KETIKA SEORANG GURU DIBUN*H KARENA UJARAN KEBENCIAN DIBIARKAN – Inspirasi dari Film Forsaken (2026)

KETIKA SEORANG GURU DIBUN*H KARENA UJARAN KEBENCIAN DIBIARKAN - Inspirasi dari Film Forsaken (2026)

mediasumatera.id – Pada 16 Oktober 2020, seorang guru berjalan meninggalkan sekolahnya di pinggiran Paris. Ia tidak mengetahui bahwa seseorang telah datang untuk mengakhiri hidupnya.

Namanya Samuel Paty. Usianya 47 tahun. Ia mengajarkan sejarah dan kebebasan berekspresi. Namun sore itu, seorang ekstremis menyerangnya dengan pisau, lalu memenggal kepalanya.

Di suatu tempat, Gabriel, putranya yang baru berusia lima tahun, harus tumbuh tanpa ayah. Sebuah pelajaran tentang kebebasan telah berakhir dengan kematian.

Pembunuhnya tewas ditembak polisi tak lama kemudian. Tetapi kebohongan yang mendahului pembunuhan itu telah menyebar jauh lebih cepat daripada kemampuan masyarakat menghentikannya.

Sebuah pertanyaan tertinggal: bagaimana mungkin seorang guru yang sedang menjalankan pekerjaannya berubah menjadi sasaran kebencian, sementara tanda-tanda bahaya telah muncul berhari-hari sebelumnya?

-000-

Sebelas Hari Ketika Kebencian Menjadi Mesin Pembunuh

Tragedi ini dihidupkan kembali melalui Forsaken, berjudul asli L’Abandon, film Prancis karya Vincent Garenq yang diputar di luar kompetisi Festival Film Cannes, Mei 2026.

Garenq menulis skenario bersama Alexis Kebbas, dengan kolaborasi Mickaëlle Paty, saudara perempuan korban. Film berdurasi 100 menit ini diadaptasi dari penyelidikan jurnalis Stéphane Simon.

Antoine Reinartz memerankan Samuel Paty. Emmanuelle Bercot memerankan kepala sekolah. Film ini merekonstruksi sebelas hari terakhir kehidupan sang guru.

Ketegangannya tidak dibangun dari adegan kekerasan yang spektakuler. Ketegangan itu lahir dari rangkaian keputusan kecil dan kesempatan yang terlewatkan.

Kita menyaksikan seorang manusia perlahan kehilangan ruang aman. Sebuah tuduhan berkembang. Tekanan meningkat. Orang-orang berusaha menanggapi, tetapi ancaman bergerak melampaui perkiraan.

Kepala sekolah tidak digambarkan sebagai penjahat. Ia menghadapi situasi yang semakin rumit, ketika tanggung jawab administratif bertemu dengan ketakutan yang sulit diukur.

Justru di situlah kekuatan film ini.

Penonton telah mengetahui bahwa Paty akan meninggal. Namun pengetahuan tersebut membuat setiap kesempatan penyelamatan terasa semakin menyakitkan ketika berlalu tanpa hasil.

Film ini juga mengundang perdebatan. Télérama memuji ketelitiannya terhadap fakta, tetapi mencatat satu kekeliruan selera yang mengganggu. Dramatisasi tragedi nyata memang selalu berisiko menyederhanakan tanggung jawab.

Namun Prancis memilih menjadikannya bahan pendidikan. Film ini diputar ulang di bioskop pada September 2026. Pada 5 Oktober 2026, sekitar seribu siswa sekolah menengah di Cannes menontonnya bersama.

Mengapa kisah ini perlu difilmkan dan ditonton anak-anak sekolah?

Karena pembunuhan Paty bukan sekadar kisah tentang seorang teroris dan korbannya. Ia memperlihatkan bagaimana fitnah, fanatisme, dan kegagalan membaca ancaman dapat bertemu di satu titik.

-000-

Dari Sebuah Kebohongan Menuju Sebuah Kematian

Pada 5 Oktober 2020, Samuel Paty mengajar kebebasan berekspresi. Ia memperlihatkan karikatur Nabi Muhammad dari majalah satir Charlie Hebdo sebagai bahan pembelajaran kewarganegaraan.

