keistimewaan Maria sebagai “yang diberkati di antara wanita” dan “yang penuh rahmat”. Oleh karena itu, pemenggalan frasa yang benar sangat penting agar makna teologis ini tetap terjaga.
Dalam tradisi Gereja, doa Salam Maria tidak hanya menjadi sarana penghormatan, tetapi juga bentuk pengakuan iman atas peran Maria dalam rencana keselamatan Allah. Kesalahan dalam pemenggalan frasa dapat mengurangi kekuatan spiritual dan teologis doa ini. Akhirnya, dari perspektif linguistik dan teologis, menjaga keutuhan struktur dan makna doa Salam Maria adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Bunda Maria sekaligus wujud kedalaman iman umat Katolik.
Penutup
Di atas dari maksud untuk menerangkan struktur sintaksis dan makna teologis doa Salam Maria yang terabaikan, artikel ini semata-mata tidak bertujuan untuk membuat kita merasa bersalah atas kekeliruan yang terjadi, melainkan untuk mengajak kita memahami makna doa secara linguistik seperti yang diharapkan oleh para penyusun doa dan Gereja. Dengan demikian, devosi kepada Bunda Maria tetap menjadi sumber inspirasi dan kekuatan iman yang sejati.
Mari kita terus mencintai devosi kepada Bunda Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja, dengan menjaga kemurnian makna doa-doa yang kita daraskan. Semoga setiap kata yang terucap sungguh disadari dan dihayati maknanya serta menjadi persembahan iman yang tulus dan penuh cinta.







