PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana Ibadah Minggu XII Setelah Trinitatis di GKPI Jemaat Khusus Imanuel Pematangsiantar, Minggu, 23 Agustus 2026, berlangsung penuh sukacita, pengharapan, dan perenungan yang mendalam. Sejak ibadah pagi dimulai, jemaat datang dengan kerinduan yang tulus untuk bersekutu, menaikkan pujian, mendengarkan Firman Tuhan, serta menguatkan kembali iman di tengah berbagai pergumulan kehidupan.
Ibadah pagi dipimpin oleh Inang R. br Manurung sebagai liturgis. Persekutuan dibuka melalui nyanyian Kidung Jemaat, dipimpin oleh Inang B. br Parapat dan Inggrid br Ginting sebagai Song Leader, dengan iringan organ oleh Inang S. br Siregar. Banyak hati tersentuh, seakan setiap lagu menjadi doa yang naik ke hadirat Tuhan.
Suasana ibadah berlangsung khidmat dan hangat. Di tengah kesibukan, persoalan keluarga, pekerjaan, dan berbagai tantangan kehidupan, ibadah Minggu kembali menjadi ruang bagi jemaat untuk datang kepada Tuhan, menenangkan hati, serta memperoleh kekuatan melalui Firman-Nya.

Puncak ibadah terjadi ketika Firman Tuhan disampaikan oleh Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th., berdasarkan Efesus 4:7–16, dengan tema:
“TEGUH BERPEGANG PADA KEBENARAN”
Surat Efesus mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya bukanlah kehidupan yang berjalan sendiri-sendiri. Setiap orang menerima karunia, kemampuan, tanggung jawab, dan panggilannya masing-masing. Namun semua itu tidak diberikan untuk kepentingan pribadi.
Semua karunia diberikan untuk satu tujuan, yaitu membangun tubuh Kristus.
Disampaikan oleh Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th dalam khotbahnya, ada yang diberi kemampuan memimpin, ada yang mengajar, ada yang melayani, ada yang menolong, ada yang bernyanyi, ada yang memainkan musik, dan ada pula yang mempunyai kemampuan mengatur serta bekerja dengan baik.
Semua berbeda, tetapi semuanya mempunyai tempat di dalam tubuh Kristus.
Karena itu, kehidupan jemaat tidak seharusnya dipenuhi pemikiran, seperti “Ini urusan saya,” “Ini kemampuan saya,” atau “Ini kepentingan saya.”
Sebaliknya, setiap orang percaya dipanggil untuk bertanya:
“Apa yang dapat saya lakukan dengan karunia yang Tuhan berikan supaya orang lain juga menerima berkat?”
Efesus 4:7 mengatakan:
“Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.”
Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th mengatakan kepada jemaat bahwa dalam Firman Tuhan ini, kata “masing-masing” menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berarti di hadapan Tuhan. Bahkan Tuhan mengetahui kemampuan kita, kelemahan kita, dan di mana kita dapat dipakai menjadi berkat.
Jemaat Tidak Dipanggil untuk Berjalan Sendiri-sendiri
Dalam khotbahnya, Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th menekankan pentingnya kehidupan dalam persekutuan.
Namun, semua perbedaan itu tidak boleh membuat kita berjalan sendiri-sendiri. Gereja membutuhkan kebersamaan, sebab kita saling membutuhkan satu sama lain.
Orang yang mempunyai kemampuan lebih tidak boleh merasa dirinya paling penting. Demikian pula orang yang merasa kemampuannya sederhana jangan sampai menganggap dirinya tidak berguna. Setiap orang mempunyai bagian dan tanggung jawab masing-masing.
Dan bahkan, setiap karunia yang Tuhan berikan seharusnya digunakan untuk membangun kehidupan bersama, bukan untuk meninggikan diri sendiri, ungkap Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th..
Jangan Lagi Menjadi Anak-anak dalam Iman
Salah satu bagian yang sangat kuat dari Efesus 4 terdapat pada ayat 14:
“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran…”
Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th mengatakan bahwa Paulus mengingatkan agar orang percaya tidak mudah berubah atau goyah dalam iman seperti anak-anak. Persoalan, perbedaan pendapat, maupun doa yang belum terjawab tidak boleh membuat kita meninggalkan persekutuan atau meragukan Tuhan. Karena itu, kita dipanggil untuk terus bertumbuh dan semakin dewasa dalam iman serta sikap hidup.