Paty memahami bahwa gambar tersebut dapat menyinggung sebagian murid. Ia memberikan kesempatan kepada mereka yang tidak nyaman untuk tidak melihatnya.

Dalam masyarakat Prancis, pelajaran itu berada dalam tradisi laïcité, prinsip sekularisme negara yang melindungi kebebasan hati nurani sekaligus memisahkan kewenangan negara dari agama.

Namun kebebasan hukum tidak otomatis menghilangkan luka keagamaan. Bagi banyak Muslim, penggambaran Nabi Muhammad dipandang sebagai tindakan yang tidak menghormati sesuatu yang disucikan.

Perbedaan tersebut sebenarnya dapat menjadi bahan percakapan. Orang boleh mempertanyakan kebijaksanaan metode pengajaran, tanpa harus mengancam keselamatan orang yang menggunakannya.

Tetapi persoalan kemudian berubah menjadi tragedi.

Seorang siswi mengaku mengalami diskriminasi dalam pelajaran tersebut. Penyelidikan belakangan mengungkap bahwa ia bahkan tidak hadir ketika pelajaran itu berlangsung.

Ayahnya, Brahim Chnina, menyebarkan tuduhan terhadap Paty melalui media sosial. Aktivis Islamis Abdelhakim Sefrioui kemudian ikut menggerakkan kampanye permusuhan.

Nama sang guru beredar. Rekaman video memperbesar kemarahan. Tuduhan yang belum terbukti berubah menjadi seolah-olah kebenaran yang tidak boleh lagi dipersoalkan.

Pada 8 Oktober, Chnina melaporkan Paty kepada polisi. Pada hari yang sama, sang guru mengajukan pengaduan atas fitnah yang menimpanya.

Ketika persoalan masuk ke ranah hukum, kampanye di media sosial justru terus berkembang. Ruang kelas telah berubah menjadi arena konflik yang jauh lebih luas.

Pada 16 Oktober, Abdoullakh Anzorov, pemuda radikal berusia 18 tahun berlatar keluarga Chechnya, mendatangi sekolah dan mencari guru yang telah dituduh menghina agama.

Beberapa murid membantu menunjukkan Paty dengan imbalan uang. Ketika sang guru meninggalkan sekolah, Anzorov menyerang dan membunuhnya.

Lebih dari lima tahun kemudian, pengadilan masih menghitung panjangnya akibat kampanye kebencian tersebut.

Pada 2 Maret 2026, pengadilan banding Prancis menguatkan hukuman 15 tahun penjara bagi Sefrioui dan menurunkan hukuman Chnina dari 13 menjadi 10 tahun.

Keduanya dihukum atas persekongkolan jahat teroris. Hakim menyebut kampanye mereka sebuah “fatwa digital”. Mereka tidak mengayunkan pisau, tetapi merekalah yang menunjuk sasarannya.

Di sinilah pelajaran yang mengerikan itu muncul.

Seseorang tidak perlu memegang senjata untuk ikut menciptakan bahaya. Kebohongan yang menyebut nama dan wajah seseorang dapat berubah menjadi penunjuk arah bagi kekerasan.

Sebelum tubuh Samuel Paty diserang, reputasinya telah lebih dahulu dijadikan sasaran.

-000-

Gabriel: Anak Kecil yang Kehilangan Ayah

Pada Februari 2026, ketika persidangan banding berlangsung, Jeanne, mantan pasangan Samuel Paty, memilih tidak membawa putra mereka, Gabriel, ke ruang sidang.

Gabriel ketika itu berusia sepuluh tahun. Ibunya berusaha melindunginya dari pengalaman yang dapat memperdalam trauma dan rasa bersalah yang tidak semestinya dipikul seorang anak.

Bayangkan seorang anak yang sedang belajar memahami dunia, tetapi harus lebih dahulu belajar memahami mengapa seseorang membunuh ayahnya.

Anak-anak seusianya bertanya tentang sekolah, permainan, dan liburan. Gabriel harus menghadapi pertanyaan yang bahkan orang dewasa pun kesulitan menjawabnya: mengapa orang dewasa tidak berhasil melindungi ayahnya?

