Samosir, mediasumatera.id, Dalam suasana kekeluargaan, telah berlangsung Rapat Pemugaran Paromasan Porhasjapjap (Naibaho Silima ompu) pada Sabtu 9/5/2026. Masing masing perwakilan dari Naibaho Silima Ompu menyampaikan pendapat dan saran terkait Pemugaran Paromasan Porhasjapjap (Naibaho Silima Ompu) tersebut.
Diawali dari perwakilan keturunan Naibaho Siahaan yaitu 1. Arya Naibaho, sebagai berikut : Pada dasarnya setuju apapun hasil keputusan rapat, adanya rencana pembuatan ruma/ tempat holi karena adanya rencana pembuatan KM/ Toilet, Sopo,Penataan. Yang mana sewaktu penggalian Septiktank atau pondasi jika kita temukan tulang benulang leluhur/ Oppung kita kemana nantinya akan diletakkan, disimpan atau dikubur kembali. Dengan alasan ini maka direncanakan pembuatan rumah holi yang pertama; 2. Vela Naibaho, sebagai berikut : Holi atau tulang benulang tidak bisa diganggu lagi atau di pahehe. Karena pesan Orang tua dan pesta Tambak Opung. Hutagaol pada tahun 2008 dipesankan bahwa kalau sudah di paromasan tidak bisa diganggu lagi atau diokkal. Bangunan Rencana lainnya tetap dilanjutkan penataan bukit dengan rumput Jepang, toilet bisa disamping bangunan yang sudah ada (ruma holi).
Selanjutnya dari perwakilan keturunan Naibaho Sitangkaraen yaitu : 1. Martin Naibaho, sebagai berikut : Senang dengan adanya Pemugaran Paromasan Porhasjapjap (Naibaho Silima Ompu), beda pendapat itu ada, tetapi tujuan harus untuk kebersamaan. Cerita dari orang tua, sejarah adanya Paromasan sewatu penjajahan Belanda yang melarang pembuatan tambak karena kepentingan tertentu, bukan ide kakek nenek terdahulu Dalam hal ini saya menyarankan agar kita menghargai leluhur. Tidak memaksakan kehendak bagaimana cara kita memperindah, agar generasi datang berziarah lebih banyak dan akan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar paromasan. Kita satu tujuan sebagai ina ni bius, 2. Lamsihar Naibaho, sebagai berikut : Rapat sebelumnya tanggan 18 April 2026 yang mengatakan KM/ Toilet harus di dalam Pagar kawasan Paromsan Naibaho, ada baiknya kalau yang tidak bisa hadir seharusnya jangan terlalu banyak complain, kalau karena adanya pemugaran ini menjadi berselish , lebih baik di stop aja, 3. Muba Naibaho ( Ketua Pemugaran Paromasan), sebagai berikut : Pada dasarnya setuju apapun hasil keputusan rapat, adanya rencana pembuatan ruma/ tempat holi karena adanya rencana pembuatan KM/ Toilet,. Yang mana sewaktu penggalian Septiktank atau pondasi jika kita temukan tulang benulang leluhur/ Oppung kita kemana nantinya akan diletakkan, ini dasar maka direncanakan pembuatan rumah holi, 4. Lisbet Naibaho, sebagai berikut : Mulai terbentuk Panitia pemugaran Paromsan Ini saya tidak pernah datang, Tahun 2000 kami sekeluarga membersihkan Paromasan ini, senang dan bangga adanya Pemugaran Paromasan ini. Seandainya sewaktu penggalian, dapat tulang benulang agar dibungkus dalam kain putih dimasukkan ke ruma holi. Hal wajar ada perbedaan, tetapi harus satu tujuan, 5. Marissa Naibaho (Ketau DPC PPRNB), sebagai berikut : Sewaktu Pesta tambak kami Tahun 1989 margondang, bahwasanya Holi yang ada di Paromasan tidak diambil lagi dan dilaksanakan tompi sahala sama hula hula. Menurut cerita/sejarah dari orang tua bahwa paromasan dibuat Belanda karena Tulang benulang tidak bebas ditanam, makanya dahulu banyak dikubur dibawah rumah/ bara, bukan usulan dari Bius.Bisa tulang benulang/ Holi diangkat , karena kita tidak tahu letak yang mana Tulang belulang Marda Naibaho Siahaan, Sitangkaraen dll dilokasi tersebut, kita bukan mangokkal holi, tetapi menyatukan tulang belulang yang tergali nantinya.Kalau membuat yang terbaik dari yang baik menurut saya tidak masalah. Contoh UUD 45 aja bisa diamandemen/ dirubah sesuai kebutuhan. Pendapat pribadi saya tidak masalah tetapi harus keputusan bersama yang disepakati. Kalau tidak jadi ruma holi , bagunan yang sudah ada (ruma Holi) agar dijadikan rumah doa/ tempat ziarah)

