Palembang, mediasumatera.id – Yayasan Santo Louis terus memperkuat komitmennya dalam memajukan kualitas pendidikan di era digital. Melalui SMP Santo Louis dan SMA Xaverius 2 Palembang, yayasan menyelenggarakan Workshop Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) guna meningkatkan kompetensi pedagogik guru dan kualitas implementasi Kurikulum Merdeka.
Kegiatan yang berlangsung di Jl. Sukabangun 1, Palembang, Rabu (13/5/2026), ini menghadirkan pakar pendidikan, Ibu Yustinawati, sebagai narasumber utama. Fokus kegiatan diarahkan pada penciptaan pembelajaran yang bermakna, berpusat pada siswa, dan inovatif melalui integrasi teknologi.
Ketua Yayasan Santo Louis, St. Agus Yuswana, saat membuka acara secara resmi menekankan pentingnya adaptasi guru terhadap perubahan zaman. “Zaman terus berubah, kita harus siap menyesuaikan diri di era digital ini. Melalui pendampingan yang baik, guru diharapkan memiliki kesabaran, ketekunan, dan wawasan luas untuk mewujudkan strategi pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan,” ujar Yuswana.

Workshop ini dirancang secara interaktif untuk membekali para pendidik dengan pendekatan mindful, meaningful, dan joyful learning. Tujuannya adalah membentuk profil lulusan yang memiliki keterampilan penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, komunikasi, serta keimanan dan ketakwaan.
Narasumber Yustinawati menjelaskan bahwa dalam konsep pembelajaran mendalam berbasis inkuiri kolaboratif, peran guru mengalami transformasi signifikan. “Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi fasilitator yang menginspirasi siswa untuk menemukan dan mengonstruksi pengetahuannya sendiri,” ungkapnya. Ia mendorong penerapan strategi yang menumbuhkan rasa ingin tahu serta kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills) pada siswa.

Kepala SMA Xaverius 2 Palembang, Petrus Widodo, dalam sambutannya turut memberikan catatan reflektif bagi para peserta. Ia mengapresiasi semangat para guru namun juga menantang konsistensi implementasinya di kelas. “Kami hadir untuk memastikan setiap sekolah mendapatkan pendampingan yang bermakna. Pertanyaannya, apakah prinsip pembelajaran mendalam yang sudah kita terima selama ini sudah benar-benar dilaksanakan dalam praktik mengajar sehari-hari?” tutur Widodo.
Sebagai bagian dari implementasi praktis, workshop ini juga mencakup penyusunan Modul Ajar yang mengintegrasikan teknologi Kecerdasan Artifisial (AI) dan konsep Kurikulum Berbasis Cinta. Melalui langkah ini, Yayasan Santo Louis berharap dapat menciptakan ekosistem pendidikan di Palembang yang aktif, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan masa depan. (andreasdaris)