Tidak ada hukuman penjara yang dapat mengembalikan suara seorang ayah ketika anaknya memanggil. Tidak ada keputusan hakim yang dapat menggantikan pelukan yang hilang.

Kita sering menghitung korban terorisme melalui jumlah kematian. Namun setiap korban meninggalkan sebuah dunia pribadi yang tidak dapat dirangkum dalam statistik.

Ada meja makan yang kehilangan satu kursi. Ada percakapan yang tidak pernah terjadi. Ada ulang tahun yang akan selalu membawa ingatan tentang seseorang yang tidak hadir.

Gabriel mengingatkan bahwa akibat ujaran kebencian tidak berakhir ketika pembunuh dilumpuhkan. Luka dapat bertahan melampaui persidangan, hukuman, bahkan ingatan publik.

Seorang anak kehilangan ayah bukan karena ia memilih konflik, melainkan karena dunia orang dewasa gagal menjaga perbedaan agar tidak berubah menjadi kekerasan.

-000-

Ketika Negara Melihat Ancaman, Tetapi Gagal Membaca Bahayanya

Salah satu temuan paling mengusik dari tragedi Paty adalah bahwa peringatan sebenarnya telah muncul sebelum hari pembunuhan.

Pada 9 Oktober 2020, kepala sekolah telah memberi tahu wali kota Conflans-Sainte-Honorine tentang ketegangan di sekolah dan ancaman yang membayangi sang guru.

Informasi itu diteruskan kepada aparat intelijen wilayah. Namun catatan intelijen tertanggal 12 Oktober menyimpulkan bahwa tidak terlihat ketegangan besar yang nyata.

Empat hari kemudian, Samuel Paty dibunuh.

Temuan ini tercatat dalam laporan delegasi parlemen Prancis yang mengawasi kegiatan intelijen, diterbitkan melalui Senat pada Juli 2021.

Masalahnya bukan bahwa tidak seorang pun bertindak. Kepala sekolah telah menghubungi berbagai pihak. Kepolisian sempat hadir. Peringatan administratif juga telah disampaikan.

Namun berbagai tindakan tersebut tidak menghasilkan penilaian ancaman yang memadai ataupun perlindungan efektif terhadap orang yang sedang menjadi sasaran.

Laporan parlemen mengungkap persoalan koordinasi. Informasi dalam proses hukum tidak dapat masuk ke analisis intelijen wilayah karena perbedaan kewenangan.

Lebih mendasar lagi, ancaman dibaca hanya sebagai persoalan ketertiban umum, bukan kemungkinan serangan teroris terhadap seorang individu.

Inilah kesalahan membaca bahaya yang menentukan.

Bagi birokrasi, persoalan mungkin terlihat sebagai sengketa orang tua dan guru. Bagi seorang ekstremis, tuduhan yang sama dapat menjadi alasan melakukan pembunuhan.

Namun kita harus adil terhadap sejarah.

Tidak ada bukti bahwa para pejabat mengetahui serangan akan terjadi lalu sengaja membiarkannya. Tidak semua kesalahan penilaian dapat disamakan dengan niat jahat.

Yang terlihat adalah sesuatu yang berbeda, tetapi tetap serius: tanda bahaya telah dikenali, sementara besarnya ancaman belum dipahami secara tepat.

Pada 2024, Senat Prancis kembali menekankan perlunya koordinasi yang lebih baik antara pendidikan, kepolisian, dan lembaga peradilan untuk melindungi guru dari ancaman.

Kasus Paty mengajarkan bahwa perlindungan tidak cukup berupa laporan yang dikirim, prosedur yang dijalankan, atau lembaga yang telah diberi tahu.

Yang menentukan adalah apakah seluruh informasi tersebut menghasilkan keputusan yang tepat, sebelum ancaman berubah menjadi kekerasan.

Sebab bagi seseorang yang nyawanya terancam, perbedaan antara negara yang memiliki prosedur dan negara yang memberikan perlindungan dapat menjadi perbedaan antara hidup dan mati.

-000-

Ketika Kebohongan Menjadi Senjata

Pelajaran berikutnya menyangkut sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: kemampuan kebohongan berubah menjadi kekuatan sosial.

