Rotua Wendeilyna Simarmata : Mengukur Level Kesenangan

Rotua Wendeilyna Simarmata : Mengukur Level Kesenangan

Samosir, mediasumatera.id – Apa itu Level Kesenangan ?

Dua hari yang lalu, saya makan sop Kambing bersama beberapa sahabat di bilangan Tanah Abang. Ini adalah rencana yang terwujud setelah penantian selama 3 bulan. Karena kesibukan masing-masing dan jadwal buka warung yang terpengaruh Iedul Adha, maka baru Rabu kemarin kami bisa bersua.

Puas rasanya setelah berhasil menyantap beberapa tusuk sate kambing beserta semangkuk sop kambing yang memang sangat legendaris itu.

Ada kesenangan tersendiri setelah hidangan berbahan dasar kambing itu tandas ke dalam perut kami. Memang bahagia itu sederhana kok Kawan.

Selesai ngesop Kambing, saya mampir ke kedai kopi kecil di dekat stasiun. Sambil mengendapkan isi perut dan menunggu kereta agak senggang, saya memesan secangkir kecil kopi hitam.

Di meja sebelah, dua orang sahabat sedang bercakap.

Rotua Wendeilyna Simarmata : Mengukur Level Kesenangan

Yang satu berkata sambil menyeruput kopi susu, “Bahagia itu sederhana. Minum kopi enak, hidup tenang.”

Yang satunya lagi tertawa kecil. “Kalau begitu, kenapa setelah kopinya habis, besok kita cari kopi lagi?”

Mereka terdiam.

Lalu pemilik kedai yang rambutnya mulai dipenuhi uban ikut nimbrung.

“Karena ada kesenangan yang hanya mampir seperti tamu. Ada yang tinggal lebih lama seperti sahabat. Dan ada yang bahkan tetap hidup meski kita sudah tiada.”

Saya tersenyum.

Mungkin selama ini kita sering menyebut semuanya dengan satu nama: bahagia.

Padahal, levelnya berbeda.

Sahabatku, menurut ilmu positif psikologi yang dikembangkan oleh Martin Seligment, rupanya bahagia terbagi 3 level.

Level 1: Pleasure
Ini adalah kesenangan yang paling mudah didapat.

Minum kopi hangat ketika hujan turun.
Menyantap sop kambing bersama sahabat di malam yang dingin.
Menonton film favorit.
Membeli barang yang sudah lama diincar.

Baca Juga :  Polresta Deli Serdang Laksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi Patuh Toba 2025, Tegaskan Komitmen Tertib Berlalu Lintas Dan Keselamatan Masyarakat

Pleasure itu indah.

Masalahnya, ia memiliki umur yang pendek.

Kita makan makanan terenak sekalipun, beberapa jam kemudian lapar lagi.

Kita menonton film yang paling seru, seminggu kemudian mencari tontonan baru.

Bahkan kopi yang paling nikmat pun, setelah cangkirnya kosong, kita mulai bertanya, “Besok ngopi di mana?”

Pleasure seperti kembang api.

Indah.
Memukau.
Tetapi cepat menghilang.

Karena itu, jangan terlalu boros dalam mengejar pleasure.

Sebab sesuatu yang berlebihan sering kali kehilangan keistimewaannya.

Makan sate setiap hari, lama-lama lidah protes.

Liburan tanpa jeda, justru membuat kita lelah.

Bahkan kopi pun, anehnya, sering kali lebih nikmat ketika disajikan dalam takaran kecil.

Sedikit…
namun membuat kita rindu.

Mungkin itulah sebabnya beberapa kedai menjual espresso dalam gelas mungil dengan harga yang tidak mungil.

Karena terkadang, yang membuat sesuatu berharga bukan banyaknya, melainkan ruang rindu yang ia tinggalkan. #eeeaaaa

Level 2: Achievement
Ada kesenangan yang lebih panjang usianya.

Namanya: achievement.

Wisuda.
Naik jabatan.
Menyelesaikan buku pertama.
Lulus ujian.
Menurunkan berat badan setelah perjuangan panjang.

Kesenangan jenis ini tidak sekadar hadir karena hasilnya.

Kesenangan ini hadir karena ada cerita perjuangan di belakangnya.

Semakin berat prosesnya, sering kali semakin panjang rasa syukurnya.

Karena itu, salah satu cara memperpanjang kesenangan adalah menaikkan pleasure menjadi achievement.

Misalnya makan.

Makan biasa menyenangkan.
Tetapi makan setelah sehari penuh berpuasa, rasanya berbeda.

Ada perjuangan.
Ada penantian.
Ada kemenangan kecil atas diri sendiri.

