Renungan hari ini: Berbahagialah Yang Tidak Melihat

Renungan hari ini: Berbahagialah Yang Tidak Melihat

mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Tidak satupun dari antara kita yang pernah melihat Tuhan secara kasat mata. Namun, dengan iman kita percaya kepada-Nya, bahwa Dia selalu ada bersama kita sampai akhir Zaman. Dia bersabda: berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan pesta Santo Tomas, Rasul.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 20: 24 – 29, yakni Yesus menampakkan diri kepada Tomas. Para saudaraku, Tomas menunggu delapan hari dalam gelap keraguan. Ia ingin bukti nyata sebelum percaya. Bukankah kita pun sering begitu? Kita ingin doa dijawab dulu, rezeki datang dulu, kesembuhan terjadi dulu, baru percaya. Namun Yesus hadir bukan untuk menghakimi, melainkan menjangkau. Ia berkata: β€œJangan terus menjadi tidak percaya, melainkan percayalah.” Iman sejati bukanlah melihat dahulu, lalu percaya, melainkan percaya dahulu baru melihat. Di zaman ini, banyak orang kehilangan kepercayaan karena ingin serba instan. Kita ingin mendikte Tuhan, seolah tahu lebih baik dari Dia. Padahal Tuhan selalu ada, dan Dia lebih tahu kebutuhan kita daripada kita sendiri. Ketika kita tetap bersyukur meski doa belum dijawab, ketika kita tetap berdoa meski langit terasa diam, ketika kita tetap berpegang pada janji-Nya di tengah badai, di situlah kita diberkati. Iman tanpa melihat bukan kelemahan, melainkan kemuliaan. Kita tidak melihat Yesus secara fisik, tetapi kita memiliki Firman, kesaksian para rasul, dan Roh Kudus yang tinggal dalam HATI kita. Itulah kebahagiaan surgawi yang tidak bisa dicuri oleh waktu, sakit, atau kematian.

*Pesan Untuk Kita*

Para saudaraku, mungkin Anda sedang berada di ruang gelap seperti Tomas, penuh pertanyaan dan kegelisahan. Dengarkanlah suara-Nya: “Aku hidup. Aku tidak meninggalkanmu. Aku memanggilmu untuk percaya, sebab di situlah letak kebahagiaan yang sejati.” Percaya tanpa melihat adalah anugerah terbesar. Karena iman sejati bukan sekadar bukti yang kasat mata, melainkan pengalaman KASIH yang nyata. Dan di situlah kita menemukan kebahagiaan yang tidak tergoyahkan.

*Pertanyaan Refleksi*

1. Dalam hal apa saya masih menuntut bukti nyata dari Tuhan sebelum berani percaya?
2. Mengandalkan diri sendiri: Kapan saya lebih memilih mengandalkan kekuatan diri daripada berserah pada Tuhan, dan apa akibatnya?
3. Bagaimana saya bisa tetap setia berdoa dan bersyukur meski doa belum dijawab atau hasil belum terlihat?

*Selamat berefleksi*πŸ™πŸ™

*Doa Singkat*

Tuhan Yesus, ajarlah kami percaya tanpa harus melihat.
Ketika doa belum dijawab, ketika hidup terasa berat, ingatkan kami bahwa Engkau selalu ada.Kuatkan iman kami agar tidak goyah, dan jadikan kami generasi yang diberkati
karena percaya pada kasih-Mu. Amin.