Media sosial memungkinkan sebuah tuduhan menjangkau ribuan orang dalam waktu singkat. Tetapi kecepatannya tidak disertai kewajiban untuk memeriksa kebenaran.

Seseorang dapat diadili oleh kemarahan publik, bahkan sebelum memperoleh kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika identitas kelompok merasa diserang, orang cenderung mempercayai cerita yang menguatkan keyakinannya sendiri. Fakta yang berbeda justru dipandang sebagai ancaman.

Namun tidak setiap kritik keras melahirkan kekerasan. Tidak setiap orang yang tersinggung adalah ekstremis, sebagaimana tidak setiap perdebatan agama berakhir menjadi terorisme.

Bahaya meningkat ketika tuduhan palsu, identifikasi sasaran, propaganda permusuhan, dan pembenaran kekerasan saling bertemu.

Kasus Paty memperlihatkan pertemuan itu. Fitnah menyediakan sasaran. Kampanye digital memperbesar kemarahan. Radikalisasi memberi pembenaran. Pelaku akhirnya memilih membunuh.

Pilihan membunuh tetap menjadi tanggung jawab pelaku. Namun masyarakat juga perlu memeriksa tindakan yang membuat seseorang berubah menjadi sasaran kekerasan.

Teknologi telah memberikan pengeras suara kepada hampir setiap manusia. Tetapi pengeras suara tidak otomatis memperbesar kebijaksanaan. Ia juga dapat memperbesar kebodohan, ketakutan, dan kebencian.

Karena itulah kebebasan berbicara memerlukan dua hal yang hidup berdampingan: perlindungan terhadap perbedaan pendapat dan tanggung jawab terhadap ancaman nyata.

-000-

Ketika Saya Membaca tentang Rwanda

Pada 15 April 1994, para pendeta Tutsi yang berlindung di kompleks gereja Mugonero, Rwanda, menulis surat kepada pemimpin gereja mereka, Pastor Elizaphan Ntakirutimana.

Mereka menulis bahwa mereka telah mendengar kabar: besok mereka akan dibunuh bersama keluarga mereka. Mereka memohon agar sang pastor menolong mereka.

Kalimat dalam surat itulah yang kelak menjadi judul buku Philip Gourevitch: We Wish to Inform You That Tomorrow We Will Be Killed with Our Families.

Ketika membaca buku terbitan 1998 itu, saya menemukan tragedi lain tentang kebencian. Propaganda etnis telah membantu mempersiapkan salah satu pembantaian terbesar abad kedua puluh.

Pada 1994, sekitar 800.000 manusia dibunuh dalam kurang lebih seratus hari. Sebagian besar korban adalah Tutsi, bersama warga Hutu yang menentang pembantaian.

Radio RTLM dan media ekstremis menggambarkan Tutsi sebagai musuh yang harus disingkirkan. Kebencian diulang sampai kekejaman seolah menjadi tindakan yang dapat dibenarkan.

Tetangga berubah menjadi pembunuh tetangganya sendiri. Orang-orang yang sebelumnya berbagi jalan, pasar, dan kehidupan sehari-hari terpisah oleh propaganda identitas.

Para pendeta di Mugonero masih berharap seseorang yang memiliki otoritas moral akan memilih melindungi kehidupan.

Harapan itu tidak terpenuhi.

Keesokan harinya, serangan terhadap para pengungsi di kompleks itu menewaskan banyak orang. Pengadilan internasional untuk Rwanda belakangan menyatakan Ntakirutimana bersalah atas keterlibatannya dalam kejahatan tersebut.

Saya membayangkan ketakutan ketika surat itu ditulis. Seseorang masih hidup, masih berharap mendapat pertolongan, tetapi telah mengetahui bahwa kematian sedang mendatangi tempat perlindungannya.

Rwanda dan Samuel Paty jelas bukan peristiwa yang setara. Rwanda mengalami genosida terorganisasi, sedangkan Paty menjadi korban pembunuhan teroris terhadap seorang guru.

Namun keduanya mengingatkan kita pada mekanisme moral yang serupa: kekerasan menjadi lebih mudah dilakukan setelah korban kehilangan wajah kemanusiaannya.