Kemudian dari perwakilan keturunan Naibaho Hutaparik yaitu : 1. Naibaho, sebagai berikut : Kalau bisa satu pendapat kamar mandi diluar pagar aja, agar tidak mengenai tulang benulang sewaktu pengalian septictank, 2. Yogi Putra Naibaho, sebagai berikut : Kita sudah ada 2 pendapat berbeda, Gimana kalau Kita Tanya marnatua tua (Orang Pintar) leluhur kita itu punya roh. Tulang belulang yang dapat dibuat satu tempat (pasada holi), 3. Naibaho, sebagai berikut : Senang dengan adanya pemugaran Paromasan Porhas Jap-jap (Naibaho Silima Ompu) sudah semakin bagus, Apapun yang direncanakan kita bisa lebih bersatu. Menurut cerita Paromasan ini sudah ada sebelum penjajahan Belanda, Paromasan merupakan tempat abadi. Oppung kami Oppung Tambak Doli sudah ada di Paromasan dan bukan Holi. Yang dibawa ke Paromasan harus margondang tujuh hari tujuh malam, ridak sembarang orang bisa dikubur di Paromasan. Oppung Tambak Boru tidak dibawa ke Paromasan. Ada Paromasan marga Sitanggang, Silalahi, Malau, Tamba, Simbolon, Sigalingging. Kita sepakat Paromasan tetap dipelihara agar tetap bersih. Kalai seandainya sewaktu pekerjaan ada dapat tulang benulang dapat ditanam kembali ditempat semula, bangunan yang sudah ada sekarang dibuat menjadi tempat ziarah, 4. Putri Naibaho, sebagai berikut : KM/ tolilet sebaiknya diluar aja, diutus orang agar membujuk pemilik lahan, 5. Jadongan Naibaho, sebagai berikut : Tahun 2000 kami melakukan pesta ongkalan holi, opung kami yang sudah di Paromasan tidak digali lagi, pendapat saya jangan disatukan kembali tulang benulang. Kalau tidak hadir di rapat sebaiknya jangan terlalu banyak kritik dan komentar di WA group, 5. Nelson Naibaho, sebagai berikut : Kalau kita satu pendapat, maka itulah yang kita laksanakan.
Seterusmya dari perwakilan keturunan Naibaho Siagian yang disampaikan oleh : 1. Op. Wesly Naibaho, sebagai berikut : Paromasan yang dibawa tulang benulang dan bukan terjadi karena Belanda. Tulang belulang yang dibawa ke Paromasan itu dengan acara adat, itu ditumpuk dan ditimbun tidak digali. Batu Paromasan Siagian ada di Parsanggarahan. Tahun 1991 sudah ada kesepakatan tidak bisa dibuat tambak, tidak boleh digali lagi, hanya buat pagar aja. Kalau tepat berdoa dan ziarah sudah dibuat Prasasti.Bangunan yang sudah ada dibuat sebagai tempat rumah doa aja. Berat tantangannya kalau ada mangokkal holi, tetap aja seperti itu gundukan tanahnya, 2. Samoga Naibaho, sebagai berikut : Kalau diskusi pasti ada perbedaan, kalau yang sudah ada di Paromasan tidak diganggu lagi, takut ada efek samping, agar semua selamat. KM diluar pagar aja, bangunan yang sudah ada dibuat rumah doa dan tempat ziarah aja. Tanah yang sudah ada tetap aja tidak diganggu lagi, 3. Marto Naibaho, sebagai berikut : Di Rianiate juga ada Paromasan Naibaho, Gundukan tanah yang sudah ada jangan diganggu lagi, ada rasa ketakutan. Bangunan yang sudah ada dibuat rumah doa dan tempat ziarah aja, 4. Zudiman Naibaho, sebagai berikut : Baru pertama datang ke Paromasan, senang ikut terlibat, sepakat dengan keputusan besama, 5. Arifin Naibaho, sebagai berikut : Adanya rencana pemugaran paromasan ini, saya datang bersama pak Ir. Nikolas Sinar Naibaho. MBA, dan minta persetujuan ke PPRNB. Bentuk Panitia baru lagi, karena Panitia Pemugaran lama hanya untuk Perbaikan pagar, pengecatan,rondap, gapura, 6. Sasnaek Naibaho, sebagai berikut : Pertama minta maaf kalau ada pendapat berbeda, kita inventarisir rencana awal Postingan 3, agenda rapat rencana pembangunan gapura, KM. Tidak dapat hadir rapat tanggal 18 – 04 – 2026 karena ada kegiatan lain. Makanya saya sarankan dibuat Group Panitia dahulu dibahas dengan rencana matang baru diguat ke Grup Pemugaran agar tidak overlapving. Terkait Bangunan yang sudah ada dibuat rumah doa. Terkait Paromasan saya sudah mencari Literatur ke TB Silalahi di Balige dan Kampus USU, tidak ada mendiskreditkan Panitia. Terkait surat DPP PPRNB harus rapat bersama dahulu sudah kita laksanakan. Kalau ada dapat tulang benulang dapat digeser ditanam kembali. Tanah yang ada dibuat taman aja
Setelah penyampaian pendapat dari masing masing perwakilan, maka sebagai kesimpulan yaitu :
1. Surat DPP PPRNB sudah kita jawab dengan adanya rapat hari ini
2. Bangunan yang sudah ada dirubah fungsi menjadi rumah doa dan tempat ziarah dan program tetap dilanjutkan,
3. Tidak dilakukan lagi penggalian gundukan tetap.
4. KM/ toilet diluar pagar aja.
5. Dilanjutkan Pembuatan gapura, tangga, gebang.
6. Tukang ( pande) agar dibuat pagar diri melepaskan ayam putih karena yang sudah dibangunnya berubah fungsi, agar tetap sehat sehat. Imi dilakukan hari Kamis tanggal 14 – 05 – 2026 jam 10.00 WIB tepat (red)