Karunia Bukan untuk Kepentingan Pribadi
Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th, mengatakan kembali menekankan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sesuai peran dan karunia yang Tuhan berikan, seperti: Kemampuan, pengetahuan, kedudukan, dan kesempatan hendaknya digunakan untuk membantu, membangun, melayani, serta menjadi berkat bagi orang lain, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.
Belajar Mengutamakan Orang Lain
Dalam khotbah tersebut disampaikan pentingnya tidak selalu menempatkan diri sebagai yang utama. Bersedia memberi ruang kepada orang lain bukan berarti tidak mampu atau lebih rendah, melainkan merupakan tanda kedewasaan. Tidak semua hal harus dilakukan atau dipimpin sendiri; ada waktunya berbicara, mendengar, maju, dan memberi kesempatan kepada orang lain. Sikap “tidak harus selalu saya” menunjukkan kerendahan hati, kemampuan mengalahkan ego, dan kemauan mengutamakan sesama.
Kebenaran Itu Harus Dimulai dari Keluarga
Khotbah ini mengingatkan bahwa kehidupan keluarga harus dibangun atas dasar tanggung jawab, pengorbanan, dan sikap saling mengutamakan. Suami, istri, orang tua, dan anak memiliki peran masing-masing yang perlu dijalankan dengan penuh kasih. Keharmonisan keluarga tidak ditentukan oleh siapa yang paling berkuasa, melainkan oleh kesediaan untuk saling mendengar, menghargai, mengalah, mengampuni, dan memperhatikan satu sama lain.
Kristus Menjadi Dasar Kehidupan
Jika seseorang percaya kepada Kristus, imannya harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari melalui kasih, pelayanan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.
Efesus 4:15 mengatakan:
“Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”
Kristuslah tujuan pertumbuhan kita, bukan kedudukan, pujian, atau popularitas. Yang terpenting adalah apakah kehidupan kita setiap hari semakin menyerupai Kristus, ungkap Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th.
Kesabaran adalah Tanda Kedewasaan
Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th mengingatkan bahwa kesabaran merupakan tanda kekuatan, kedewasaan, dan kasih. Kesabaran menolong orang percaya tetap tenang, tidak membalas ketika disakiti, serta menyampaikan kebenaran dengan kasih tanpa membiarkan kesalahan.
Teguh pada Kebenaran, Jangan Kehilangan Kasih
Tema Firman Tuhan menegaskan pentingnya teguh berpegang pada kebenaran yang disampaikan dalam kasih. Kebenaran harus digunakan untuk membangun, bukan merendahkan atau mempermalukan orang lain. Karena itu, setiap teguran perlu disampaikan dengan kasih, perbedaan pendapat dihadapi dengan saling menghormati, dan kesalahan diselesaikan dengan tujuan memperbaiki. Dengan demikian, kebenaran membawa kita semakin dekat kepada Kristus.
Menutup kotbahnya, Amang Pdt. S.P. Hutagalung, S.Th mengatakan bahwa setiap orang menjalankan tugasnya masing-masing, namun semuanya mempunyai satu tujuan, yaitu melayani Tuhan dan membangun persekutuan jemaat.

Pelayanan Ibadah:
– Warta Jemaat & Doa Syafaat: Amang C.Pnt Berlin Simangunsong
– Song leader/ Pujian: Inang B br Parapat dan Inggrid br Ginting
– Organis: Inang S br Siregar
– Persembahan: Amang C.Pnt. Victor Asido Elyakim P & Inang Pnt. S br Hutagalung
– Penerimaan Tamu: Inang N br Panggabean & Amang C.Pnt, P.C br Simbolon
Kehadiran jemaat pada ibadah Minggu XII Setelah Trinitatis tersebut juga menunjukkan antusiasme yang sangat besar. Jemaat hadir mengikuti ibadah Minggu dengan penuh khidmat. Ibadah pun berakhir dalam suasana penuh sukacita. Jemaat pulang dengan hati yang bersukacita, saling bersalaman satu sama lain, berbagi senyum dan sapaan yang tulus. Kebersamaan sederhana itu terasa begitu berharga, seolah mengingatkan kembali bahwa gereja bukan sekadar bangunan, melainkan persekutuan umat yang saling menguatkan dalam kasih Kristus..