Propaganda mengubah orang menjadi lambang musuh. Ketika itu terjadi, penderitaan mereka tidak lagi dirasakan sebagai penderitaan manusia.

Skalanya berbeda. Tetapi kewajiban untuk menolak dehumanisasi berlaku dalam keduanya.

Kata-kata dapat membangun jembatan kemanusiaan. Namun kata-kata juga dapat menyiapkan jalan yang akan dilalui para pembunuh.

Genosida massal maupun teror tunggal bermula dari titik yang persis sama: normalisasi kebencian verbal. Ketika kata-kata dibiarkan melucuti martabat seseorang, pembunuhan fisik hanyalah tinggal menunggu momentum eksekusinya.

-000-

Ketakutan yang Mengalahkan Nalar

Filsuf Martha Nussbaum, melalui The New Religious Intolerance, menjelaskan bagaimana ketakutan dapat mengubah perbedaan agama menjadi sumber prasangka dan kecurigaan.

Ketika manusia merasa terancam, ia mudah mencari pihak lain sebagai penyebab kegelisahannya. Kelompok yang berbeda kemudian dipandang sebagai bahaya.

Ketakutan semacam itu dapat tumbuh menjadi fanatisme ketika seseorang menganggap seluruh keyakinannya benar dan setiap perbedaan sebagai ancaman moral.

Nussbaum mengajak kita menempuh jalan lain, yakni mengembangkan imajinasi simpatik: kemampuan membayangkan kehidupan orang yang berbeda dari diri kita, tanpa harus menyetujui seluruh pandangannya.

Seandainya kemampuan itu lebih kuat, orang mungkin melihat Paty bukan sebagai lambang penghinaan agama, melainkan seorang guru yang memiliki keluarga.

Mungkin mereka akan membayangkan Gabriel yang menunggu ayahnya pulang, tanpa mengetahui bahwa sebuah kampanye kebencian sedang membahayakan kehidupan keluarganya.

Tetapi imajinasi simpatik bukan alasan untuk membenarkan semua tindakan atas nama kebebasan. Perasaan keagamaan juga merupakan pengalaman manusia yang layak dihormati.

Kita memerlukan keduanya: kebebasan untuk mempertanyakan gagasan dan kesediaan memahami mengapa suatu gagasan dapat sangat berarti bagi orang lain.

Peradaban dimulai ketika perbedaan tidak lagi dianggap sebagai izin untuk merendahkan martabat manusia.

-000-

Apakah Tuhan Memerlukan Pembelaan dengan Membunuh?

Pertanyaan paling mendalam dari tragedi Samuel Paty menyentuh hubungan agama dan kemanusiaan. Apakah Tuhan yang diyakini Mahakuasa membutuhkan pembelaan melalui pembunuhan?

Fanatisme muncul ketika seseorang menyamakan tafsir pribadinya dengan kehendak Tuhan, lalu menganggap siapa pun yang berbeda sebagai musuh yang boleh disingkirkan.

Padahal keyakinan yang mendalam seharusnya tidak menghilangkan kesadaran bahwa manusia dapat keliru memahami sesuatu, termasuk ketika menafsirkan ajaran agamanya sendiri.

Pembunuhan Paty juga tidak boleh dijadikan alasan menyalahkan seluruh umat Islam. Seorang ekstremis tidak mewakili jutaan manusia yang menjalankan agama secara damai.

Al-Quran, Surah Al-Ma’idah ayat 32, memuat pesan mengenai kesucian kehidupan manusia dan beratnya tindakan membunuh seseorang tanpa alasan yang dibenarkan.

Dalam perjalanan mempelajari berbagai tradisi spiritual, saya menemukan pelajaran yang terus berulang: iman yang mendalam semestinya memperbesar kerendahan hati.

Kita boleh meyakini agama sendiri sebagai kebenaran. Namun keyakinan tersebut tidak memberi hak kepada siapa pun untuk merampas kehidupan orang yang berbeda.

Ukuran kedalaman spiritual bukan seberapa keras seseorang mengecam penghinaan, melainkan seberapa jauh ia mampu mempertahankan kemanusiaan ketika keyakinannya dipersoalkan.

