Minggu, 14 Juli 2024

Bagindo Togar : Pemikiran Terparah Jika Pilgub Sumsel 2024 Kursi Kosong

Bagindo Togar : Pemikiran Terparah Jika Pilgub Sumsel 2024 Kursi Kosong

Palembang,  mediasumatera.id – Panggung politik di kompetisi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Selatan (Sumsel) 2024 digosipkan nantinya terselenggara hanya oleh calon tunggal versus kursi kosong.

Pengamat Politik Sumsel Bagindo Togar Butar Butar mengatakan itu hanya isu yang diklaim salah satu bakal calon (balon) seakan lawan lainnya tidak mencalonkan diri.

“Adanya isu kursi kosong halusinasi terparah di Pilgub Sumsel 2024,” kata dia Selasa, 25 Juni 2024.

Dia menilai kompetisi Pilgub 2024 tetap diprediksikan olehnya berlangsung dengan tiga paslon kontestan yang bertarung di gelanggang politik.

Disebutkannya nama paslon yang akan bersaing adalah Herman Deru-Cik Ujang (HDCU), Mawardi Yahya-Anita Noeringhati (Matahati) dan Heri Amalindo-Popp Ali (Hapal).

Dituturkannya kalau ada salah satu paslon menyebutkan dirinya akan melawan kotak kosong itu benar-benar halusinasi terparah.

“Paslon HDCU benar-benar halusinasinya lebih parah dari paslon lain. Berpikir bertarung sendiri calon tunggal melawan kotak kosong. Tidak mungkin Pilgub 2024 tetap saya perkirakan 3 kontestan setidaknya 2 kontestan tidak mungkin akan ada hanya 1 calon tunggal melawan kotak kosong,” tegasnya.

Diungkapkannya ketiga paslon semuanya melakukan halusinasi di Pilgub 2024. Halusinasi mereka berpikir bisa menang tanpa harus masuk gelanggang di kompetisi Pilgub 2024.

Bagindo Togar Butar Butar mengungkap halusinasi ketiga paslon di Pilgub 2024 mulai dari paslon HDCU, paslon Matahati dan paslon Hapal. Pertama halusinasi terparah kursi kosong dari pasangan HDCU yang sudah dibahasnya tadi.

“Selanjutnya kedua halusinasi paslon Matahati berpikir bisa menang mudah di Pilgub 2024. Karena berpikir kemenangan mudah Prabowo di Sumsel sama seperti mereka nantinya di PIlgub 2024. Jadi berpikir semua paslon lain tidak akan bisa menang melawannya. Berpikir bisa menang mudah itu jelas halusinasi. Prabowo menang di Pilpres bukan karena efek daerah di Sumsel tetapi faktor politik ekor jas,” tegasnya.

Baca Juga :  GOLKAR DAN PSI BEREBUT “EFEK JOKOWI?”

Dilanjutkannya halusinasi ketiga dari paslon Hapal yang berpikir akan ada perpecahan di tubuh Golkar saat memberikan rekomendasi tiket ke Pilgub Sumsel 2024. Lalu memberikan rekomendasi kepada mereka dan berikutnya paslon saingannya yang selanjutnya akan terganjal kasus hukum.

“Itu tidak mungkin terjadi karena keputusan semua ditentukan oleh pusat bukan di daerah yang mampu membuat rekomendasi bisa terpecah dua. Prabowo dan Airlangga tentunya hanya akan memilih satu pasangan calon plus pendamping calon tidak mungkin tiba-tiba terpecah dan Golkar memberikan dukungan dua paslon. Lalu untuk HDCU mereka berharap terganjal kasus hukum KONI dan Ijazah palsu itu halusinasi dari paslon Hapal,” jelasnya lagi.

Setelah memaparkan itu dia sangat kecewa seakan-akan para kontestan ingin menang tanpa harus bertarung masuk ke gelanggang. Padahal Bagindo Togar Butar Butar berharap Pilgub rasa Pilpres namun dengan kondisi halusinasi ini menjadi Pilgub rasa Pilkades.

“Tanpa bertarung di gelanggang tidak legitimasi produk pemilu itu! Awalnya saya pikir Pilgub Sumsel 2024 akan seru pernah saya sebutkan Pilgub rasa Pilpres. Kalau seperti ini Pilgub rasa Pilkades,” pungkasnya.