Nikmatnya bukan hanya di lidah.
Tetapi juga di jiwa.

Secangkir air putih saat berbuka sering kali terasa lebih mewah daripada minuman mahal di hari biasa.
Karena air putih itu membawa cerita.

Baca Juga :  Korban Tewas Akibat Tanah Longsor di Brasil Mencapai 117, Polisi mengatakan 116 Hilang

Achievement memberi makna pada pleasure.

Ia mengubah “sekadar menikmati” menjadi “layak dirayakan.”

Level 3: Contribution
Namun ada level kesenangan yang lebih tinggi lagi.

Yaitu contribution.

Kita senang ketika berhasil.
Tetapi ada rasa yang berbeda ketika membantu orang lain berhasil.

Naik jabatan itu membahagiakan.
Namun melihat anak buah bertumbuh dan ikut naik jabatan, sering kali menghadirkan kebahagiaan yang lebih dalam.

Memahami sebuah ilmu itu menyenangkan.
Tetapi melihat mata seseorang berbinar karena akhirnya ia mengerti sesuatu yang kita ajarkan. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan.

Orang tua memahami ini.
Guru memahami ini.

Mereka tersenyum bukan hanya karena apa yang mereka miliki.
Tetapi karena apa yang bisa mereka wariskan.

Contribution mengajarkan satu hal:
kebahagiaan tidak berkurang ketika dibagikan.

Justru bertambah.
Seperti lilin yang menyalakan lilin lain.
Cahayanya tidak mengecil.
Malah membuat ruangan semakin terang.

Ultimate Good Contribution
Lalu ada puncaknya.
Ketika kontribusi dilakukan tanpa pamrih.
Bukan demi tepuk tangan.
Bukan demi pujian.
Bukan demi pengakuan.

Tetapi karena memang itu yang benar untuk dilakukan.

Tetap berbuat baik meski ada kesempatan untuk tidak baik.
Tetap membantu meski tak seorang pun melihat.
Tetap memberi meski tak ada kamera yang merekam.

Di sinilah kita belajar tentang ikhlas.
Ikhlas bukan berarti tidak merasakan lelah.
Bukan berarti tidak pernah kecewa.
Ikhlas adalah ketika hati tetap memilih kebaikan, bahkan tanpa jaminan balasan.

Dan mungkin inilah mengapa orang-orang yang tulus sering tampak lebih damai.

Karena sumber kebahagiaannya tidak bergantung pada tepuk tangan dunia.

Pleasure dibatasi oleh waktu.
Achievement dibatasi oleh usia.

Tetapi keikhlasan, meninggalkan jejak yang melampaui keduanya.

Kebaikan yang dilakukan dengan tulus bisa hidup dalam doa seseorang.
Dalam perubahan hidup seseorang.

Baca Juga :  Hendak Sidak PT Antam di Bogor, Komisi VII Heran Dikabarkan Akan Disambut Demonstrasi

Bahkan mungkin menjadi amal yang terus mengalir ketika nama kita sudah lama tak disebut.

Maka jika hari ini engkau sedang mencari kesenangan, tidak ada yang salah dengan secangkir kopi.

Nikmatilah.
Rayakanlah.
Tetapi jangan berhenti di sana.

Naikkan pleasure menjadi achievement.
Lalu naikkan achievement menjadi contribution.

Dan jika Allah memampukan, hadirkan keikhlasan di dalamnya.

Karena mungkin, kesenangan terdalam bukanlah ketika kita bertanya,

“Apa yang bisa dunia berikan kepadaku?”

melainkan ketika kita mulai bertanya,

“Kebaikan apa yang bisa kutinggalkan untuk dunia?”

Dan siapa tahu…,
setelah membaca tulisan ini, saat engkau menyeruput kopi berikutnya, menyelesaikan pekerjaan berikutnya, atau membantu seseorang dengan tulus…

engkau mulai menyadari bahwa ada level kesenangan yang selama ini menunggumu untuk dinaiki.

Maka pilihlah dengan sadar…
di level mana engkau ingin tinggal.

Karena hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mengejar kesenangan yang cepat berlalu.

Dan mungkin, mulai hari ini, tanpa perlu tergesa-gesa. Engkau bisa melangkah setingkat lebih tinggi. Sedikit demi sedikit.

Menikmati…
bertumbuh…
lalu memberi.

Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita nikmati yang akan dikenang.

Tetapi seberapa besar kebaikan yang berhasil kita titipkan di hati sesama.

Semoga bermanfaat,

dikutip dari : dewahipnotis-
www.thecafetherapy.com (red)