MENUMPANG DI LUMBAN SILO, LELUHUR MARTUA SITANGGANG (ex Wabup Samosir) dari MUARA TAPUT

MENUMPANG DI LUMBAN SILO, LELUHUR MARTUA SITANGGANG (ex Wabup Samosir) dari MUARA TAPUT

Samosir, mediasumatera.id –  Ayah dan kakek DJAIMAN SITANGGANG (kakek dari MARTUA SITANGGANG – ex Wabup Samosir) menetap hingga akhir hayatnya di Huta Siregar Sibajanggut Muara Taput. Setelah Djaiman Sitanggang datang ke Samosir, bekerja sebagai mandor, diijinkanlah oleh kakek saya Opung Sindak Sitanggang (anak dari Opung Tongam Sitanggang Sipukka Lumban Silo) untuk membangun rumah papan di Lumban Silo di awal tahun 1910 an, pada saat pembangunan Terusan Wilhemina Tano Ponggol. Setelah Djaiman meninggal, anaknya Wismar Sitanggang tetap tinggal di Lumban Silo juga beberapa saudara kandungnya antara lain boru Sitanggang yang menikah dengan marga Sinaga. Wisman yang di kemudian hari bertugas sebagai Camat Harian, tidak terus menerus tinggal di Lumban Silo, bahkan istri pertamanya boru Limbong yang berjualan bawang, pernah menyewa rumah marga Naibaho di Huta Sitakkaraen Pangururan hingga awal Tahun 1970 an. Sekitar tahun 1990 an, mereka pun mengambil tanah dari tepian Binanga Siparbue Desa Unte Munggur Lumban Sada Muara sebagai tanda tulang belulang leluhurnya untuk dimasukkan ke tambak/tugu yang mereka bangun di Lumban Silo

Kami tidak tahu kapan mereka membangun tambak/tugu itu, karena kami tidak ada yang tinggal di Lumban Silo. Sepatutnya Wismar Sitanggang dan Martua Sitanggang tidak berhak membangun tambak/ tugu bagi leluhurnya di Lumban Silo karena bukan Opungnya yang membuka Lumban Silo. Opung kami Opung Tongam Sitanggang lah yang membuka areal itu dengan seijin raja bius disekitarnya yaitu marga Sitanggang Bau dan Sitanggang Upar pada masanya. Sebagaimana tradisi adat Batak Samosir, hanya sipembuka areal kampung dan keturunannyalah yang berhak dikubur di tanah yang jadi tempat kediamannya. Wismar Sitanggang dan Martua Sitanggang bukanlah keturunan langsung Opung Tongam Sitanggang, walau kami sama sama marga Sitanggang Silo. Dari generasi ketiga Raja Silo, leluhur Martua sudah tinggal di Muara, sedangkan opung Tongam adalah generasi kesembilan dari Raja Silo dan tetap tinggal di Samosir. Namun karena melihat peluang dimana kami keturunan Opung Tongam Sitanggang tidak ada yang tinggal di Lumban Silo, lalu membuat rekayasa yang sangat licik yaitu membangun tambak di Lumban Silo agar seolah olah mereka lah keturunan Sipukka Lumban Silo

Baca Juga :  SURATI KADES PARSAORAN 1, UDUT MANOTAR SITANGGANG GAGAL BATALKAN IBADAH

MENUMPANG DI LUMBAN SILO, LELUHUR MARTUA SITANGGANG (ex Wabup Samosir) dari MUARA TAPUT

Hari ini Sabtu 28/2/2026, saya, paman saya Sudung Sitanggang dan Jonny Sitanggang melakukan napak tilas mencari tahu dimana lokasi tempat tinggal leluhur Martua Sitanggang yang ada di Muara. Dan memang terbukti dari kesaksian keluarga Sitanggang ysng ada di Muara, disampaikan memang benar leluhur Martua Sitanggang menetap hingga akhir hayatnya di Muara. Istri kakek dari Djaiman Sitanggang adalah boru Siregar yang tinggal di Huta Siregar Sibajanggut Muara. Sedang istri dari ayah Djaiman Sitanggang adalah boru Sianturi yang tinggal di Lumban Sada Desa Unte Munggur Muara

Baik Wisman Sitanggang maupun anaknya Martua Sitanggang tidak melaksanakan adat Batak secara penuh ketika memasukkan tanah sebagai tanda tulang belulang leluhurnya ke tambak/tugu yang dibangunnya di Lumban Silo. Acara adat mangokal holi panakok saring saring merupakan upacara adat tertinggi di suku Batak Samosir sebagai wujud penghormatan bagi orang tua. Tidak ada acara adat penuh ketika memasukkan tanah leluhurnya itu menunjukkan keganjilan. Tidak pernah keluarga Siregar dan Sianturi yang dari Muara datang ke Samosir untuk menghadiri axara adat keluarga Martua Sitanggang. Kami menyimpulkan bahwa Wisman Sitanggang dan anaknya Martua Sitanggang memang menyadari bahwa Lumban Silo bukan milik leluhurnya namun ingin menguasai secara licik. Membangun tambak di Lumban Silo adalah cara praktis agar seolah olah mereka adalah keturunan Sipukka Lumban. Sudah puluhan tahun, keluarga Martua Sitanggang mengakui Lumban Silo sebagai milik leluhurnya, namun dari hasil pencarian kami ke Muara, terbukti leluhur Martua Sitanggang itu berasal dari Muara. Djaiman Sitanggang diijinkan menumpang di Lumban Silo oleh kakek saya Opung Sindak Sitanggang, papar Darwin Sitanggang, pahompu panggoaran dari Opung Tongam Sitanggang Sipukka Lumban Silo, yang kini tinggal di Kabanjahe (red)

Baca Juga :  Tapanuli Siap Menjadi Provinsi Baru dan Sudah Diteken Presiden Jokowi