Agama kehilangan kebijaksanaan ketika cinta kepada Tuhan digunakan untuk membenarkan kebencian kepada manusia.

-000-

Apakah Kebebasan Boleh Melukai Perasaan Beragama?

Ada kontraargumen penting yang tidak boleh dihindari. Mengapa sekolah perlu memperlihatkan karikatur yang diketahui dapat melukai keyakinan sebagian murid?

Bukankah pendidikan semestinya membangun rasa hormat? Apakah kebebasan berpikir harus selalu diajarkan melalui gambar yang dianggap menghina sesuatu yang disucikan?

Pertanyaan tersebut sah. Kebebasan berekspresi bukan kekebalan terhadap kritik. Sesuatu yang diizinkan hukum tidak otomatis bijaksana dalam setiap situasi pendidikan.

Guru perlu mempertimbangkan usia murid, tujuan pembelajaran, dan sensitivitas keluarga. Kepekaan bukan kelemahan intelektual, melainkan bagian dari tanggung jawab mendidik.

Namun satu batas moral harus dipertahankan.

Ketidaksetujuan terhadap metode pengajaran tidak pernah memberi hak untuk menyebarkan fitnah, mengintimidasi, mengancam, apalagi membunuh seorang guru.

Seseorang boleh mengkritik karikatur. Ia boleh menolak penggunaannya di sekolah. Ia bahkan boleh mengorganisasi protes damai, selama menghormati hak pihak lain.

Yang tidak boleh adalah mengubah ketidaksepakatan menjadi alasan untuk mencabut keselamatan dan kehidupan manusia.

Jawaban terhadap gambar adalah kritik. Jawaban terhadap argumen adalah argumen. Ketika sebuah gagasan dijawab dengan pembunuhan, peradaban kehilangan dasar moralnya.

-000-

Indonesia: Melindungi Iman dan Kebebasan

Indonesia memiliki pengalaman sejarah dan keragaman agama yang berbeda dari Prancis. Namun pertanyaan tentang kebebasan, penghormatan keyakinan, dan hasutan tetap relevan.

Pancasila menempatkan Ketuhanan dan kemanusiaan sebagai nilai fundamental. Konstitusi menjamin kebebasan beragama sekaligus hak warga untuk menyampaikan pikiran.

Tetapi kedua prinsip tersebut sering menghadapi ketegangan ketika suatu ekspresi dinilai menyakiti keyakinan agama.

KUHP nasional yang berlaku sejak 2 Januari 2026 menghadirkan kerangka baru. Pasal 300, sebagaimana diubah melalui UU Nomor 1 Tahun 2026, mengatur tindakan permusuhan, pernyataan kebencian, dan hasutan atas dasar agama atau kepercayaan.

Perubahan itu menggeser objek pasal. Rumusan lama menyebut permusuhan “terhadap agama, kepercayaan orang lain”. Rumusan baru menyebut permusuhan “terhadap orang lain, golongan, atau kelompok atas dasar agama atau kepercayaan”.

Artinya, yang dilindungi adalah manusia yang diserang karena agamanya. Hukum melindungi manusia, bukan membuat doktrin kebal dari kritik.

Ayat baru juga menegaskan bahwa pernyataan yang objektif, terbatas untuk kalangan sendiri, atau bersifat ilmiah mengenai suatu agama bukan tindak pidana, selama menghindari kata-kata yang bersifat permusuhan atau hasutan.

Namun perubahan hukum belum tentu segera mengubah kebiasaan sosial.

Pada Januari 2026, komika Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke polisi karena materi pertunjukan Mens Rea dituduh menghasut dan menodai agama. Perdebatan mengenai batas ekspresi kembali mencuat.

Kasus tersebut tidak sama dengan pembunuhan Paty. Namun ia menunjukkan bagaimana ketersinggungan dapat bergerak dari ruang percakapan menuju ranah hukum.

Di sinilah Indonesia membutuhkan kejelasan moral dan hukum.

Kritik terhadap doktrin harus dibedakan dari serangan terhadap manusia. Ekspresi yang menyinggung perasaan harus dibedakan dari ancaman dan hasutan kekerasan.

