mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Entah sadar atau tidak, menyimpan dendam dapat merusak diri sendiri dan orang lain yang kita dendam. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, Martir.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 6: 17 – 29, yakni Yohanes Pembaptis dibunuh. Para saudaraku, dendam adalah racun yang bekerja perlahan, tetapi pasti menghancurkan. Herodias menjadi gambaran nyata: teguran Yohanes Pembaptis yang seharusnya menyelamatkan, justru ia simpan sebagai luka. Dendam itu membutakan mata rohani, melahirkan intrik, dan akhirnya menyeret banyak orang dalam dosa serta merenggut nyawa seorang nabi. Inilah bahaya menyimpan dendam: ia tidak berhenti pada pelakunya, tetapi meracuni orang-orang di sekitarnya. Herodes kehilangan integritas, putrinya dijadikan alat, pesta sukacita berubah menjadi tragedi. Dendam selalu menuntut korban, dan korban pertama adalah kedamaian hati kita sendiri. Di zaman modern, dendam tampil dengan wajah baru: gengsi tinggi, enggan disalahkan, merasa diri selalu benar. Media sosial menjadi panggung balas dendam halus, sindiran, hujatan, pengucilan, atau “cancel culture.” Kita menyebutnya menjaga harga diri, padahal sesungguhnya kita sedang membiarkan racun menguasai jiwa. Firman Tuhan berkata: “Janganlah engkau berkata: Aku akan membalas kejahatan, tetapi nantikanlah TUHAN, maka Ia akan menyelamatkan engkau” (Amsal 20:22). Mengampuni bukan kelemahan, melainkan keberanian untuk melepaskan gengsi demi damai sejati.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku,, menyimpan dendam hanya membuat kita budak luka, sementara pengampunan membebaskan kita. Orang yang kita dendami mungkin tetap tertawa, tetapi kita yang terbakar setiap hari. Jangan biarkan gengsi merampas kebahagiaan. Hari ini, jika ada nama yang masih mengikat HATI, bawalah ke salib Kristus. Katakan: “Tuhan, aku menyerahkan luka ini. Aku memilih mengampuni, bukan karena dia pantas, tetapi karena aku rindu damai-Mu.” Karena kebahagiaan sejati bukanlah kemenangan atas musuh, melainkan HATI yang lapang dan jiwa yang merdeka. Amin.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah gengsi sering membuat saya sulit mengakui kesalahan atau menerima teguran dengan HATI terbuka?
2. Bagaimana cara saya melepaskan luka lama agar tidak berubah menjadi dendam yang meracuni relasi dengan orang lain?
3. Apakah saya berani memilih mengampuni, bukan karena orang lain pantas, tetapi karena saya sendiri layak hidup damai?
Selamat berefleksi…&. Selamat berakhir pekan🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus yang penuh KASIH,
kami datang membawa luka dan kepahitan HATI kami.
Ampunilah kelemahan kami yang sering menyimpan dendam,
karena gengsi dan rasa benar sendiri. Ajarlah kami melepaskan beban itu,
agar HATI kami lapang dan jiwa kami merdeka. Berikan keberanian untuk mengampuni,
supaya damai-Mu memenuhi hidup kami. Amin.



