Samosir, mediasumatera.id – Modernisasi pedesaan merupakan proses transformasi menyeluruh yang mengubah masyarakat tradisional menuju masyarakat yang lebih maju, kompetitif dan bercorak teknologi. Berdasarkan berbagai literatur sosiologi dan studi pembangunan, berikut adalah aspek-aspek utama modernisasi di pedesaan:
1.Aspek ekonomi dan teknologi (paling dominan), ini adalah aspek yang paling terlihat secara fisik di desa melalui perubahan, antara lain: cara budidaya, penggunaan benih/bibit unggul, jenis komoditi, orientasi pasar, alat produksi dan sistem kerja. Cara budi daya yang selama ini sangat tergantung kepada cara-cara tradisional mengalami perubahan, walaupun masih sering berhadapan dengan faktor alam yang kurang kondusif. Pemilihan komoditi yang produktif dan bernilai pasar masih seting terhambat oleh faktor pengetahuan dan kreativitas serta kemampuan berinovasi yang masih rendah.
Ada beberapa faktor yang menjadi pusat perhatian, seperti:
a.Peralihan dari alat tradisional (seperti bajak sapi) ke alat modern seperti traktor dan mesin penggiling padi akan mempermudah aktivitas para petani.
b.Pemanfaatan internet untuk ekonomi digital, seperti penggunaan e-commerce dan media sosial untuk memasarkan produk pertanian atau kerajinan lokal secara luas.
c.Adanya proses industrialisasi, dimana dengan nunculnya industri kecil rumah tangga hingga unit bisnis baru yang lebih produktif, berdaya saing, dan profesional.
2.Aspek sosial dan mentalitas, modernisasi juga menyentuh cara berpikir dan hubungan antarwarga, dimana beberapa hal berikut menjadi pusat perhatian:
a.Pergeseran dari cara berpikir mistis ke arah yang lebih logis, ilmiah, dan sesuai dengan tuntutan zaman.
b.Adanya pergeseran nilai dimana berkurangnya sifat gotong royong dan kekeluargaan yang kuat, sering kali bergeser menjadi lebih individualis.
c.Pergeseran nilai mentalitas, meskipun tetap tinggal di desa, masyarakat mulai mengadopsi gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat kota (konsumerisme).
d.Melahirkan generasi penerus yang handal, dimana kelak menjadi modal untuk membangun kampungnya setelah sukses di penjuru dunia.
3.Aspek institusional dan administrasi, meliputi tata kelola pemerintahan desa yang lebih teratur dan sistematis, dengan memperhatikan beberapa hal betikut:
a.Sistem birokrasi dengan pengelolaan administrasi desa yang lebih baik, transparan, tidak bekerja semaunya, dan terorganisir mengikuti standar negara.
b.Terbentuknya badan usaha milik desa (BUMDes) atau koperasi yang dikelola secara modern sehingga bermotif ekonomi yang berjiwa sosial.
4.Aspek infrastruktur dan informasi, dimana perlu memperhatikan hal berikut:
a.Adanya akses informasi yang luas melalui media massa dan internet, masyarakat desa tidak lagi terisolasi dan memiliki akses informasi yang sama cepatnya dengan masyarakat kota.
b.Ketersediaan sarana dan prasarana pedesaan melalui pengadaan sumber air, perbaikan akses jalan, jembatan, alat transportasi dan fasilitas publik lainnya yang menunjang mobilitas dan layanan publik.

Penutup
Menurut sosiolog Soerjono Soekanto, agar modernisasi ini berhasil, diperlukan cara berpikir ilmiah yang sudah melembaga dan sistem administrasi yang baik di tingkat desa. Adanya perubahan mentalitas dari sekedar bertahan hidup menjadi masyarakat yang inovatif dan kreatif. Modernisasi tidak sekedar menjajikan pola hidup yang serba mewah melainkan hidup yang bermartabat dan memiliki harga diri sebagai makhluk termulia
“Mana kala hudup hanya menunggu keajaiban bukan membangun pikiran, maka hasilnya adalah sekedar hidup seperti burung-burung di atas pohon” (red)