Pembedaan tersebut melindungi dua kepentingan sekaligus: hak setiap warga untuk berkeyakinan dan hak setiap warga untuk berpikir secara merdeka.

Sekolah membutuhkan perlindungan bagi guru. Masyarakat membutuhkan literasi digital. Aparat perlu bertindak cepat ketika ancaman berubah menjadi risiko keselamatan yang nyata.

Namun tindakan negara juga harus proporsional. Dalih mencegah kebencian tidak boleh berubah menjadi alat membungkam perdebatan akademik, karya seni, ataupun kritik damai.

Pelajaran dari Samuel Paty bukanlah bahwa negara harus melarang semua ekspresi yang menyinggung perasaan.

Pelajarannya adalah bahwa negara harus melindungi manusia dari intimidasi, tanpa menyerahkan kebebasan berpikir kepada siapa pun yang paling keras menyatakan kemarahan.

Sebab masyarakat majemuk hanya dapat bertahan ketika warganya tidak dituntut memiliki keyakinan yang sama untuk saling melindungi.

-000-

Dua Buku untuk Memahami Tragedi Ini

Buku pertama: Les Derniers Jours de Samuel Paty: Enquête sur une tragédie qui aurait dû être évitée, Stéphane Simon, Plon, 2023.

Stéphane Simon menyelidiki rangkaian peristiwa menjelang pembunuhan Samuel Paty. Ia menelusuri kesaksian, dokumen, dan keputusan yang mengungkap bagaimana tekanan terhadap seorang guru berkembang menjadi tragedi.

Kekuatan buku ini terletak pada upayanya memahami peran berbagai pihak, dari penyebar tuduhan hingga lingkungan sekolah dan institusi negara.

Buku ini mengubah kesedihan menjadi pertanyaan kelembagaan. Bagaimana ancaman dikenali? Kapan perlindungan harus diberikan? Siapa bertanggung jawab ketika koordinasi gagal?

Pelajaran terpentingnya bukan bahwa negara harus mampu meramalkan semua kejahatan, melainkan bahwa tanda bahaya yang telah ditemukan harus ditanggapi secara sungguh-sungguh.

Buku kedua: The New Religious Intolerance: Overcoming the Politics of Fear in an Anxious Age, Martha C. Nussbaum, Belknap Press, 2012.

Melalui filsafat dan pengalaman demokrasi modern, Nussbaum membela kebebasan hati nurani serta penghormatan yang setara terhadap manusia dengan keyakinan berbeda.

Gagasannya membantu memahami tragedi Paty. Menentang ekstremisme tidak boleh berubah menjadi permusuhan terhadap seluruh Muslim, sebagaimana menghormati agama tidak boleh membenarkan kekerasan.

Demokrasi membutuhkan dua keberanian sekaligus: membela kebebasan berpikir dan melindungi martabat manusia. Keduanya harus hidup bersama, bukan saling meniadakan.

-000-

Jangan Biarkan Seorang Guru Mati untuk Kedua Kalinya

Enam tahun setelah pembunuhan itu, Forsaken mengembalikan Samuel Paty ke hadapan kita. Ia hadir bukan sekadar sebagai simbol kebebasan, melainkan sebagai manusia.

Ia seorang guru sejarah. Ia seorang ayah. Ia mempunyai keluarga, harapan, dan hari-hari biasa yang seharusnya masih dapat dilanjutkan.

Gabriel akan terus tumbuh. Ia mungkin semakin memahami sejarah yang merenggut ayahnya, tetapi tidak ada pengetahuan yang dapat sepenuhnya menggantikan kehilangan tersebut.

Sementara itu, masyarakat akan terus menghadapi pertanyaan yang sama. Apakah kita bersedia memeriksa kebenaran sebelum ikut menyebarkan tuduhan? Apakah kita berani melindungi orang yang sedang dijadikan sasaran kemarahan bersama?

Dari Rwanda hingga Prancis, sejarah memperlihatkan sesuatu yang mengerikan. Manusia lebih mudah melakukan kekejaman setelah diajarkan untuk tidak lagi melihat korbannya sebagai manusia.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa kebencian bukanlah takdir. Kebohongan dapat diperiksa. Ancaman dapat dihentikan. Manusia dapat memilih untuk tidak ikut membenci.

Kita mungkin tidak selalu mampu menghentikan seseorang yang berniat membunuh. Namun kita dapat menolak kebohongan yang membuat pembunuhan tampak dapat dibenarkan.

Sebab sebuah peradaban tidak hanya runtuh ketika seorang guru dibunuh. Ia mulai runtuh ketika kebencian dibiarkan menentukan siapa yang pantas hidup.

Jakarta, 7 November 2026

-000-

REFERENSI

1. Simon, Stéphane. Les Derniers Jours de Samuel Paty: Enquête sur une tragédie qui aurait dû être évitée. Plon, 2023.

2. Nussbaum, Martha C. The New Religious Intolerance: Overcoming the Politics of Fear in an Anxious Age. Belknap Press of Harvard University Press, 2012.

3. Gourevitch, Philip. We Wish to Inform You That Tomorrow We Will Be Killed with Our Families: Stories from Rwanda. Farrar, Straus and Giroux, 1998.

4. Festival de Cannes. L’Abandon (Forsaken). Official Selection, Out of Competition, 2026. [https://www.festival-cannes.com/en/f/l-abandon/](https://www.festival-cannes.com/en/f/l-abandon/)

5. Télérama. “Cannes 2026: L’Abandon, un récit rigoureux de l’assassinat de Samuel Paty malgré une terrible faute de goût.” 2026. [https://www.telerama.fr/cinema/cannes-2026-l-abandon-un-recit-rigoureux-de-l-assassinat-de-samuel-paty-malgre-une-terrible-faute-de-gout_cri-7044266.php](https://www.telerama.fr/cinema/cannes-2026-l-abandon-un-recit-rigoureux-de-l-assassinat-de-samuel-paty-malgre-une-terrible-faute-de-gout_cri-7044266.php)

6. Ville de Cannes. “1 000 collégiens cannois découvrent le film L’Abandon sur Samuel Paty.” Oktober 2026. [https://www.cannes.com/fr/index/actualites/annee-2026/octobre/collegiens-cannois-decouvrent-le-film-l-abandon-sur-samuel-paty.html](https://www.cannes.com/fr/index/actualites/annee-2026/octobre/collegiens-cannois-decouvrent-le-film-l-abandon-sur-samuel-paty.html)

7. Sénat français. Rapport d’activité 2020–2021 de la Délégation parlementaire au renseignement, n° 729, 1 Juli 2021. [https://www.senat.fr/rap/r20-729/r20-729.html](https://www.senat.fr/rap/r20-729/r20-729.html)

8. Sénat français. L’École de la République attaquée: agir pour éviter de nouveaux drames, n° 377, 5 Maret 2024. [https://www.senat.fr/rap/r23-377/r23-377.html](https://www.senat.fr/rap/r23-377/r23-377.html)

9. Le Monde. Laporan persidangan banding pembunuhan Samuel Paty, 3 dan 6 Maret 2026. [https://www.lemonde.fr/societe/article/2026/03/06/proces-en-appel-de-l-assassinat-de-samuel-paty-pourquoi-les-juges-ont-abandonne-l-infraction-terroriste-pour-les-deux-amis-du-tueur_6669739_3224.html](https://www.lemonde.fr/societe/article/2026/03/06/proces-en-appel-de-l-assassinat-de-samuel-paty-pourquoi-les-juges-ont-abandonne-l-infraction-terroriste-pour-les-deux-amis-du-tueur_6669739_3224.html)

10. International Criminal Tribunal for Rwanda. The Prosecutor v. Elizaphan and Gérard Ntakirutimana, ICTR-96-10 dan ICTR-96-17, putusan 21 Februari 2003.

11. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sebagaimana diubah melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

12. BBC News Indonesia. “Pandji komika dilaporkan: Komedi adalah ruang penghantar kritik.” 10 Januari 2026. [https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp9jyev8j7vo](https://www.bbc.com/indonesia/articles/cp9jyev8j7vo)

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1BogWqk5HY/?mibextid=wwXIfr